Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

12 Maret 2009

KOALISI NGALUR NGIDUL (BAG 3)

Sebelum ngobrolin tentang siapa yang paling berpeluang memenangkan pertarungan di Pilpres, kita lihat dulu peta perolehan suara dalam Pemilu legislative. Dari hasil penerawangan non ilmiah, tak ada satupun partai yang memperoleh suara dominan. Tiga partai teratas memperoleh suara yang beda-beda tipis, yakni dengan urutan : Partai Demokrat, PDIP dan Partai Golkar. Ketiga partai inilah yang punya modal suara cukup untuk unjuk gigi dalam Pilpres. Kehadiran Demokrat tentu saja sebuah prestasi baru, meski sebelumnya sudah dapat di prediksi dari hasil survey berbagai lembaga survey. Bahkan partai dengan lambang marcedez ini mampu menjadi jawara, karena terbantu dengan semakin tingginya pencapaian pemerintahan SBY di mata pemilih.

Partai Demokrat, meski dengan sumber daya calon legislative yang masih kalah jauh berkwalitas di banding Golkar dan PKS, berhasil meraih suara hingga 18 persen. Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, masih menjadi tambang bagi partai SBY ini. Di tambah dengan perolehan suara di pulau Sumatera tentunya. Kemenangan Demokrat hanya unggul tipis di banding dengan perolehan suara PDI Perjuangan yang meraih 17 persen suara. Sama seperti Demokrat, pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah menjadi andalan bagi partai ini, di tambah dengan suara dari Indonesia bagian Timur. Sementara sang juara bertahan, Golkar, harus puas mendapat suara 15 persen. Anjloknya suara Golkar sebanding lurus dengan banyaknya kekalahan kader partai ini dalam beberapa Pilkada di Indonesia. Tambang suara partai ini masih mengandalkan suara di Jawa Barat, Sumatera dan Kalimantan dan Sulawesi.

Dengan perhitungan kasar alias rata-rata, partai di urutan selanjutnya adalah PKS, PPP, PAN dan PKB. Tak jauh berbeda memang dengan hasil Pemilu 2004. Partai menengah masih di isi dengan wajah-wajah lama. Bedanya hanya terdapat pada urutan yang di tempati PKS, di mana partai ini menyisihkan PPP dalam peroleh suara. Meski demikian, perolehan PKS masih jauh dari target yang telah di tentukan. Partai berbasis Islam ini memperoleh 8 persen, PPP 7 persen, PAN, 6,5 persen dan PKB 6 persen.
Hasil itu menggambarkan bahwa PAN tak beranjak jauh, dan malah cendrung menurun perolehan suaranya di banding Pemilu 2004. Penempatan banyak caleg artis ternyata tak berpengaruh banyak terhadap perolehan suara matahari bersinar itu. Sementara PKB juga mengalami penurunan suara akibat perpecahan warga Nadhliyin setelah tersingkirnya Gus Dur dari partai itu. Penurunan PKB justru di manfaatkan oleh Partai Kebangkitan Nahdatul Ulama (PKNU) yang berhasil mencuri suara di beberapa basis PKB, khususnya di Jawa Timur.

Partai baru yang berhasil menyodok ke sepuluh besar adalah Partai Gerindra dan Hanura. Gerindra berada di urutan ke delapan dengan perolehan suara 5,5 persen. Sementara partainya Wiranto berada di urutan di bawahnya dengan jumlah suara 4 persen. Partai-partai yang memperoleh 2 persen suara dan sekitarnya adalah PBB, PKP, PDS dan PBR. Partai baru lain yang memperoleh suara signifikan, sekitaran 1 persen adalah Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP), PKNU, PPRN dan Partai Matahari Bangsa (PMB).

Bila mengacu dari perolahan suara di Pemilu legislative tersebut, tampak bahwa potensi kekuatan suara capres Jusuf Kalla dan SBY dalam posisi yang nyaris berimbang, yakni sekitar 32 persen. Sementara Megawati ada di bawahnya, yakni sekitar 30,5 persen suara. Tapi itu adalah perolehan suara di Pemilu Legislatif yang tentu saja akan berbeda hasilnya dengan pemilihan Presiden. Nilai jual Pilpres ada pada sosok atau figure capres, sementara Pemilu legislative ada pada sosok caleg itu sendiri dan citra partai. Alhasil, perolehan suara di Pemilu legislative, sesungguhnya hanyalah bermakna untuk legitimasi dalam pencalonan capres agar memenuhi ketentuan Undang-Undang yang mensyaratkan suara minimal 25 persen suara dalam Pemilu Legislatif atau 20 persen perolehan kursi di DPR RI.

0 komentar: