Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

17 Oktober 2008

Televisi dan Prabowo?


Apa hubungan antara media televisi dengan popularitas seseorang? Jawabnya pastilah sangat berhubungan. Semakin sering seseorang muncul di TV, maka akan semakin popular pula ia. Apalagi kalau pesan yang di sampaikan mengena di hati public, maka semakin tinggi pula harapan public pada seseorang tersebut.

Paling tidak, asumsi itu di benarkan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI). Fenomena Prabowo adalah salah satu buktinya. Dalam beberapa kali survey, nama Prabowo tiba-tiba saja melejit di pilih public untuk bersaing memperebutkan kursi Presiden Indonesia. Namanya bahkan meroket di tiga besar, di bawah SBY dan Megawati. Padahal, figure mantan Danjen Kopasus ini sebelumnya tidak masuk perhitungan dalam kompetisi menuju kursi RI 1.

Semua ini tidak terlepas dengan gencarnya iklan Prabowo di media TV, bersama bendera Partai Gerindra. Dengan mengusung tema cinta produksi pertanian Indonesia, masyarakaat tampaknya bisa menerima dan menyambut baik ajakan figure ketua Himpunan Kerukuknan Tani Indonesia (HKTI) ini. Tak heran, nama Prabowo kini mulai di perhitungan dan membuat ketar ketir para elit politik lainnya yang juga berambisi duduk di kursi RI 1.

Persoalannya, bisakah popularitas Prabowo saat ini membawanya duduk di kursi RI 1. Bisa iya, bisa tidak. Waktu pemilihan Presiden masih lama. Pekerjaan pertama yang harus di kerjakan Prabowo adalah membesarkan partai gerindra. Bagaimanapun, tanpa kendaraan politik, popularitas tak ada gunanya. Konstitusi mengharuskan capres harus di usung partai politik. Apalagi jika ketentuan minimal pencalonan, yang saat ini masih a lot di perdebatkan di DPR, mengharuskan syarat 30 persen perolehan kursi di DPR. Tentu menjadi sangat berat. Sebagai partai baru, akan sangat sulit rasanya sebuah partai mampu mendekati angka tersebut.

Namun Popularitas bisa menjadi magnet bagi partai lain untuk berkoalisi bersama Prabowo. Fenomena Prabowo saat ini bisa saja mengulang sejarah fenomena SBY pada Pilpres 2004 yang lalu. Waktu itu, nama SBY meroket secara tiba-tiba menjelang Pilpres. Masyarakat waktu itu terpesona dengan tampilan fisik SBY dan peristiwa “penzaliman” yang di lakukan presiden Mega karena memecat SBY dari jajaran kabinetnya. Dengan gerbong partai democrat, berkoalisi dengan JK, akhirnya SBY bisa merasakan empuknya duduk di kursi RI1.

Prabowo bisa mengulang fenomena ini. Prabowo seorang militer yang tampilan fisiknya tak jauh beda dari SBY. Prabowo juga sosok yang sudah di kenal saat masih aktif di militer, meski ia juga sosok yang kontroversi, karena di duga terlibat dalam kasus penculikan aktivis. Dari kemampuan financial, juga tak di ragukan. Sama dengan kemampuan financial Wiranto saat bertarung dalam Pilpres 2004 dan saat membesarkan Partai Hanura. Namun, peluang prabowo menjadi lebih berat jika nantinya DPR mempersyaratkan dukungan minimal di atas 20 persen dari kursi di legislative.

Kembali ke persoalan pencitraan di televise. Dari berbagai survey, nama Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng justru belum menunjukaan peningkatan berarti. Padahal, sama seperti Prabowo, dua figure ini juga getol mengkampanyekan dirinya di Televisi. Kelemahan dari kedua figure itu, agaknya terlihat dari content atau tema iklan yang masih kabur dan tingkat pengenalan public terhadap kedua figure tersebut yang masih terbatas.

Jauh sebelum beriklan, nama Prabowo sudah di kenal masyarakat sebagai militer yang karirnya cukup melejit. Di masa puncak karirnya, wajah prabowo sudah akrab di media. Itu menjadi investasi yang sangat berarti bagi Prabowo. Sementara Sutrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng harus mulai memperkenalkan dirinya dari nol. Siapa yang mengenal kedua tokoh ini sebelum mereka beriklan. Masyarakat awam belum mengenalnya.

Sialnya, uang miliaran rupiah yang mereka gelontorkan tak sebanding dengan hasilnya. Ini tak terlepas dari pengkemasan pesan yang tidak membumi. Pesan atau tema yang mereka usung tampak tak menyentuh hati public. Publik butuh tema yang menyangkut kebutuhan keseharian yang mereka hadapi. Bukan slogan ideal dengan bahasa tingkat tinggi yang sulit di pahami oleh orang awam. Akhirnya. Tampilan fisual iklan mereka yang sebenarnya jauh lebih menarik dan artisitik itu menjadi sia-sia belaka.

16 Oktober 2008

Siapa Lirik Siapa?


Pernyataan SBY yang akan kembali menggandeng JK dalam Pilpres 2009 mendatang tampaknya membuat konstelasi politik berantakan. Apalagi ajakan itu di sambut baik oleh JK dan akan bisa kembali terwujud. Sebelum menyatakan akan menggandeng JK, beberapa partai tampak sudah berancang-ancang membuat peta koalisi dalam Pilpres 2009. PDIP adalah salah satu partai yang paling getol bergerilya mencari partner untuk koalisi sekaligus mencari figure calon wapres yang akan mendampingi Megawati sebagai capres.

Golkar di gadang-gadang termasuk salah satu target untuk di ajak berkoalisi oleh partai kepala banteng bermulut putih. Koalisi dua partai besar ini di anggap paling prospektif untuk memenangi Pilpres. PDIP berharap, beberapa kader golkar, seperti Sri Sultan, Fadel Muhammad, Surya Paloh atau JK sendiri, mau maju sebagai wapres mendampingi Mega. Sulit rasanya membayangkan koalisi ini akan gagal memenangi Pilpres mengingat dua basis massa partai ini paling terlihat jelas. Namun, sulit pula membayangkan dua partai ini berkoalisi mengingat keduanya bisa saja bernafsu duduk sebagai RI 1, tanpa ada yang mau mengalah untuk duduk di RI 2.

Belakangan, PDIP juga gencar melakukan pendekatan dengan PKS. Koalisi ini, dinilai banyak pengamat, juga sangat strategis, mengingat dua basis massa khas Indonesia, yaitu Nasionalis dan Islam, akan tergarap utuh. Mantan ketua umum PKS, Hidayat Nur Wahid, di incar untuk mendampingi Megawati. Wacana ini jadi berita menarik dan di internal PKS juga di respon positif, untuk mengatakan tidak satupun petinggi PKS yang menyatakan penolakan untuk berkoalisi. Kemungkinan koalisi itu ada, karena kini PKS sadar partainya tak mungkin sendirian dalam pertarungan Pilpres mendatang.

Masalahnya, masak iya PKS yang lebih mencerminkan partai “kanan” mau berkoalisi dengan PDIP yang lebih “kekirian”. Rasanya sangat sulit membayangkan kader PKS yang biasa berpakaian koko, akan mendukung Mega sebagai capres. Sosok Mega yang pernah gagal sebagai presiden, dan masih di ragukan dari sisi kapabilitas, rasanya menjadi pertaruhan terbesar jika PKS mau menerima pinangan Megawati. Lain halnya kalau memang PKS lebih mengutamakan kemenangan meraih kekuasaan, ketimbang mengedepankan nilai dan misi partai dalam penyelenggaraan pemerintahan?

Koalisi alternative yang di usung partai-partai menengah, seperti ketua umum PAN Sutrisno Bachir juga masih belum menunjukkan jati dirinya secara jelas. Sangat tidak mudah membuat koalisi alternative di tengah birahi politik yang tinggi dari kalangan elit partai di negeri ini. Sutrisno Bachir yang terkesan paling rajin mengkampanyekan dirinya sendiri tampaknya kini harus berfikir ulang. Bagaimanapun, Jika SBY – JK kembali bersatu, maka peluang duet ini untuk kembali memenangkan pertarungan dalam Pilpres akan terbuka lebar. Namun, positipnya, kembalinya duet SBY – JK justru berdampak pada munculnya musuh bersama dari elit-elit yang tengah berancang-ancang untuk maju dalam Pilpres. Mereka kini punya musuh bersama sebagai sasaran tembak yang empuk di di kritik.

Bagaimana dengan para jendral lainnya yang juga ingin ikut bertarung. Wiranto dengan Hanura dan Prabowo dengan Gerindra, tampaknya masih sibuk dengan internal partainya untuk pemenangan., atau paling tidak meraih suara yang signifikan dalam pemilu legislative.
Jadi, keinginan banyak pihak bahwa Pilpres 2009 harus berisi wajah-wajah baru tampaknya sulit terwujud. Semangat untuk menampilkan figure muda sebagai presiden masa depan, tampaknya juga masih menemui jalan terjal. Calon Presiden dari jalur independent juga tampaknya hanya bisa bermimpi karena aturan Pemilu sudah menjadi politik dagang sapi parpol.