
Jusuf Kalla, akhirnya mengungkapkan kesediaannya untuk maju dalam bursa calon Presiden dari partai Golkar dalam Pemilu Presiden mendatang. Meski penabalannya secara resmi baru akan dilakukan setelah Pemilu Legislatif, tapi hampir bisa dipastikan Jusuf Kalla akan berhadapan dengan Megawati dan SBY dalam perebutan kursi kepresidenan. Maka, ketiga tokoh inilah yang nantinya akan mengisi kertas suara dalam Pemilu Presiden sekaligus menutup peluang tokoh lain untuk ikut bertarung. Keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak calon Presiden dari kalangan independent dan pencalonan Presiden yang hanya boleh dari partai yang mampu meraih suara minimal 20 persen dari total pemilih, yang menjadi alasannya.
Keputusan Jusuf Kalla yang menerima desakan pengurus daerah untuk maju dalam bursa capres, tentu, berdampak pada peta politik nasional. Bagaimanapun, keputusan JK itu terbilang mengejutkan banyak pihak. Selama ini, JK justru tampak ‘mesra’ dengan SBY dan karenanya duet ini di perkirakan akan tetap menjadi calon kuat dalam Pilpres mendatang. Meski hubungan keduanya sempat ‘panas’ akibat statement dari wakil ketua umum partai Demokrat, Achmad Mubarok, tentang suara Golkar yang hanya 2,5 persen, belakangan hubungan tersebut kembali baik. SBY langsung turun tangan mengklarifikasi dan menyatakan persoalan tersebut selesai.
Namun harus di akui, pernyataan salah satu petinggi Partai Demokrat itu menjadi titik kulminasi dari kekesalan Golkar dengan perlakuan yang mereka terima selama ini. Golkar yang menjadi mitra utama pemerintah seolah menjadi bumper ketika pemerintah menghadapi persoalan pelik dalam hal politik dan ekonomi. Salah satunya adalah terhadap kebijakan kenaikan harga BBM selama pemerintahan SBY – JK. Namun Golkar merasa di tinggalkan ketika Partai Demokrat mengklaim berbagai keberhasilan pemerintahan SBY – JK. Ini terlihat dengan banyaknya iklan2 Demokrat di media TV. Beberapa elit Golkar, khususnya faksi Surya Paloh, tampaknya juga sudah lama ingin menceraikan JK dari SBY dengan kondisi tersebut. Namun semua kegerahan beberapa petinggi Golkar seolah menghadapi jalan buntu karena JK masih belum merestuinya.
Pernyataan JK yang bersedia di calonkan itu sesungguhnya hanyalah persoalan momentum saja. Kalaupun ia selama ini masih enggan maju sebagai capres, itu tak lebih hanya menjaga hubungan baik dengan SBY dalam menjalankan roda pemerintahan. JK lebih menjaga fatsoen politik, menyelamatkan kepentingan lebih besar, yakni membuat pemerintahan tetap solid hingga akhir masa jabatan. Namun, desakan dari pengurus daerah dan elit partai di tambah konstelasi politik di internal partai Golkar, membuat JK akhirnya tak kuasa menghindar.
Satu hal lain yang menjadi alasan JK adalah menjaga keutuhan partai golkar dari pengaruh luar yang terus berusaha memecah kesatuan Golkar. Tak bisa di pungkiri, beberapa tokoh Golkar masih berharap mendapat peluang menjadi capres dari partai beringin ini. Sebut saja Sri Sultan Hamengkubuwono dan Akbar Tanjung. Kondisi partai Golkar yang bisa dikatakan gamang tersebut itu juga di manfaatkan oleh partai lain untuk berusaha memecah belah. Tokoh-tokoh partai Golkar bisa saja di lirik dan di rangkul oleh partai lain untuk menjadi capres atau bisa juga cawapres. PDIP adalah salah satu partai yang berusaha menarik suara Golkar dalam pemilu presiden mendatang. Sadar akan kondisi tersebut, JK tampaknya memang lebih baik mendaklarasikan sejak awal, tanpa harus menanti hasil Pemilu Legislatif lebih dulu.
Meski JK menyatakan bahwa kesediaanya dirinya maju sebagai capres tak akan mempengaruhi hubungan dan kerja dalam pemerintahan, khususnya dengan SBY, tapi tak bisa di hindari hal ini berdampak pada pemerintahan. Secara psikologis, sangat sulit rasanya lari dari rasa canggung ketika teman satu tim kita justru kelak menjadi musuh. Sulit rasanya menjaga kekompakan tatkala teman sendiri di sadari nantinya justru menjadi pesaing untuk merebut kursi yang sama-sama di inginkan.
Persoalan timbul ketika misalnya salah satu dari SBY atau JK melakukan aktivitas kunjungan ke daerah. Masing-masing mengklaim bahwa keberhasilan kerja di bidang tertentu merupakan kerja keras satu pihak, sementara di seberang sana, pihak lain juga mengklaimnya. Sulit rasanya membayangkan ketika sebuah kebijakan strategis yang menyangkut kepentingan rakyat mengharuskan mereka bertemu dan kemudian menghasilkan sebuah keputusan.
Dalam keseharian pemerintahan di cabinet, sulit rasanya menghindari tampilnya blog SBY dan blog JK. Padahal isu ini saja sudah hangat ketika keduanya masih belum menyatakan akan bertarung dalam Pilpres mendatang. Sulit pula rasanya membayangkan ketika kampanye, SBY – JK berada di posisi berbeda dan tidak terjadi saling sindir dan ejek, untuk menjatuhkan saingannya. Secara praktis, kondisi-kondisi ini tampaknya akan terus mewarnai, meski JK dan SBY telah sama-sama menyatakan bahwa mereka akan tetap solid dan menjaga etika demokrasi sampai pemerintahannya usai.
Memang, harus di akui, penilaian ini masihlah terlaku dini. Politik, bukanlah perkara matematis yang semuanya bisa di perhitungkan dan di prediksikan secara sederhana. Banyak factor yang tentu saja bisa merubah lagi konstelasi politik nasional, khususnya peta persaingan menuju kursi RI1.
Misalnya, bisa saja JK terjungkal dalam hasil akhir survey internal Golkar dan justru muncul kader golkar lainnya untuk maju dalam Pilpres. Apalagi, bila survey berlangsung secara jujur dan transparan, rasa-rasanya suara untuk JK akan bersaing ketat dan bukan tak mungkin malah bisa di kalahkan oleh Sri Sultan, Akbar Tanjung, Surya Paloh atau kader Golkar lainnya. Bukan tak mungkin pula, desakan dari pengurus daerah agar JK maju dalam peta persaingan capres adalah jebakan politik, untuk satu missi tertentu. Misalnya saja untuk memunculkan satu tokoh yang telah di plot maju dalam Pipres.
Atau, jebakan itu di buat untuk menaikkan nilai tawar partai golkar dan elit partai golkar di hadapan dua capres kuat, yakni SBY dan Megawati. Sadar bahwa tidak ada tokoh golkar yang kuat dan popular saat ini, rasanya akan lebih aman jika Golkar tetap bermain di level kursi wakil Presiden. Ketegasan dari partai peminang, baik PDIP maupun Demokrat, di harapkan akan segera muncul setelah scenario pemunculan JK sebagai Capres di gulirkan. Entahlah.. namanya juga politik.

