Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

02 Februari 2009

ABS (ASAL BUKAN S…)


Pernyataan Presiden SBY tentang adanya Jenderal Angkatan Darat yang bergabung dalam tim sukses salah satu calon Presiden dan isu ABS (Asal bukan Presiden S…) menimbulkan pro kontra. SBY berharap bahwa TNI Polri tetaplah harus netral dalam Pemilu, baik legislatif dan juga presiden. Bagi banyak politisi dengan pengamat, pernyataan SBY ini di nilai tidaklah arif dan bisa memicu konflik. SBY di anggap juga panic karena mengeluarkan pernyataan yang tidak berdasar dan hanya bersumber dari isu yang tidak jelas. Apalagi pernyataan ini dilontarkan di depan public dan pers.

Lantas, sebodoh itukah SBY dalam mengeluarkan pernyataan? Jawabnya tidak. SBY bukanlah anak kemarin sore yang bisa sembarangan mengeluarkan pernyataan tidak berdasar dan punya dampak politis yang luas. Apalagi, selama ini, SBY justru seringkali terlihat hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Lalu, kepada siapakah tuduhan itu sebenarnya di alamatkan? Tentu akan sulit untuk menjawabnya. Yang pasti, tidak mungkin SBY mengeluarkan pernyataan jika itu tidak factual atau juga tidak punya maksud, apalagi di sampaikan di depan umum sehingga dengan mudah di kutip oleh pers.

Pemilu presiden mendatang, sama seperti pemilu presiden 2004, akan di warnai oleh kehadiran tokoh-tokoh militer yang akan bertarung memperebutkan kursi RI1. Selain SBY, nama Wiranto, Prabowo, Sutiyoso dan Slamet Subiyanto adalah beberapa nama lainnya. Dari keempatnya, hanya Sutiyoso dan Slamet Subiyanto yang berawalan S. Di luar tokoh militer, ada nama Sri Sultan yang juga berawalan S. Kalaulah, inisial S ini dialamatkan pada tokoh militer, dan itu adalah Sutiyoso dan Slamet Subiyanto, rasanya adalah sesuatu yang mustahil. Keduanya hanya punya peluang kecil untuk bertarung dalam pemilu presiden. Namanya masih tenggelam di antaranya nama-nama tokoh militer lainnya, seperti Wiranto atau Prabowo. Apalagi bila di pertandingkan dengan Megawati dan Sri sultan, rasanya juga masih terlalu jauh.

Kalau demikian, rasanya inisial S itu tidak lain adalah Susilo Bambang Yudhoyono sendiri. Karena itu, bisa jadi slogan ABS itu adalah bagian dari persaingan tokoh-tokoh militer yang akan bertarung dalam Pilpres. Menguatnya nama SBY untuk kembali memenangi pemilu Presiden mendatang, membuat gentar banyak tokoh yang akan ikut bertarung. Sejauh itukah?
Sebenarnya, istilah ABS tidak muncul kali ini saja. Istilah ini sempat muncul pada saat pemilu Presiden 2004 yang lalu. Ceritanya bersumber dari Yahya Ombara, pengurus Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Menjelang pemilu, di internal PKP muncul nama SBY untuk di jagokan dalam pemilu Presiden. Namun namanya sempat di tolak oleh petinggi PKP, yaitu Sang ketua partai, Jendral Edi Sudrajat dan mantan Wakil Presiden, Try Sutrisno. Saat itu, kedua jendral ini lebih menginginkan agar SBY bergabung saja dengan Wiranto untuk mendukung pencalonan Wiranto sebagai capres. Tokh Wiranto hanya berkeinginan menjabat untuk satu periode saja. Setelah itu, tahun 2009, barulah giliran SBY.

Maka, di beberapa elit dan pensiunan TNI saat itu, nama Wiranto lebih di inginkan untuk menjadi Presiden ketimbang SBY. Munculah gerakan ABS (Asal Bukan Susilo Bambang Yudhyono). Gerakan ini semakin menguat seiring dengan semakin berkibarnya nama SBY karena telah membawa partai demokrat mempunyai suara yang cukup besar dalam pemilu 2004.

Konflik di internal TNI saat itu semakin panas ketika SBY, di hadapan Tri Sutrisno dan Edi Sudrajat, tetap berkeinginan maju sebagai calon presiden. “Saya sudah terlanjur memakai baju perang karena saya sudah berada di medan perang. Karena itu, biarlah rakyat yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pemenang dalam pesta demokrasi nanti…” pernyataan SBY yang di nilai mbalelo itu tentu membuat panas kuping beberapa petinggi TNI.
Meski demikian, Hasil rapat nasional PKP memutuskan Partai itu ikut berkoalisi mendukung SBY – JK dalam Pilpres. Suara daerah lebih menentukan karena saat itu pengurus pusat di anggap sudah tidak memiliki wibawa lagi.

Maka, ketika kini istilah ABS kembali di munculkan SBY, tampaknya sasaran tembaknya tidak lah jauh dari para militer yang saat ini tengah berkemas menuju medan perang Pilpres Juli mendatang. 2 tokoh kuat, Wiranto dan Prabowo, tampaknya yang masih punya pengaruh kuat di kalangan militer.

Tapi, nama Prabowo, kini semakin menjadi bahan pembicaraan karena terus menguat dengan partai Gerindranya. Dalam beberapa survey, nama Prabowo selalu masuk dalam lima besar dan di prediksi bisa menjadi kuda hitam dalam pilpres mendatang. Apakah SBY khawatir dengan kekuatan yang dimiliki oleh Prabowo cs.

Adalah bukan rahasia, menguatnya pamor Prabowo saat ini tidak terlepas dari orang-orang militer yang masih setia dengan dirinya. Prabowo di kenal sebagai perwira tinggi TNI yang punya pengikut militan dan loyal. Sebagai mantan petinggi di Kostrad, Prabowo tahu betul bagaimana memanage sebuah tim untuk bisa mengalahkan musuh-musuh politiknya. Beberapa nama mantan Jendral, di sebut-sebut ikut membidani Gerindra dan pencapresan Prabowo. Nama Muchdi PR, adalah satu di antaranya. Setelah lepas terjerat dari tuduhan sebagai biang pembunuh aktivis Munir, Muchdi secara terang-terangan mengaku akan all out terjun ke daerah untuk mensukseskan Gerindra.

Sekali lagi, pernyataan SBY di depan public tentang ‘gerakan’ ABS, bukanlah sesuatu kecerobohan SBY, namun justru dengan cara di umbar ke mass medialah, maka para ‘penggerak’ itu tidak punya ruang yang cukup luas lagi untuk menjalankan aksinya. Maka, selain ingin membuat suasana yang kondusif dalam Pilpres mendatang, SBY sesungguhnya punya pesan yang penting bagi petinggi TNI dan Polri, bahwa netralitas dan profesionalitas tetap harus di junjung tinggi.

0 komentar: