
Siang itu (Minggu, 18 January 2009), secara tak sengaja menonton program Silet, infotainment di RCTI. Program infotainment yang berating tinggi itu mengangkat tema tentang artis yang terlibat dalam malam amal, penggalangan dana untuk korban di Palestina. Dua sosok yang di angkat adalah Pasha dari grup Band Ungu dan Ustadz Jefri atau yang akrab di sapa Uje. Di segmen lainnya, Silet mengangkat tentang selebritis yang terlibat dalam pagelaran music tradisional. Penyanyi Afgan, Gita Gutawa dan Titik Puspa di angkat dalam cerita itu. Angle yang diangkat berkisar kisah artis yang tidak melulu menyanyi lagu pop. Tapi lagu tradisional dari berbagai daerah. Pesan yang ingin di sampaikan adalah pelestarian budaya dan peningkatan rasa nasionalisme.
Kedua tema yang diangkat dalam program infotainment itu membuat aku kagum dan salut. Bagaimana tidak. Program infotainment selama ini hanya mengangkat persoalan artis yang sesungguhnya tidak jelas manfaatnya bagi penonton. Kehidupan artis yang selama ini di suguhkan dalam program infotainment biasanya hanya berkisar persoalan perceraian, putus cinta atau ketemu pacar baru, perselingkuhan, perkawinan ataupun urusan pribadi artis lainnya. Kehadiran infotainment (information and entertainment) banyak di permasalahkan oleh banyak pihak karena di anggap sebagai program yang hanya mengangkat sisi negative dari si artis dan tak mendidik.
Igntius Haryanto misalnya. Dalam bukunya Aku selebiriti maka aku penting, pemerhati media ini menganggap bahwa Televisi tak ubahnya sebagai extravaganza dengan parade keriuhan tanpa henti, di mana artis cantik dan ganteng satu persatu terus bermunculan, membentuk barisan tanpa putus. Kita pun dihibur dan dihibur. Suatu yang remeh temeh mendadak jadi sangat penting karena di angkat oleh televise dan sesuatu yang betul-betul sangat penting (seperti eksploitasi artis oleh parpol, artis yang jadi selingkuhan pejabat hingga ke soal penggusuran tiada henti) tak pernah jadi perhatian serius untuk tampil.
Tayangan Infotainment, bagi Ignatius, makin membuat muak, karena yang ditampilkan kehidupan manusia yang makin dalam (wilayah privasi dilanggar), makin jijik di lakukan, makin di tonton, makin menampilkan kehidupan manusia yang semu, makin komersil, dan juga makin menghina akal sehat. Lebih jauh lagi, ia berujar, infotainment sebenarnya mengingkari fungsi informasi, terutama hak masyarakat itu sendiri untuk menerima informasi yang mereka butuhkan.
Ignatius Haryanto tampaknya tak berlebihan. Kekecewaan itu sangat berdasar bila melihat tayangan infotainment selama ini di hampir seluruh TV Nasional, kecuali Metro TV dan TV One. Infotainment menjadi salah satu komoditas dari fungsi entertainment (bukan news). Ia di garap semenarik mungkin dari kehidupan para artis. Gayung bersambut karena pola menonton masyarakat yang masih tradisional. Maka, rating tinggi di ikuti iklan yang berjibun, membuat pengelola Televisi memanfaatkan program ini sebagai tambang uang.
Jangan heran jika dalam satu hari satu televise bisa menampilkan program infotainment tiga bahkan sampai empat kali. Parahnya lagi, isinya seragam. Dari pagi hingga sore, berita yang di tampilkan umumnya sama. Belum lagi kalau berbicara gamb ar. Tayangan infotainment tak membutuhkan banyak gambar. Cukup satu angle gambar dari si artis, kemudian di olah dengan berbagai macam efek di mesin editing agar tampak menarik dan variatif serta tampak bisa panjang. Ini juga tak terlepas dari system ngebut dalam semalam, alias kejar tayang. Maklum, dengan tim yang terbatas tapi tayang setiap hari, segalanya harus di kerjakan dengan serabutan sehingga sangat gampang membuat kekeliruan dan kesalahan.
Belum lagi bila bicara persoalan bahasa yang di gunakan. Semakin mendayu-dayu, semakin hiperbola, semakin indah dan puitis, maka semakin sempurnalah tayangan itu. Jangan Tanya tentang kaidah bahasa jurnalistik. Semuanya malah bertentangan. Dalam satu paragraph, bisa jadi kita hanya ingin di beri satu pesan saja. Tapi untuk menampilkan satu pesan itu, kalimat di buat berbunga-bunga, berkelok-kelok kesana kemari seperti membuat cerpen, agar tampak indah. Padahal itu hanya siasat untuk memenuhi durasi yang panjang di tengah keterbatasan isi yang ingin di sampaikan. Mmhh..
Nah, kembali ke awal. Apa yang di tampilkan program silet dengan mengangkat kegiatan artis untuk membantu korban di palestina dan konser bertemakan budaya bangsa, sesungguhnya patut di beri apresiasi. Meski dengan berbagai kelemahan dari sebuah program yang bernama Infotainment ini, pesan yang ingin di sampaikan dalam program Silet harusnya menginspirasi program sejenis di TV lainnya. Masih banyak sebenarnya kehidupan artis yang bisa di angkat sisi positifnya. Persoalan berpulang kepada pengelola program dan media. Menjadikan sebuah program yang bermanfaat dan mendidik bagi penonton, seharusnya tetap menjadi pilihan nomor satu ketimbang hanya mengumbar sisi negative artis yang seringkali membodohi, menimbulkan kecemburuan sosial dan dampak negative lainnya bagi penonton.

0 komentar:
Poskan Komentar