
Salah seorang teman yang kebetulan senior di bangku kuliah dulu, menumpahkan uneg-unegnya di sebuah milis. Satu malam, secara kebetulan, ia menonton program termehek-mehek trans tv. Usai itu, ia mengumpat. “Program sampah”, katanya. Ia heran mengapa trans tv bisa membuat program yang seperti ini. Sebuah program tak bermutu, Cuma mencari sensasi, yang penting laku. Umpatannya melebar. Ia mengkritik banyak program serupa di TV lainnya. TV Indonesia di anggap tidak mementingkan penonton, yang ada malah menyesatkan dan membodohi penonton.
Pernyataannya di tanggapi banyak peserta milis lainnya. Ada yang setuju, tapi ada juga yang nggak setuju. Ini menjadi sebuah diskusi menarik. Tapi namanya juga milis, Cuma tempat curhat doang, tanpa ada solusi. Tapi menjadi sebuah pelajaran menarik. Karena secara kebetulan aku baru saja membaca sebuah riset yang di lakukan beberapa lembaga peduli penyiaran. Riset tersebut mencoba melihat aspek kwalitas program televise. Dan hasilnya mungkin bisa menjadi jawaban dari umpatan temanku di milis tadi. Bahwa justru program sampah di televise, namun di tonton banyak masyarakat.
Dari riset itu terlihat, bahwa ada kesenjangan antara program acara yang banyak di tonton dengan kwalitas program. Jumlah penonton berdasarkan riset AGB Nielsen biasanya berbanding terbalik dengan kwalitas program. Dalam program hiburan, data di AGB Nielsen memperlihatkan sinetron menguasai daftar tertinggi rating. 5 program hiburan dengan rating tinggi berdasarkan survey AGB Nielsen adalah Sinetron Azizah, Cinta Bunga, Suci (ketiganya di SCTV), Super Mama (Indosiar) dan Cahaya (RCTI). Namun dalam survey yang di lakukan Lembaga peduli penyiaran itu, kelima program itu justru di anggap tidak berkwalitas. Misalnya adanya unsure pornografi, menimbulkan kecemburuan sosial, tidak ramah gender, kekerasan terhadap anak dan rumah tangga dan sebagainya.
Hal yang sama juga berlaku untuk program talk show. Program Empat Mata, Dorce Show, Ceriwis dalam Survey AGB Nielsen memiliki rating tertinggi. Namun Dalam survey kwalitas, program tersebut di anggap tidak membawa banyak manfaat bagi penonton. Responden justru memilih program talk show Kick Andy di Metro TV sebagai program yang di anggap berkwalitas dan membawa manfaat bagi penonton. Padahal, program ini, dalam survey Nielsen, justru memiliki angka rating dan share yang rendah.
Dari hasil survey itu, hanya program berita yang berbanding lurus dengan survey AGB Nielsen. Program berita yang punya rating dan share tinggi, ternyata juga menjadi program yang di anggap berkwalitas oleh responden survey. Dalam kedua survey itu, program berita Liputan 6, Seputar Indonesia dan Reportase Sore di anggap sebuah program berita yang baik dan berkwalitas.
Bagi pelaku penyiaran di TV, persoalan ini sudah menjadi persoalan lama. Yaitu pertarungan antara bisnis dengan idealisme. Yang menang tentu adalah bisnis. Tapi bukan berarti idealism menjadi luntur dan kalah begitu saja. Ada kompromi sedikit. Bisnis tetap menang, tetapi tetap ada ruang bagi idealisme masuk menyusup ke ruang bisnis tersebut. Nah, bingung kan…
Dunia televise adalah industri padat modal. Ratusan milyar adalah modal yang harus di keluarkan bagi seorang pemilik industry ini. Dan televise hidup melalui iklan. Iklan akan masuk jika program di tonton oleh masyarakat. Semakin banyak penontonnya, maka iklan pun akan semakin banyak masuk Maka duitpun mengalir untuk menghidup mesin industry televise, termasuk menghidupi awak/ buruhnya. Maka, televisipun di tuntut membuat program yang akan di tonton banyak orang.
Masalah timbul karena ternyata pola menonton masyarakat yang masih haus hiburan. Sedihnya lagi, hiburan yang menarik untuk di tonton adalah program yang lebih menjual kesenangan hidup, menjual sensualitas, menjual mistis, menjual konflik rumah tangga dan persoalan yang dianggap kurang mendidik.
Masyarakat butuh televise hanya sekedar untuk sarana hiburan. Belum pada taraf untuk memperoleh informasi, menambah pengetahuan dan tujuan positif lainnya. Maka tak heran, program hiburan di televise relative seragam. Bila ada program hiburan sukses di satu televise, maka televise lainpun akan mengekor. Miskin kreativitas memang. Tapi itulah realitanya.
Program berita masih menjadi nomor dua. Program talk show pun idem tito. Kalaupun ada program talk show yang sukses berating tinggi, itu juga karena lebih menonjolkan aspek hiburannya. Menonton program empat mata, jangan harap akan memperoleh pengetahuan baru. Yang ada adalah lebih pada penonjolan kehidupan artis, yang di bungkus dengan pakaian minim untuk daya penarik, di tambah banyolan ala tukul yang sebenarnya itu-itu saja. Itulah realitanya.
Program bermutu, katakanlah seperti Kick Andy, Metro Realitas, ataupun program lainnya, harus bersiap-siap mendapat rating rendah, karena memang penontonnya yang segmented, di dominasi kalangan menengah ke atas. Padahal, mayoritas penonton kita adalah menengah ke bawah.
Kini persoalannya, bagaimana membuat program hiburan yang menarik, tapi tetap bisa memasukkan unsure pendidikan di dalamnya. Bagaimana membuat program berita tapi tetap menyisipkan unsure hiburan di dalamnya sehingga menarik untuk di tonton. Bagaiamana membuat talk show yang membahas persoalan penting bagi masyarat, tapi tetap mudah di cerna bagi masyarakat bawah sehingga mau di tonton, tentu juga denga menyisipkan unsure hiburan di dalamnya.
Inilah yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah terbesar. Factor kreativitas menjadi factor penting, agar di tengah tuntutan para pemilik modal agar program menghasilkan rating tinggi, tapi tetap bisa memasukkan unsur idealisme di dalamnya. Ini pekerjaan yang sulit tapi bukan tak mungkin untuk di lakukan.
LIhatlah kesuksesan sinetron Kiamat sudah dekat di SCTV karya Dedy Mizwar. Sinetron ini punya rating tinggi tapi sekaligus di nilai sebagai sinetron yang mencerdaskan, karena banyak unsure pendidikan dan dakwah di dalamnya. Sinetron ini di senangi banyak penonton karena menampilkan kehidupan keseharian pemerannya, tapi mengandung banyak nasehat yang bisa berguna bagi penonton. Jadi, persoalannya adalah bagaimana mengkemasnya. Sebuah dakwah, sebuah pengetahuan ternyata bisa di terima oleh penonton dengan di bungkus sinetron.
LIhatlah program Jika Aku Menjadi di Trans TV. Program ini memiliki rating yang cukup tinggi. Namun di nilai berkwalitas karena di anggap bisa menumbuhkan rasa solidaritas sosial. Penonton di bawa untuk menyelami kehidupan masyarakat kelas bawah, sehingga akan timbul rasa empat sosial. Program yang di awaki anak-anak divisi News Trans TV lebih cendrung ke reality show, sehingga pesan moral yang di sampaikan sampai ke penonton dengan di kemas secara menarik dan indah secara visual.
Dua program ini hanyalah sedikit dari banyak program yang berkwalitas lainnya. Intinya terletak pada kreativitas. Merevolusi pola menonton masyarakat Indonesia tentulah mustahil di lakukan. Merubah pola menonton masyarakat kita tentu harus dilakukan secara perlahan. Para praktisi penyiaran masih memiliki idealisme untuk menjadikan sebuah tayangan yang mendidik dan menimbulkan daya kritis yang tinggi bagi penonton. Namun itu semua harus di kompromikan dengan tuntutan bisnis, agar perusahaan tetap berjalan, sehingga perut anak istri para praktisi itu tetap terisi.
Entahlah…
Pernyataannya di tanggapi banyak peserta milis lainnya. Ada yang setuju, tapi ada juga yang nggak setuju. Ini menjadi sebuah diskusi menarik. Tapi namanya juga milis, Cuma tempat curhat doang, tanpa ada solusi. Tapi menjadi sebuah pelajaran menarik. Karena secara kebetulan aku baru saja membaca sebuah riset yang di lakukan beberapa lembaga peduli penyiaran. Riset tersebut mencoba melihat aspek kwalitas program televise. Dan hasilnya mungkin bisa menjadi jawaban dari umpatan temanku di milis tadi. Bahwa justru program sampah di televise, namun di tonton banyak masyarakat.
Dari riset itu terlihat, bahwa ada kesenjangan antara program acara yang banyak di tonton dengan kwalitas program. Jumlah penonton berdasarkan riset AGB Nielsen biasanya berbanding terbalik dengan kwalitas program. Dalam program hiburan, data di AGB Nielsen memperlihatkan sinetron menguasai daftar tertinggi rating. 5 program hiburan dengan rating tinggi berdasarkan survey AGB Nielsen adalah Sinetron Azizah, Cinta Bunga, Suci (ketiganya di SCTV), Super Mama (Indosiar) dan Cahaya (RCTI). Namun dalam survey yang di lakukan Lembaga peduli penyiaran itu, kelima program itu justru di anggap tidak berkwalitas. Misalnya adanya unsure pornografi, menimbulkan kecemburuan sosial, tidak ramah gender, kekerasan terhadap anak dan rumah tangga dan sebagainya.
Hal yang sama juga berlaku untuk program talk show. Program Empat Mata, Dorce Show, Ceriwis dalam Survey AGB Nielsen memiliki rating tertinggi. Namun Dalam survey kwalitas, program tersebut di anggap tidak membawa banyak manfaat bagi penonton. Responden justru memilih program talk show Kick Andy di Metro TV sebagai program yang di anggap berkwalitas dan membawa manfaat bagi penonton. Padahal, program ini, dalam survey Nielsen, justru memiliki angka rating dan share yang rendah.
Dari hasil survey itu, hanya program berita yang berbanding lurus dengan survey AGB Nielsen. Program berita yang punya rating dan share tinggi, ternyata juga menjadi program yang di anggap berkwalitas oleh responden survey. Dalam kedua survey itu, program berita Liputan 6, Seputar Indonesia dan Reportase Sore di anggap sebuah program berita yang baik dan berkwalitas.
Bagi pelaku penyiaran di TV, persoalan ini sudah menjadi persoalan lama. Yaitu pertarungan antara bisnis dengan idealisme. Yang menang tentu adalah bisnis. Tapi bukan berarti idealism menjadi luntur dan kalah begitu saja. Ada kompromi sedikit. Bisnis tetap menang, tetapi tetap ada ruang bagi idealisme masuk menyusup ke ruang bisnis tersebut. Nah, bingung kan…
Dunia televise adalah industri padat modal. Ratusan milyar adalah modal yang harus di keluarkan bagi seorang pemilik industry ini. Dan televise hidup melalui iklan. Iklan akan masuk jika program di tonton oleh masyarakat. Semakin banyak penontonnya, maka iklan pun akan semakin banyak masuk Maka duitpun mengalir untuk menghidup mesin industry televise, termasuk menghidupi awak/ buruhnya. Maka, televisipun di tuntut membuat program yang akan di tonton banyak orang.
Masalah timbul karena ternyata pola menonton masyarakat yang masih haus hiburan. Sedihnya lagi, hiburan yang menarik untuk di tonton adalah program yang lebih menjual kesenangan hidup, menjual sensualitas, menjual mistis, menjual konflik rumah tangga dan persoalan yang dianggap kurang mendidik.
Masyarakat butuh televise hanya sekedar untuk sarana hiburan. Belum pada taraf untuk memperoleh informasi, menambah pengetahuan dan tujuan positif lainnya. Maka tak heran, program hiburan di televise relative seragam. Bila ada program hiburan sukses di satu televise, maka televise lainpun akan mengekor. Miskin kreativitas memang. Tapi itulah realitanya.
Program berita masih menjadi nomor dua. Program talk show pun idem tito. Kalaupun ada program talk show yang sukses berating tinggi, itu juga karena lebih menonjolkan aspek hiburannya. Menonton program empat mata, jangan harap akan memperoleh pengetahuan baru. Yang ada adalah lebih pada penonjolan kehidupan artis, yang di bungkus dengan pakaian minim untuk daya penarik, di tambah banyolan ala tukul yang sebenarnya itu-itu saja. Itulah realitanya.
Program bermutu, katakanlah seperti Kick Andy, Metro Realitas, ataupun program lainnya, harus bersiap-siap mendapat rating rendah, karena memang penontonnya yang segmented, di dominasi kalangan menengah ke atas. Padahal, mayoritas penonton kita adalah menengah ke bawah.
Kini persoalannya, bagaimana membuat program hiburan yang menarik, tapi tetap bisa memasukkan unsure pendidikan di dalamnya. Bagaimana membuat program berita tapi tetap menyisipkan unsure hiburan di dalamnya sehingga menarik untuk di tonton. Bagaiamana membuat talk show yang membahas persoalan penting bagi masyarat, tapi tetap mudah di cerna bagi masyarakat bawah sehingga mau di tonton, tentu juga denga menyisipkan unsure hiburan di dalamnya.
Inilah yang sebenarnya menjadi pekerjaan rumah terbesar. Factor kreativitas menjadi factor penting, agar di tengah tuntutan para pemilik modal agar program menghasilkan rating tinggi, tapi tetap bisa memasukkan unsur idealisme di dalamnya. Ini pekerjaan yang sulit tapi bukan tak mungkin untuk di lakukan.
LIhatlah kesuksesan sinetron Kiamat sudah dekat di SCTV karya Dedy Mizwar. Sinetron ini punya rating tinggi tapi sekaligus di nilai sebagai sinetron yang mencerdaskan, karena banyak unsure pendidikan dan dakwah di dalamnya. Sinetron ini di senangi banyak penonton karena menampilkan kehidupan keseharian pemerannya, tapi mengandung banyak nasehat yang bisa berguna bagi penonton. Jadi, persoalannya adalah bagaimana mengkemasnya. Sebuah dakwah, sebuah pengetahuan ternyata bisa di terima oleh penonton dengan di bungkus sinetron.
LIhatlah program Jika Aku Menjadi di Trans TV. Program ini memiliki rating yang cukup tinggi. Namun di nilai berkwalitas karena di anggap bisa menumbuhkan rasa solidaritas sosial. Penonton di bawa untuk menyelami kehidupan masyarakat kelas bawah, sehingga akan timbul rasa empat sosial. Program yang di awaki anak-anak divisi News Trans TV lebih cendrung ke reality show, sehingga pesan moral yang di sampaikan sampai ke penonton dengan di kemas secara menarik dan indah secara visual.
Dua program ini hanyalah sedikit dari banyak program yang berkwalitas lainnya. Intinya terletak pada kreativitas. Merevolusi pola menonton masyarakat Indonesia tentulah mustahil di lakukan. Merubah pola menonton masyarakat kita tentu harus dilakukan secara perlahan. Para praktisi penyiaran masih memiliki idealisme untuk menjadikan sebuah tayangan yang mendidik dan menimbulkan daya kritis yang tinggi bagi penonton. Namun itu semua harus di kompromikan dengan tuntutan bisnis, agar perusahaan tetap berjalan, sehingga perut anak istri para praktisi itu tetap terisi.
Entahlah…

0 komentar:
Poskan Komentar