Sekarang menapak ke yang selanjutnya. Siapakah mitra koalisi partai Demokrat yang kembali mengusung SBY. Di detik-detik akhir, Demokrat akhirnya menjalin koalisi dengan PKB dan PAN. Detik-detik terakhir, kok bisa? Ya. Karena partai ini juga sedikit kesulitan mencari mitra koalisi. Sebagai incumbent, Demokrat dari awal memang miskin berkomunikasi dengan partai lain untuk mencari mitra koalisi. Bahkan sempat di cap sombong karena dinilai terlalu percaya diri mengusung SBY sendirian. Namun posisi SBY yang menjabat sebagai Presiden memang menjadi beban tersendiri untuk menjalin pertemanan dengan partai lain.
Trauma dengan kondisi koalisi yang tercipta selama pemerintahannya, membuat SBY sangat berhati-hati menentukan mitra koalisi yang akan membantu pemerintahannya kelak. Pengalaman selama ini cukup menjadi pelajaran. Bagaiamana koalisi gemuk yang di gagasnya ternyata justru banyak menjadi batu sandungan dalam efektifitas pemerintahannya. Selama ia menjabat, hanya partai Golkar yang dinilai sedikit konsisten mendukung kebijakan pemerintahannya. Partai lainnya, dinilai lebih pragmatis dan bermuka dua. Keberadaan tokoh-tokoh partai di cabinet SBY – JK ternyata tak cukup ampuh meredam tekanan politik di parlemen terhadap pemerintahaannya. PKS, PKB, PAN, PPP dan PBB, meski sejatinya menjadi mitra koalisi dalam pemerintahan SBY JK, 2004 – 2009, ternyata tak mampu mengawal berbagai kebijakan pemerintah di parlemen.
Sebenarnya, SBY berharap besar koalisi dengan JK terus berlanjut. Namun karena JK terperangkap dan di tekan oleh internal Golkar untuk maju menjadi capres, maka tak ada pilihan lain bagi SBY. Pilihan akhir akhirnya jatuh pada PKB dan PAN. PKB pasca Gus Dur, harus di akui lebih jinak dengan SBY. Sementara PAN tetap mau menjalin koalisi dengan Demokrat tak lebih karena posisinya lebih aman dari pada berkoalisi dengan dua calon lainnya. Nafsu besar Sutrisno Bachir untuk maju menjadi capres hanya tinggal impian karena suara PAN di Pemilu 2009 tak lebih dari 7 persen saja. Maka, untuk amannya, dicari mitra koalisi yang kemungkinan menangnya besar. Keberadaan Hatta Radjasa dan Bambang Sudibyo memuluskan koalisi itu.
Koalisi dengan PKS, SBY tak sudi. SBY sudah kenyang pengalaman dengan partai yang satu ini, yang dinilainya paling membangkang dari partai lainnya, meski tergabung dalam pemerintahan. Karena itu, SBY tak berkeinginan sama sekali menjalin mitra dengan partai Islam yang satu ini. Begitu juga dengan PPP dan PBB. Dua partai ini juga dinilai bermuka dua, khususnya PPP yang di akhir masa pemerintahan terus saja mengusik SBY dengan kritik-kritiknya. Mitra koalisi lain partai Demokrat adalah Partai Keadilan Persatuan (PKP) yang tetap konsisten mendukung dari Pemilu Presiden 2004 lalu.
Lalu, siapa pula pendampingnya SBY untuk maju dalam Pilpres? Mmhh.. pilihan yang sulit.
Yang pasti bukanlah figur dari partai pendukungnya, melainkan dari kalangan professional. Ia adalah Sri Mulyani yang dalam pemerintahan SBY menjadi pelaksana Menko Ekuin dan menteri Keuangan. Karena sulitnya mencari figure dari kalangan partai, SBY akhirnya mengambil jalan tengah ini, meski awalnya sempat mendapat tentangan dari internal demokrat dan mitra koalisinya. SBY sengaja memilih Sri Mulyani, selain karena ia tidak partisan, Sri Mulyani di nilai juga punya kapasitas yang cukup mumpuni untuk mengurus Negara. Ia juga berpotensi mendulang suara dari kaum perempuan, memecah suara Megawati. SBY tak mau berpusing dengan figure dari kalangan parpol, karena di anggap hanya merepotkan dan lebih berorientasi politik, ketimbang memikirkan Negara. Karena itu, dalam pemerintahannya kelak, SBY juga bakal lebih banyak mengisi kabinetnya dari kalangan professional.
Bagi SBY, jatahnya memerintah hanya untuk satu periode. Karena itu, ia tidak punya beban untuk mengambil muka alias mencari simpati demi popularitas di hadapan partai dan di hadapan rakyat. Ia murni bekerja demi Negara, karena tokh pada akhirnya rakyat yang menentukan dan merasakan. Begitulah kira-kira logika sederhana SBY. Mhh.. akhirnya berani untuk tidak popular juga tuh orang..
Lanjut. Sekarang yang ketiga. Mitra koalisi Partai Golkar yang mengusung ketua umumnya Jusuf Kalla sebagai calon Presiden adalah Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Golkar terbilang sangat lincah dan paling aktif menjalin komunikasi dengan partai lain untuk berkoalisi. Jusuf Kalla juga tak menemui banyak hambatan dalam mencari teman untuk berkoalisi. Jusuf Kalla dinilai sebagai calon alternative selain dua calon lain yang sudah mendeklarasikan diri sejak awal, yakni Megawati dan SBY. Dengan dukungan partai-partai Islam, PPP, PKS, dan PBB, Jusuf Kalla merupakan calon kuat dan punya basis suara yang besar, bila melihat perolehan suara di Pemilu Legislatif. Karenanya, ia menjadi ancaman besar bagi SBY. Teman yang menjadi musuh. Begitulah kira-kira sebutan yang pas buat SBY dan JK yang sama-sama maju dalam bursa capres.
Siapakah calon wakil Presiden yang menjadi pendamping JK. PPP dan PKS, sama-sama berkeinginan menempatkan kadernya menjadi orang nomor dua. Namun akhirnya kompromi di peroleh. PKS kebagian kursi wapres, dan PPP akan di tempatkan beberapa kursi di cabinet. PBB tau diri sajalah. Begitulah politik dagang sapi yang terjadi. Pertanyaannya, siapakah kader PKS yang duduk sebagai calon wakil Presiden. Seperti yang sudah di dengung-dengungkan sejak awal, Hidayat Nur Wahid lah orangnya. Mantan Presiden PKS dan ketua MPR ini menjadi unggulan di internal PKS. Maka, duet JK – HNW menjadi duet yang dinilai pas dan komplit.
3 pasangan capres dan cawapres yang seru dan ideal inilah yang akhirnya bertarung dalam Pilpres 2009. Siapakah yang berpeluang menang? Ikuti terus jalan ceritanya…
11 Maret 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar