Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

10 Maret 2009

KOALISI NGALUR NGIDUL (BAG 1)

Sekarang mari kita menerka-nerka peta koalisi yang akan terjadi dalam Pemilu Pilpres mendatang. Namanya juga menerka-nerka, bisa benar bisa tidak. Prediksi ini juga di buat sesuka dan semau hati. Jadi jangan pusing memikirkannya. Namanya juga penilaian subjektif. Jadi persentase kebenarannya hanya kecil. Tapi kan politik Indonesia memang aneh. Sulit di tebak. Buktinya prediksi para pengamat banyak yang meleset. Nah.. karena itu, siapa tahu pula prediksi di tulisan asal ini malah tepat. He he…

Pertama, siapa saja calon Presiden yang akan bersaing. Kemungkinan besar hanya di ikuti tiga pasang calon. Maklum, Undang-Undang hasil rekayasa partai besar itu memang tak memungkinkan banyak orang bisa bersaing menuju kursi Istana. Kasihan kan, bangsa sebesar ini sedikit memberi kesempatan kepada rakyatnya untuk berkompetisi menjadi Presiden.

Siapa saja ketiga calon itu. Pertama, gampang di tebak, adalah Megawati Sukarno Putri mewakili partai PDI Perjuangan. Kedua, masih gampang di tebak, tak lain adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Siapa satu lagi. Ya.. calon alternative itu tak lain adalah Jusuf Kalla yang berani bercerai dengan SBY mewakili Partai Golkar.

Lantas, siapa calon wakil Presiden yang bakal mendampingi ketiganya. Nah, ini yang sedikit susah. Tapi di buat gampang aja. Dari PDIP, proses penjaringan calon wakil presidennya memang berjalan sangat alot. Maklum, keinginan untuk berkoalisi dengan Partai Golkar tidak terwujud karena partai beringin juga mengincar kursi nomor satu di Negara ini. Keinginan untuk menjadikan Sri Sultan untuk menjadi pendamping Megawati juga tak kesampaian. Sri Sultan tak sudi menerima pinangan moncong putih karena tak mau menurunkan nilai tawarnya menjadi wakil Presiden. Sejak pendeklarasiannya, Sri Sultan konsisten ingin menjadi Presiden. Kengototannya itu tak lain untuk menjaga gengsi saja. Malu dong, raja Jawa harus menjadi orang nomor dua. Itu bisa berarti juga menjilat ludah sendiri. Menjaga marwah jauh lebih baik dari pada Sri Sultan malu karena di nilai hanya mengejar kekuasaan belaka.

PDIP memang partai yang sulit menjalin koalisi dengan partai lain mengingat nilai jual Megawati yang kian rendah. Karena itu, tak heran, hanya partai-partai menengah ke bawah yang sudi berkoalisi dengan partai ini. Katakanlah misalnya Partai Bintang reformasi, Gerindra, Partai Hanura dan sederet partai-partai kecil lainnya. Partai-partai lain yang level menengah ternyata lebih mau berkoalisi dengan calon presiden lainnya. Karena itu pula, penentuan calon wakil presiden yang mendampingi Megawati ibarat mendaki jalan yang terjal.

Meski berkoalisi dengan Partai Hanura dan Gerindra yang sebelumnya sempat di jadikan kuda hitam, termasuk tokoh-tokoh di belakangnya, seperti Wiranto dan Prabowo, namun kedua partai ini tak mau menempatkan tokoh panutannya itu mendampingi Megawati. Maklum saja, Prabowo dan Wiranto, sama seperti Sri Sultan, tak mau menurunkan targetnya menjadi wakil Presiden. Wiranto jelas-jelas tak mau karena menjadi wakil Mega sama dengan membuat malu dirinya sendiri. Mosok bekas calon presiden, mencalonkan diri menjadi calon wakil Presiden. Karir politik Wiranto habis sudah. Namun partainya mau berkoalisi dengan PDIP, karena di nilai masih lebih aman dan tingkat resistensinya pun rendah. Ia tak mau menjalinnya dengan partai Golkar karena trauma di kibuli seperti yang terjadi di Pemilu 2004. Saat menjadi calon Presiden dalam konvensi partai golkar di Pemilu 2004 itu, ia merasa tak di dukung penuh oleh elit partai. Apalagi Jusuf Kalla juga pernah menjadi musuh politiknya dalam konvensi itu.

Bagaimana dengan Gerindra?. Ia mau menitipkan koalisi dengan partai ini karena punya alasan yang hampir sama dengan Hanura. Tapi tak mau menjadikan tokohnya, Prabowo sebagai calon wakil presiden, karena terlalu rendah baginya. Bagi partai baru ini, Pemilu 2009 ini adalah bagian dari uji coba untuk mengukur kekuatan partai. Targetnya adalah pemilu 2014. Karena itu, Prabowo baru bertarung all out dalam Pemilu selanjutnya.

So, siapa dong yang menjadi wakilnya Mega dalam Pilpres mendatang???. Akhirnya adalah seorang Akbar Tanjung. Aneh kan.. itulah politik Indonesia. Memang serba aneh. Tapi pemilihan Akbar memang tak asal pilih, alias berdasarkan kalkulasi politik yang matang juga. Akbar di nilai masih punya kekuatan politik yang lumayan. Ia mewakili orang dari luar jawa, alias dari Sumatera yang punya massa pemilih terbesar kedua setelah pulau Jawa. Ia mantan ketua umum Golkar yang masih punya pengikut militant, baik di internal golkar maupun di akar rumput, khususnya di sekitar kawasan kelahirannya, Sumatera utara.

Setelah gagal dalam penjaringan calon presiden di partai Golkar, alias kalah dari Jusuf Kalla, Akbar Tanjung banting setir mencari mitra koalisi. NIat bergandengan dengan SBY tak tercapai, maka Megawati yang menjadi sasaran selanjutnya. Ternyata berhasil. PDIP berkeyakinan Akbar punya potensi kuat untuk memenangkan Megawati menjadi Presiden. Agaknya PDIP belajar pengalaman dari kemenangan SBY saat menggandeng Jusuf Kalla yang dari Golkar dalam Pemilu 2004. Kehadiran Akbar, di harapkan, bisa memecah suara partai beringin sekaligus mencuri suara di pulau Sumatera. Sebuah pilihan yang masuk akal dan penuh dengan perhitungan pasti. He he serius lo..Apalagi sosok Akbar bisa di terima oleh partai-partai lain mitra koalisi PDIP.

0 komentar: