Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

13 Maret 2009

KOALISI NGALUR NGIDUL (BAG 4)

Maka, pertarungan di Pilpres menjadi sangat menarik dan seru. Jusuf Kalla di dukung oleh mayoritas partai Islam dan menjadi salah satu tema yang dijual dalam setiap kampanye. Jusuf Kalla menjual keberhasilannya dalam pemerintahan semasa menjabat sebagai Wapres dan di tambah selingan kritik-kritik ringan kepada SBY, dengan penonjolan slogan JK mampu lebih cepat, lebih baik dan lebih terarah di banding SBY. Sementara SBY menjual keberhasilan dalam pemerintahaannya dan berjanji akan memantapkannya dalam pemerintahan selanjutnya jika kembali terpilih. Penekanan SBY ada pada kebijakan ekonomi pro rakyat, seperti penurunan harga BBM, pemberian kredit lunak bagi rakyat ala PNPM Mandiri, program kesehatan, pendidikan gratis, pemberantasan korupsi dan stabilitas politik dan keamanan yang relative terjaga selama ia berkuasa.

Bagaimana dengan Megawati? Jauh sebelum kampanye, Mega telah melontarkan janji berupa harga sembako yang murah untuk rakyat, pemberian lapangan pekerjaan dan kebijakan yang pro pada pertanian. Mega merupakan satu-satunya capres yang punya ruang luas untuk mengkritik berbagai kebijakan pemerintahan SBY-JK, dan karena itu menjadi satu-satunya capres yang mempu menawarkan program perubahan hidup bagi rakyat. Tapi pertanyaannya, efektifkah berbagai janji kampanye itu bagi rakyat yang akan memilih.

Jelas berpengaruh, tapi hanya sedikit. Yang paling dominan berperan ada dalam alam pikiran rakyat pemilih, khususnya rakyat kebanyakan, adalah citra dari capres itu sendiri. Jusuf Kalla telah tercipta sebagai sosok pembantu presiden yang baik di bawah SBY. Jusuf Kalla, dengan penampilan fisik yang kecil dan cendrung tampil apa adanya, menjadi sosok yang kurang mengena di hati rakyat untuk duduk di kursi Presiden. Meski punya tim kampanye yang solid dengan dukungan partai yang solid pula, tapi JK memang terlahir tak lebih dari kapasitasnya sebagai seorang wakil Presiden. Kemampuan besar JK sebagai seorang yang cepat dalam mengambil keputusan, negosiator handal dan sederhana,tertutupi dengan citra yang terlanjur menempel di alam sadar pemilih kebanyakan.

Megawati, harus di akui punya potensi besar meraup suara dari kalangan marhaen, rakyat kecil dan kalangan yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemerintahan SBY JK. Megawati memberikan harapan baru, termasuk kehadiran Akbar Tanjung yang sangat menjual bagi kalangan pemilih di Sumatera dan pemilih yang merindukan kenyamanan dan “kesejahteraan” di era Orde Baru. Tapi tak dapat di pungkiri pula, Megawati bukanlah orang baru yang lantas bisa memberikan harapan baru. ia pernah menjadi Presiden dan itu seolah menjadi kartu truf yang sulit di tutupi faktanya. Berbagai janji manis seolah tak mampu menjawab keinginan bagi banyak pemilih. Orang terlanjur melihat Mega ke belakang, bagaimana dan apa yang telah di berikannya selama ia memimpin. Tak ada perubahan berarti bagi Negara, dan yang ada malah, seperti yang di kampanyekan banyak lawan politiknya, berkurangnya asset bangsa karena asset negara yang di jual selama ia memerintah. Mega lumayan mendapat limpahan suara dari pecahan simpatisan Golkar yang lebih menyukai Akbar Tanjung. Namun hal itu masih belum mampu membawanya menjadi jawara.

Susilo Bambang Yudhoyono, tercitra sebagai seorang yang berwibawa, sosok yang menjadi dambaan bila tampil di layar televisi dan memancarkan aroma kebanggaan di mata rakyat pemilih tradisional. Keberhasilan mengkampanyekan program pemerintahannya termasuk menjadi nilai plus yang ia raih di mata pemilih. Meski demikian, berbagai sisi negative dalam pemerintahannya juga tak mampu di simpan begitu saja. Tapi pemilih bangsa ini kebanyakan adalah orang yang pelupa dan hanya ingat yang baiknya saja. Benar-benar bangsa yang baik dan pemaaf ya… Sosok SBY tetaplah menjadi dambaan, di tambah dengan janji-janji manis tak akan lagi berkuasa dalam Pemilu selanjutnya, karena memang tak di mungkinkan dalam konstitusi.

Alhasil, Pilpres berlangsung hanya dalam satu putaran, dengan kemenangan SBY yang begitu dominan. SBY mampu mengungguli suara di pulau Jawa, khususnya Jawa Timur dan Jawa Barat, Jakarta, sebagian besar Sumatera dan Sulawesi. Putra pacitan yang berpasangan dengan ekonom, Sri Mulyani itu meraup suara sekitar 42 persen. Jauh mengungguli urutan kedua yang di tempati Megawati dengan perolehan suara 34 persen. Jusuf Kalla, meski sebelumnya sempat menjadi calon kuat dan di dukung basis massa dari partai yang loyal, hanya mampu meraih suara 24 persen. Fakta ini kembali memperlihatkan bahwa dukungan partai bukanlah menjadi factor dominan, karena sesungguhnya yang di jual adalah sosok capres itu sendiri.

Maka berakhirlah rangkaian penerawangan dalam tema koalisi ngalur ngidul ini. Jangan terlalu serius membacanya karena ini hanyalah cermin dari politik Indonesia yang memang tak berbentuk, sulit di tebak dan memusingkan para teoritikus (katanya sih..) Maka jangan heran, ketika anda membaca tulisan asal ini, realitanya ternyata sudah jauh berbeda. He he…

0 komentar: