
Dulu, kesurupan menjadi hal yang biasa. Kesurupan menjadi pemandangan yang lumrah dan hampir bisa di temui di mana saja dan kapan saja. Tak ada sisi yang menarik dalam peristiwa ini. Menarik, paling-paling saat melihat aksi sang dukun mengobati orang yang kesurupan. Ngeri karena pelaku kesurupan bisa berubah prilaku menjadi apa saja. Ia juga bisa makan apa saja, berubah suara mirip suara orang yang sudah tiada atau apa saja. Kesurupan seolah menjadi hal yang mistis karena itu menjadi haknya dukun untuk mengobatinya.
Tapi kini ada yang aneh. Semakin canggih tekhnologi, semakin tinggi peradaban manusia, semakin digital tekhnologi komunikasi, kesurupan malah menjadi komoditi. Bila menyempatkan waktu nonton berita di TV, kita akan mudah melihat kesurupan menjadi sebuah berita yang teramat penting. Betapa tidak, tak jarang ia malah hadir di segmen pertama. Kalo di media cetak, ia termasuk di halaman depan. Artinya ini adalah headline, berita utama. Bagaimana mungkin kesurupan bisa menjadi headline berita TV. Bisa menjadi berita saja itu sudah sebuah pertanyaan yang menggelitik.
Ya.. itulah faktanya. Berita di TV kini bukan lagi mementingkan isi (content), tapi lebih pada persoalan gambar. Semakin dramatis gambar, semakin hiruk pikuk gambar, maka ia bisa mengalahkan sebuah berita penting yang hanya bergambar orang pidato, gambar gedung-gedung perkantoran dan aktivitas manusia lainnya. Jaman memang sudah berubah. Teori kamunikasi mungkin tak bisa mengantisipasi hal ini. Kesurupan menjadi berita penting. Kita memang tinggal di Negara yang aneh.
Lebih aneh lagi adalah pelaku media itu sendiri, dalam hal ini redaksi di news televisi. Apa sih pentingnya berita kesurupan bagi public? Apa pula relevansinya berita kesurupan bagi pendidikan anak bangsa? Rasanya, tak ada yang bisa menunjukkan sisi jurnalisme dari sebuah berita kesurupan, selain hanya karena persoalan gambar orang yang berguling-guling, kepanikan, ketakutan dan hal lainnya. Tapi bagi public, so what?
Yang kuingat, pertama kali menonton berita kesurupan ini dalam program Reportase di Trans TV. Tapi anehnya, mungkin karena berhasil menaikkan share dan rating, TV lain mengekor memberitakan kesurupan. Ya inilah penyakit pengelola TV di Negara ini. Pantang melihat program yang berhasil dalam rating dan share, tanpa malu dan ragu mereka menconteknya. Maka tak heran, berita kesurupan kini bukan hanya menjadi konsumsi berita Trans TV, tapi juga TV lainnya. Bahkan sampai pada TV News seperti Metro TV dan TV One.
Harus di akui, Televisi berbeda dengan media cetak. Televisi akan sangat bergantung pada gambar sebagai penarik orang untuk menonton. Dalam program News, gambar-gambar hidup, seperti unjuk rasa, kericuhan, bentrok, penangkapan, peperangan dan lain sebagainya menjadi di dahulukan. Tak penting persoalan content, apakah itu penting bagi public atau tidak. Semakin menarik gambar, maka akan semakin menjadi jaminan berita itu tayang. Berita kesurupan bisa jadi menjadi berita yang di dahulukan dari pada berita pengumuman pemerintah tentang kenaikan atau penurunan BBM. Berita penggerebekan PSK di hotel melati bisa menjadi berita nomor satu dari pada berita gagal panen yang dialami petani. Berita demo buruh yang berhasil merobohkan pintu pagar pabrik bisa mengalahkan urgensi berita kenaikan harga sembako. Dan lain sebagainya.
Jangan banyak berharap pada berita di TV. Cukuplah ia bisa di andalkan dalam hal kecepatan. Dalam hal ini, Televisi jauh lebih unggul dari pada cetak. Tapi untuk membuat rakyat cerdas, media cetak punya peluang yang jauh lebih besar. Dengan berita yang mendalam, berita di media cetak harusnya bisa membuat rakyat lebih cerdas, kritis dan maju.
Di perlukan kemauan kuat dari pengelola Televisi, dari mulai jajaran direksi hingga pemilik (owner). Jika hanya mengejar rating dan share, bisa dipastikan tak ada yang bisa di harapkan lagi. Pekerja TV pada level produser saja biasanya juga tak punya kuasa untuk menentukan item berita sesuai keinginannya. Karena itu, sudah saatnya lah mereka (para pemilik media dan pengambil keputusan di dalamnya) untuk menyisakan sedikit saja idealisme membangun bangsa dalam program News di Televisinya. Cukuplah sudah mereka membodohi public pada program hiburan (entertainment)nya, dan mengambil keuntungan materi dari situ.

0 komentar:
Poskan Komentar