Demikianlah namanya kami berikan. Di deklarasikan di hadapan majelis pengajian ibu-ibu di sekitar rumah. Berbarengan dengan acara aqiqah yang kami langsungkan dengan sederhana, pada hari Minggu yang cerah, ba’da Ashar.
Hilmi, dari buku nama-nama Islam yang aku baca berarti sabar dan berakal Sedangkan Muntashir berarti yang menang, yang Berjaya. Sementara ikhti merupakan singkatan dari nama ayah bundanya, Ikhwan dan Pujiati. JIka di terjemahkan dengan bebas, artinya adalah orang yang sabar dan berakal untuk menuju kejayaan atau kemenangan. Itulah doa dari ayah bundanya. Bukankah nama adalah doa.
Namanya kami tabalkan di saat pentas nasional lagi gonjang ganjing akibat pemerintahan SBY – JK menaikkan harga BBM sehari sebelumnya. Unjuk rasa menentang kenaikan BBM berlangsung di mana-mana. Para politisi dan pakar ekonomi berebut bicara di media, menyatakan penolakan dan dukungannya. Warga miskin hari ini sudah mengantri untuk menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) 300 ribu rupiah untuk tiga bulan.
Penolakan kenaikan BBM di sebabkan penderitaan masyarakat yang kian menjadi. Efek dominonya adalah kenaikan harga kebutuhan hidup, transportasi dan biaya hidup lainnya.
Hilmi belumlah mengerti tentang hal ini. Ia tidak akan ikut berdemo seandainya harga susu formula ikut naik. Ia juga tak akan lantang berorasi karena belanja harian bundanya semakin tinggi. Dan Hilmi juga tidak akan ikut serta ke istana merdeka, dimana di saat hari penabalan namanya, SBY mengadakan open house kepada rakyatnya yang ingin mengunjungi istana.
Namun Hilmi, kelak, harusnya peduli terhadap kondisi yang seperti ini. Ia akan kritis tapi konstruktif menyikapi persoalan hidup yang melingkarinya. Ia, mudah-mudahan, bisa memberi warna bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan orang banyak. Banyak cara yang bisa di lakukan. JIka ayahnya saat ini belumlah apa-apa, mudah-mudahan Hilmi menjadi orang yang bisa berbuat banyak untuk kemaslahatan orang banyak.
Karena itu, ia harus menjadi orang pintar dan berakal. Tapi tetap harus punya kesabaran hingga tak salah dalam bersikap. Kejayaan dan kemenangan adalah tujuannya. Kemenangan dan kejayaan terlihat bila keadilan dan kebenaran bisa terungkap. Amin…
29 Mei 2008
21 Mei 2008
Alhamdulillah, Akhirnya Menjadi Ayah
19 Mei 2008. Sehari sebelum seabad kebangkitan nasional. Siang itu pukul 14.08 Wib. Awal mula tangisan pecah di satu ruang operasi Rumah Sakit Evasari, Rawasari, Jakarta Pusat. Seluruh perjuangan dari istri tercinta tuntas sudah. Lahir sesosok mungil bayi laki-laki, penerus keluarga kami. Dengan semangat membuncah, aku lafadzkan adzan di telinga bagian kanannya. Mata bayiku terbuka, memandang ke atas, seolah sedang menyimak makna kalimah Adzan yang berkumandang dari mulut ayahnya. Begitu pula saat Iqamah. Ia seolah mendengar, menghayati tanpa sedikitpun keluar bahasa tangisan. Kini, aku menjadi seorang ayah. Dari seorang bayi yang saat itu berbobot 2,8 kilogram dan panjang 48 cm.
Senyum bahagia tersungging dari bibir istriku, Pujiati. Saat baru keluar dari ruang operasi, aku langsung membelainya, memegang erat jemari tangannya. Senyum bahagia, tak terkira. Sampai-sampai, butiran air mata jatuh dari kelopak matanya. Air mata ini pemicu empati, hingga aku tak kuasa pula menahan butiran air mata menetes dari ujung kelopak mataku. Sungguh, sebuah perjuangan tak terkira, terutama bagi istriku. Operasi cesar adalah jalan terbaik, demi keselamatan sang bayi. Analisa dokter, bisa saja kelahiran berlangsung secara normal, tapi bisa berakibat tak baik bagi bayi bila terlalu di paksakan. Maka, ketika dokter member opsi operasi cesar, kami tak dapat mengelak. Prinsipnya, mana yang terbaik, ya lakukan saja. Rasanya, saat masuk ke Rumah sakit, kami sudah menggadaikan hidup sang bayi kepada dokter rumah sakit. Maka, jalan operasi di tempuh seketika itu juga.
Jauh dari bayangan. Impian memiliki bayi mungil nan lucu kini terwujud sudah. Melihat tangis bayi dan senyum kebahagiaan istri, rasanya sudah membayar beban yang di tanggung selama sehari lebih. Ya.. sehari lebih, dari mulai istri masuk rumah sakit sampai sang bayi mencium bau bumi. Rasa sakit yang di tanggung istri, rasanya juga menjadi rasa sakit juga bagiku. Tak tega melihat penderitaan, sampai beberapa kali harus menangis. Bagi istri, ini adalah perjuangan, antara hidup dan mati, demi sang bayi, titipan Illahi. Kini baru terasa, bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan kita dahulu. Bagitu sakit, berat dan semuanya di landasi keikhlasan. Tanpa pamrih. Tak terbayang bagaimana besarnya dosa bagi anak yang durhaka pada sang ibu.
Awalnya, minggu pagi, 18 Mei 2008. Subuh hari, istri merasakan ingin buang air besar di sertai mulas. Sementara pagi itu, aku bersiap untuk kerja. Tapi atas nasehat ibu tukang cuci setrika di rumah, akhirnya aku permisi izin tak kerja. Mulas yang semakin sering menjadi sinyal bahwa kami pagi itu harus ke rumah sakit. Sekitar jam 10.00 Wib, kamipun ke rumah sakit dengan sepeda motor. Jarak dari rumah ke rumah sakit tak sampai 500 meter. Setelah di periksa oleh perawat, aku di panggil. Ibu tua perawat itu menerangkan kalau istri sudah status buka 1 dan karena itu harus di rawat. Ada rasa bahagia. Sebentar lagi kami punya bayi. Tapi tersirat pula rasa takut menghadapi proses persalinan. Mendengar pengalaman dari teman-teman menciptakan bayangan ngeri di pikiranku. Dan mungkin pula istriku.
Aku segera pulang. Mengambil sebuah tas yang sudah berisi pakaian lengkap bayi dan mengambil pakaian istri. Sejak awal bulan, aku dan istri memang sudah mengemas perlengakapan bayi, khususnya pakaian ke dalam sebuah tas. Untuk berjaga-jaga. Di rumah sakit, rasa mulas semakin sering. Terutama setelah istri di beri suntikan perangsang. Aku memang tak merasakan rasa sakit. Tapi melihat kondisi istriku, aku bisa membayangkan rasa sakitnya. Di kamar persalinan itu, pemeriksaan rutin di lakukan oleh para perawat. Selama itu pula, aku terus berusaha di sisi istri. Paling tidak, wujudku bisa menjadi sedikit penawar rasa sakit sang istri. Untuk terus mendampingi istri, berkali-kali harus bersikeras dengan perawat. Pasalnya, peraturan rumah sakit tidak membolehkan anggota keluarga untuk berada di kamar persalinan. Tapi sikap cerewetku bisa mengalahkan mereka.
Maghrib, istri masih berstatus buka 1. Begitu lama waktu untuk pindah ke status buka 2. Padahal, rasa sakit dan mulas semakin sering saja. Jam 8 malam, dokter Ariati, dokter yang selama ini terus mendampingi istri dari mulai awal kehamilan, tiba dan memeriksa. Jam 9 malam lewat baru berstatus buka 2. Perkiraan dokter, kelahiran baru akan terjadi besok atau senin siang. Anak pertama memang biasanya suka lama. Begitu kata dokter. Duh, masih lama ternyata. Dari hasil USG, posisi bayi juga masih belum sempurna, yakni masih sedikit terlentang. Harusnya adalah posisi bersujud. Tapi dokter berusaha meyakinkan bahwa proses kelahiran masih bisa di lakukan secara normal. Tapi dokter mengkhawatirkan tensi darah istriku yang tak stabil. Pada saat mulas, tekanan darah bisa mencapai 140.
Rasa sedih semakin bertambah mengingat kami adalah perantauan. Tak ada sanak keluarga yang datang menjenguk. Termasuk orang tua. Mertua baru akan berangkat senin sore dan tiba selasa pagi. Kami dan mereka memang tak mengira proses kelahiran berlangsung secepat ini. Karena sebelumnya, prediksi dokter menyatakan, kelahiran akan terjadi akhir bulan Mei, atau sekitar tanggal 29. Sementara Umiku, memang baru akan datang awal bulan Juni. Gantian, tukaran shift dengan mertua.
Makanya, kami benar-benar berjuang Cuma berdua. Ini membuat rasa sedih terus bertambah. Beberapa kali harus menangis, karena membayangkan perjuangan istri melawan rasa sakit hanya di temani aku. Kami berdua, tak ada yang lain. Terbayang kalau hal ini terjadi di kampung. Pastilah banyak saudara, jiran tetangga yang datang, menghibur dan memberi semangat untuk melewati proses yang maha berat ini.
Malam yang panjang. Satu menit rasanya seperti melewati satu hari. Aku semakin ingin cepat menyelesaikan proses ini. Tapi apa daya. Allah punya kuasa. Hanya doa dan mengaji yang bisa ku lakukan sambil terus member semangat kepada istri. Sesekali aku berusaha membuatnya tertawa dengan candaan-candaan menggoda. Tapi tetap saja, kegaringanku tak membuatnya bisa tertawa di ruang persalinan itu, kami berusaha untuk kuat dan tabah. Tak tahu jalan apa yang bisa di buat untuk menghilangkan rasa sakit. Dan memang tak ada jalan. Karena siapapun orangnya, proses kelahiran memang harus melewati fase seperti yang di alami istriku saat ini.
Sikap beberapa perawat di rumah sakit memang sesekali membuat naik pitam. Mereka sangat kaku menterjemahkan aturan rumah sakit. Beberapa kali aku harus membantah pernyataan mereka, bahwa sebagai suaminya, aku harus tetap berada di sisi istri. Selain bisa membantu dalam hal-hal tertentu, secara psikologis, kehadiranku juga akan membuatnya termotivasi untuk melewati proses ini. Kehadiranku juga bisa menjadi teman untuk berbagi rasa sakit. Siapapun orangnya jika seperti dalam posisi istriku saat ini, pastilah membutuhkan orang yang terdekat. Ini obat yang jauh lebih mujarab dari pada puluhan suntikan yang harus mereka cocorkan ke tubuh istriku.
Tapi hal ini yang justru tidak mereka sadari. Sampai pada akhirnya aku mengalah. Tengah malam itu, perawat yang kelihatannya sudah senior memintaku untuk menunggu di lobby rumah sakit karena batas waktunya sudah tidak bisa di kompromikan lagi. Aku mengalah setelah perawat menjamin bahwa para perawat akan stand by di ruang perawat itu untuk melihat istriku. Sebelumnya, perawat itu hanya duduk di tempat perawat, di luar kamar dan baru akan masuk bila akan melakukan pemeriksaan dan atau ketika di panggil saja.
Maka, tengah malam itu, aku menghabiskan waktu di lobby, duduk di kursi berbusa empuk yang di sediakan. Tapi busa empuk itu tak mampu membuatku nyaman, karena fikiran masih terus tertuju ke istri. Membayangkan rasa sakit yang di tanggung istri seorang diri, dan hanya di temani perawat, yang belum tentu punya pendekatan kemanusiaan untuk mengobati dan merawat pasiennya. Sesekali aku tertidur, tapi terbangun kembali tak lama kemudian. Mencoba masuk ke ruang persalinan, tempat istri berada, tapi ternyata pintu sudah di kunci. Maka, hingga pagi, aku hanya duduk, di temani kegelisahan dan kegundahan.
Paginya, aku baru bisa kembali melihat istriku. Wajahnya terlihat merah. Matanya berair saat aku datang. Ia merasakan kehilanganku malam itu. Saat mendekat, iapun memegang erat tanganku, seolah tak membolehkanku untuk pergi, meski untuk sesaat. Aku merasakan penderitannya malam itu. Tanpa diriku, berjuang sendirian, adalah sebuah pertempuran yang luar biasa. Aku tak mampu berkata apapun. Ku yakinkan dari pandanganku, bahwa aku akan tetap berada di sisinya, tak akan jauh.
Pagi itu, istriku sudah berstatus buka 5. Perawat menyatakan, bahwa jika akan kenaikan status lagi, maka istriku akan segera masuk ke ruang tindakan untuk persiapan kelahiran. Dan itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wib. Dokter memerintahkan hal itu setelah mendapat laporan dari perawat tentang adanya peningkatan status. Waktu mulas istriku juga semakin sering. Dua kali dalam 5 menit. Dan rasa sakit tampak semakin menjadi-jadi. Bila rasa sakit itu datang, istriku menegang, sesekali keluar kalimat zikir dari mulutnya. Aku berusaha untuk tenang dan terus berusaha menghiburnya.
Di ruang tindakan, aku masih bisa ikut mendampinginya, kecuali pada saat pemeriksaan. Dokter Ariati tiba di agak siang. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa istirku akan di rangsang lagi untuk mempercepat kontraksi. Bercak darah juga semakin banyak. Maka di perkirakan, dalam waktu dua jam paling lama, proses kelahiran akan terjadi. Tapi dokter masih mengkhawatirkan posisi bayi yang belum juga sempurna. Masih terlihat agak terlentang.
Pemeriksaan kedua, dokter mengatakan bahwa air ketuban istriku sudah agak menghijau. Ia berkata bahwa bayi stress karena proses yang sangat lambat. Dalam jangka panjang, bisa berakibat infeksi pada bayi. Sementara proses pembukaan dari 8 ke sepuluh terbilang lamban. Pada saat ngeden, terlihat posisi bayi agak terjepit dan sudah untuk keluar. Tak lama dari sinilah, dokter memutuskan bahwa proses persalinan normal akan sulit di lakukan. Bisa saja di lakukan secara normal, tapi tak baik bayi bayi. Dokter mengatakan hal itu di depan istriku. Mendengar argument itu, aku tak bisa mengelak. Setelah memandang istriku, aku berkata, “lakukan saja yang terbaik dok”.
Aku meyakinkan istriku bahwa proses ini akan selesai. Nggak perlu takut. Ia mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia memegang erat tanganku. Aku membelainya dengan penuh kasih saying. Aku meyakinkan dirinya untuk terus bersemangat. Ada wajah keletihan di wajahnya. Tekanan darah mencapai 140 menandakan ada rasa takut pada istriku.
Persiapan operasi di lakukan dengan secepat mungkin. Para perawat sibuk menyiapkan alat-alat, yang lainnya sibuk menelpon. Semuanya hiruk pikuk di depan kami. Aku terus berusaha untuk terus menghibur. Tapi tetap saja aku tak kuasa. Kini aku tak kuasa menahan air mata jatuh ke pipi di depan istriku. Ini tak baik. Tapi memang aku lemah, tak kuasa menahannya. Tapi secepat itu pula aku berusaha untuk menguasai diri. Sampai akhirnya istri di bawa ke ruang operasi. Aku melepasnya dengan senyum. Ia juga berusaha untuk senyum. Aku siap, apalagi setelah menandatangani form yang berisi menyerahkan segala sesuatunya tentang keselataman istri dan bayi pada dokter.
Aku di bawa ke ruang tunggu operasi. Di situ di sediakan televisi. Aku bisa menyaksikan langsung operasi itu dari pesawat televise. Aku hanya sempat melihatnya sesaat. Saat pisau-pisau dari para dokter itu menyayat perut istriku, seketika itu pula aku matikan televisi. Aku tak kuat. Aku tak tega. Selama ini, aku masih bisa menyaksikan adegan-adegan korban kekerasan, khususnya pada saat liputan criminal. Tapi kini, yang aku lihat adalah perut istriku sendiri. Aku seolah bukan menjadi ikhwan yang selama ini kuat.
Bahkan pada saat melihat jenazah buyaku, tak setetes air matapun mengalir di pipiku. Aku kuat. Meski setelah itu aku menumpahkan air mata. Tapi tidak di depan jenazah buyaku. Tapi kali ini memang berbeda. Sebagai penawarnya, aku mengambil air wudhuk. Aku sholat hajat untuk keselamatan istri dan bayiku. Aku menghabiskan waktu untuk mengaji, menyempurnakan surah yusuf dan surah At-Taubah. Waktu seolah berlalu begitu cepat. HIngga aku menghidupkan TV, kini di layar gambar yang terpampang adalah perut istriku yang sudah agak tertutup, dalam proses penjahitan. Ternyata operasi sudah hampir selesai. Langsung aku keluar untuk mencari bayiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan buah hatiku itu di ruang perawatan bayi. Lantunan adzan dan iqamah aku senandungkan.
NB : Nama dan Foto bayi menyusul...
Senyum bahagia tersungging dari bibir istriku, Pujiati. Saat baru keluar dari ruang operasi, aku langsung membelainya, memegang erat jemari tangannya. Senyum bahagia, tak terkira. Sampai-sampai, butiran air mata jatuh dari kelopak matanya. Air mata ini pemicu empati, hingga aku tak kuasa pula menahan butiran air mata menetes dari ujung kelopak mataku. Sungguh, sebuah perjuangan tak terkira, terutama bagi istriku. Operasi cesar adalah jalan terbaik, demi keselamatan sang bayi. Analisa dokter, bisa saja kelahiran berlangsung secara normal, tapi bisa berakibat tak baik bagi bayi bila terlalu di paksakan. Maka, ketika dokter member opsi operasi cesar, kami tak dapat mengelak. Prinsipnya, mana yang terbaik, ya lakukan saja. Rasanya, saat masuk ke Rumah sakit, kami sudah menggadaikan hidup sang bayi kepada dokter rumah sakit. Maka, jalan operasi di tempuh seketika itu juga.
Jauh dari bayangan. Impian memiliki bayi mungil nan lucu kini terwujud sudah. Melihat tangis bayi dan senyum kebahagiaan istri, rasanya sudah membayar beban yang di tanggung selama sehari lebih. Ya.. sehari lebih, dari mulai istri masuk rumah sakit sampai sang bayi mencium bau bumi. Rasa sakit yang di tanggung istri, rasanya juga menjadi rasa sakit juga bagiku. Tak tega melihat penderitaan, sampai beberapa kali harus menangis. Bagi istri, ini adalah perjuangan, antara hidup dan mati, demi sang bayi, titipan Illahi. Kini baru terasa, bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan kita dahulu. Bagitu sakit, berat dan semuanya di landasi keikhlasan. Tanpa pamrih. Tak terbayang bagaimana besarnya dosa bagi anak yang durhaka pada sang ibu.
Awalnya, minggu pagi, 18 Mei 2008. Subuh hari, istri merasakan ingin buang air besar di sertai mulas. Sementara pagi itu, aku bersiap untuk kerja. Tapi atas nasehat ibu tukang cuci setrika di rumah, akhirnya aku permisi izin tak kerja. Mulas yang semakin sering menjadi sinyal bahwa kami pagi itu harus ke rumah sakit. Sekitar jam 10.00 Wib, kamipun ke rumah sakit dengan sepeda motor. Jarak dari rumah ke rumah sakit tak sampai 500 meter. Setelah di periksa oleh perawat, aku di panggil. Ibu tua perawat itu menerangkan kalau istri sudah status buka 1 dan karena itu harus di rawat. Ada rasa bahagia. Sebentar lagi kami punya bayi. Tapi tersirat pula rasa takut menghadapi proses persalinan. Mendengar pengalaman dari teman-teman menciptakan bayangan ngeri di pikiranku. Dan mungkin pula istriku.
Aku segera pulang. Mengambil sebuah tas yang sudah berisi pakaian lengkap bayi dan mengambil pakaian istri. Sejak awal bulan, aku dan istri memang sudah mengemas perlengakapan bayi, khususnya pakaian ke dalam sebuah tas. Untuk berjaga-jaga. Di rumah sakit, rasa mulas semakin sering. Terutama setelah istri di beri suntikan perangsang. Aku memang tak merasakan rasa sakit. Tapi melihat kondisi istriku, aku bisa membayangkan rasa sakitnya. Di kamar persalinan itu, pemeriksaan rutin di lakukan oleh para perawat. Selama itu pula, aku terus berusaha di sisi istri. Paling tidak, wujudku bisa menjadi sedikit penawar rasa sakit sang istri. Untuk terus mendampingi istri, berkali-kali harus bersikeras dengan perawat. Pasalnya, peraturan rumah sakit tidak membolehkan anggota keluarga untuk berada di kamar persalinan. Tapi sikap cerewetku bisa mengalahkan mereka.
Maghrib, istri masih berstatus buka 1. Begitu lama waktu untuk pindah ke status buka 2. Padahal, rasa sakit dan mulas semakin sering saja. Jam 8 malam, dokter Ariati, dokter yang selama ini terus mendampingi istri dari mulai awal kehamilan, tiba dan memeriksa. Jam 9 malam lewat baru berstatus buka 2. Perkiraan dokter, kelahiran baru akan terjadi besok atau senin siang. Anak pertama memang biasanya suka lama. Begitu kata dokter. Duh, masih lama ternyata. Dari hasil USG, posisi bayi juga masih belum sempurna, yakni masih sedikit terlentang. Harusnya adalah posisi bersujud. Tapi dokter berusaha meyakinkan bahwa proses kelahiran masih bisa di lakukan secara normal. Tapi dokter mengkhawatirkan tensi darah istriku yang tak stabil. Pada saat mulas, tekanan darah bisa mencapai 140.
Rasa sedih semakin bertambah mengingat kami adalah perantauan. Tak ada sanak keluarga yang datang menjenguk. Termasuk orang tua. Mertua baru akan berangkat senin sore dan tiba selasa pagi. Kami dan mereka memang tak mengira proses kelahiran berlangsung secepat ini. Karena sebelumnya, prediksi dokter menyatakan, kelahiran akan terjadi akhir bulan Mei, atau sekitar tanggal 29. Sementara Umiku, memang baru akan datang awal bulan Juni. Gantian, tukaran shift dengan mertua.
Makanya, kami benar-benar berjuang Cuma berdua. Ini membuat rasa sedih terus bertambah. Beberapa kali harus menangis, karena membayangkan perjuangan istri melawan rasa sakit hanya di temani aku. Kami berdua, tak ada yang lain. Terbayang kalau hal ini terjadi di kampung. Pastilah banyak saudara, jiran tetangga yang datang, menghibur dan memberi semangat untuk melewati proses yang maha berat ini.
Malam yang panjang. Satu menit rasanya seperti melewati satu hari. Aku semakin ingin cepat menyelesaikan proses ini. Tapi apa daya. Allah punya kuasa. Hanya doa dan mengaji yang bisa ku lakukan sambil terus member semangat kepada istri. Sesekali aku berusaha membuatnya tertawa dengan candaan-candaan menggoda. Tapi tetap saja, kegaringanku tak membuatnya bisa tertawa di ruang persalinan itu, kami berusaha untuk kuat dan tabah. Tak tahu jalan apa yang bisa di buat untuk menghilangkan rasa sakit. Dan memang tak ada jalan. Karena siapapun orangnya, proses kelahiran memang harus melewati fase seperti yang di alami istriku saat ini.
Sikap beberapa perawat di rumah sakit memang sesekali membuat naik pitam. Mereka sangat kaku menterjemahkan aturan rumah sakit. Beberapa kali aku harus membantah pernyataan mereka, bahwa sebagai suaminya, aku harus tetap berada di sisi istri. Selain bisa membantu dalam hal-hal tertentu, secara psikologis, kehadiranku juga akan membuatnya termotivasi untuk melewati proses ini. Kehadiranku juga bisa menjadi teman untuk berbagi rasa sakit. Siapapun orangnya jika seperti dalam posisi istriku saat ini, pastilah membutuhkan orang yang terdekat. Ini obat yang jauh lebih mujarab dari pada puluhan suntikan yang harus mereka cocorkan ke tubuh istriku.
Tapi hal ini yang justru tidak mereka sadari. Sampai pada akhirnya aku mengalah. Tengah malam itu, perawat yang kelihatannya sudah senior memintaku untuk menunggu di lobby rumah sakit karena batas waktunya sudah tidak bisa di kompromikan lagi. Aku mengalah setelah perawat menjamin bahwa para perawat akan stand by di ruang perawat itu untuk melihat istriku. Sebelumnya, perawat itu hanya duduk di tempat perawat, di luar kamar dan baru akan masuk bila akan melakukan pemeriksaan dan atau ketika di panggil saja.
Maka, tengah malam itu, aku menghabiskan waktu di lobby, duduk di kursi berbusa empuk yang di sediakan. Tapi busa empuk itu tak mampu membuatku nyaman, karena fikiran masih terus tertuju ke istri. Membayangkan rasa sakit yang di tanggung istri seorang diri, dan hanya di temani perawat, yang belum tentu punya pendekatan kemanusiaan untuk mengobati dan merawat pasiennya. Sesekali aku tertidur, tapi terbangun kembali tak lama kemudian. Mencoba masuk ke ruang persalinan, tempat istri berada, tapi ternyata pintu sudah di kunci. Maka, hingga pagi, aku hanya duduk, di temani kegelisahan dan kegundahan.
Paginya, aku baru bisa kembali melihat istriku. Wajahnya terlihat merah. Matanya berair saat aku datang. Ia merasakan kehilanganku malam itu. Saat mendekat, iapun memegang erat tanganku, seolah tak membolehkanku untuk pergi, meski untuk sesaat. Aku merasakan penderitannya malam itu. Tanpa diriku, berjuang sendirian, adalah sebuah pertempuran yang luar biasa. Aku tak mampu berkata apapun. Ku yakinkan dari pandanganku, bahwa aku akan tetap berada di sisinya, tak akan jauh.
Pagi itu, istriku sudah berstatus buka 5. Perawat menyatakan, bahwa jika akan kenaikan status lagi, maka istriku akan segera masuk ke ruang tindakan untuk persiapan kelahiran. Dan itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wib. Dokter memerintahkan hal itu setelah mendapat laporan dari perawat tentang adanya peningkatan status. Waktu mulas istriku juga semakin sering. Dua kali dalam 5 menit. Dan rasa sakit tampak semakin menjadi-jadi. Bila rasa sakit itu datang, istriku menegang, sesekali keluar kalimat zikir dari mulutnya. Aku berusaha untuk tenang dan terus berusaha menghiburnya.
Di ruang tindakan, aku masih bisa ikut mendampinginya, kecuali pada saat pemeriksaan. Dokter Ariati tiba di agak siang. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa istirku akan di rangsang lagi untuk mempercepat kontraksi. Bercak darah juga semakin banyak. Maka di perkirakan, dalam waktu dua jam paling lama, proses kelahiran akan terjadi. Tapi dokter masih mengkhawatirkan posisi bayi yang belum juga sempurna. Masih terlihat agak terlentang.
Pemeriksaan kedua, dokter mengatakan bahwa air ketuban istriku sudah agak menghijau. Ia berkata bahwa bayi stress karena proses yang sangat lambat. Dalam jangka panjang, bisa berakibat infeksi pada bayi. Sementara proses pembukaan dari 8 ke sepuluh terbilang lamban. Pada saat ngeden, terlihat posisi bayi agak terjepit dan sudah untuk keluar. Tak lama dari sinilah, dokter memutuskan bahwa proses persalinan normal akan sulit di lakukan. Bisa saja di lakukan secara normal, tapi tak baik bayi bayi. Dokter mengatakan hal itu di depan istriku. Mendengar argument itu, aku tak bisa mengelak. Setelah memandang istriku, aku berkata, “lakukan saja yang terbaik dok”.
Aku meyakinkan istriku bahwa proses ini akan selesai. Nggak perlu takut. Ia mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia memegang erat tanganku. Aku membelainya dengan penuh kasih saying. Aku meyakinkan dirinya untuk terus bersemangat. Ada wajah keletihan di wajahnya. Tekanan darah mencapai 140 menandakan ada rasa takut pada istriku.
Persiapan operasi di lakukan dengan secepat mungkin. Para perawat sibuk menyiapkan alat-alat, yang lainnya sibuk menelpon. Semuanya hiruk pikuk di depan kami. Aku terus berusaha untuk terus menghibur. Tapi tetap saja aku tak kuasa. Kini aku tak kuasa menahan air mata jatuh ke pipi di depan istriku. Ini tak baik. Tapi memang aku lemah, tak kuasa menahannya. Tapi secepat itu pula aku berusaha untuk menguasai diri. Sampai akhirnya istri di bawa ke ruang operasi. Aku melepasnya dengan senyum. Ia juga berusaha untuk senyum. Aku siap, apalagi setelah menandatangani form yang berisi menyerahkan segala sesuatunya tentang keselataman istri dan bayi pada dokter.
Aku di bawa ke ruang tunggu operasi. Di situ di sediakan televisi. Aku bisa menyaksikan langsung operasi itu dari pesawat televise. Aku hanya sempat melihatnya sesaat. Saat pisau-pisau dari para dokter itu menyayat perut istriku, seketika itu pula aku matikan televisi. Aku tak kuat. Aku tak tega. Selama ini, aku masih bisa menyaksikan adegan-adegan korban kekerasan, khususnya pada saat liputan criminal. Tapi kini, yang aku lihat adalah perut istriku sendiri. Aku seolah bukan menjadi ikhwan yang selama ini kuat.
Bahkan pada saat melihat jenazah buyaku, tak setetes air matapun mengalir di pipiku. Aku kuat. Meski setelah itu aku menumpahkan air mata. Tapi tidak di depan jenazah buyaku. Tapi kali ini memang berbeda. Sebagai penawarnya, aku mengambil air wudhuk. Aku sholat hajat untuk keselamatan istri dan bayiku. Aku menghabiskan waktu untuk mengaji, menyempurnakan surah yusuf dan surah At-Taubah. Waktu seolah berlalu begitu cepat. HIngga aku menghidupkan TV, kini di layar gambar yang terpampang adalah perut istriku yang sudah agak tertutup, dalam proses penjahitan. Ternyata operasi sudah hampir selesai. Langsung aku keluar untuk mencari bayiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan buah hatiku itu di ruang perawatan bayi. Lantunan adzan dan iqamah aku senandungkan.
NB : Nama dan Foto bayi menyusul...
Label:
wak Lobai
| Reaksi: |
08 Mei 2008
30 Tahun Yang Lalu
Hidup bagai di dalam kereta. Pemandangan di luar terlihat nyata, melesat-lesat berkejaran. Di dalam kereta, penumpang duduk menanti tempat yang di tuju. Semuanya berjalan seolah lamban, mengalahkan situasi di luar yang terus berganti. Begitulah hidup dalam perjalanan waktu. 30 tahun rasanya punya rentang yang sangat panjang. Tapi seolah tak terasa.
“Hamparan padang membentang jauh
Pahit manis telah tersentuh
Kadang berjalan dengan tubuh lusuh
Kadang berlari mendayu-dayu”
Itulah penggalan tulisan yang tercetak di halaman depan skripsiku saat kuliah dulu. Uniknya, itulah hidup. Meski maksud hati pergi ke utara, tapi bisa jadi kekuatan lain menghantarkan dan mencampakkan kita ke arah lain, bisa ke timur, barat atau selatan. Sebuah asa tak selamanya menyediakan ruang realitas yang berbanding lurus. Tapi semuanya telah menjadi guru. Bahwa hiduplah dengan hikmah. Karena sebuah pelajaran ada dibalik realitas yang kerap kita jalani.
30 tahun lalu, di sebuah rumah berdinding papan. Di salah satu afdelling, sebutan bagi satu dusun di sebuah perkebunan kelapa sawit, di pelosok sumatera utara. Tangisan yang di tunggu pecah dan akhirnya menjadi sebuah kebahagiaan. Belajar bicara, berjalan, mengenal wajah-wajah di sekitar, mengecap pendidikan hingga akhirnya mengenal hidup yang misterius ini. Adalah dua insan, sang pahlawan yang sesungguhnya. Umi dan Buya.
Kasih sayang mereka mengiringi setiap detak jantung kehidupan. Kebajikan dan amal soleh senantiasa di titipkan. Kebebasan dan tanggung jawab terus di tanamkan. Kemandirian terus di contohkan. Sebuah nilai hidup yang hingga kini coba terus di hidupkan.
Tapi belajar belum usai dan tak kan pernah mengenal kata usai. Badai gelombang pasti tetap mengintai, sebanding dengan kenikmatan hidup yang juga senantiasa menanti. 30 tahun memang waktu yang tak sebentar, tapi sangat singkat untuk mengerti apa makna hidup sesungguhnya.
“Hamparan padang membentang jauh
Pahit manis telah tersentuh
Kadang berjalan dengan tubuh lusuh
Kadang berlari mendayu-dayu”
Itulah penggalan tulisan yang tercetak di halaman depan skripsiku saat kuliah dulu. Uniknya, itulah hidup. Meski maksud hati pergi ke utara, tapi bisa jadi kekuatan lain menghantarkan dan mencampakkan kita ke arah lain, bisa ke timur, barat atau selatan. Sebuah asa tak selamanya menyediakan ruang realitas yang berbanding lurus. Tapi semuanya telah menjadi guru. Bahwa hiduplah dengan hikmah. Karena sebuah pelajaran ada dibalik realitas yang kerap kita jalani.
30 tahun lalu, di sebuah rumah berdinding papan. Di salah satu afdelling, sebutan bagi satu dusun di sebuah perkebunan kelapa sawit, di pelosok sumatera utara. Tangisan yang di tunggu pecah dan akhirnya menjadi sebuah kebahagiaan. Belajar bicara, berjalan, mengenal wajah-wajah di sekitar, mengecap pendidikan hingga akhirnya mengenal hidup yang misterius ini. Adalah dua insan, sang pahlawan yang sesungguhnya. Umi dan Buya.
Kasih sayang mereka mengiringi setiap detak jantung kehidupan. Kebajikan dan amal soleh senantiasa di titipkan. Kebebasan dan tanggung jawab terus di tanamkan. Kemandirian terus di contohkan. Sebuah nilai hidup yang hingga kini coba terus di hidupkan.
Tapi belajar belum usai dan tak kan pernah mengenal kata usai. Badai gelombang pasti tetap mengintai, sebanding dengan kenikmatan hidup yang juga senantiasa menanti. 30 tahun memang waktu yang tak sebentar, tapi sangat singkat untuk mengerti apa makna hidup sesungguhnya.
Label:
wak Lobai
| Reaksi: |
06 Mei 2008
Popularitas SBY Tinggi, Harga BBM Naik
Ada dua berita di media massa hari ini yang sungguh bertolak belakang. Berita pertama adalah kepastian kenaikan harga BBM. Yang kedua adalah rilis dari survey politik nasional yang di lakukkan Research and Development Institute (RDI) yang menyatakan bahwa SBY masih menjadi figure yang dipercaya oleh rakyat untuk mengatasi kesulitan bangsa saat ini. Memang, konteks berita ini lahir di waktu yang berbeda. Yang satu adalah hasil rapat ekonomi terbatas yang di pimpin SBY pada hari Senin, 5 Mei, sementara yang satunya adalah survey yang di lakukan pada akhir Maret 2008.
Dalam survey terhadap 2600 responden di 33 propinsi tersebut, SBY masih merupakan tokoh yang paling banyak di pilih jika pemilu di lakukan hari ini. JIka di hadapkan pada Megawati, sebanyak 57,4 persen responden akan memilih putra Ciamis itu dan 40,1 persen lainnya yang memilih Megawati. Begitu pula jika SBY di hadapkan pada Wiranto, responden pemilih SBY sebanyak 63,7 persen, sedangkan pemilih Wiranto 32,9 persen. Angka peroleh SBY akan lebih tinggi lagi bila di hadapkan pada Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni 66,9 untuk SBY dan 29,4 persen untuk Sri Sultan.
Jika berhadapan dengan Hidayat Nur Wahid, SBY di pilih 71,7 persen, sedangkan mantan Presiden PKS hanya di pilih 24,9 persen. Begitu pula jika SBY berhadapan dengan wakilnya saat ini, yakni Jusuf Kall, responden yang memilih SBY sebanyak 77, 1 persen berbanding 19,6 persen.
Pilihan responden itu tentunya saat berita tentang rencana kenaikan harga BBM belum di buat. Padahal, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di pastikan akan membuat citra pemerintahan SBY melorot. Dampak kenaikan harga BBM tentu sangat terasa pada masyarakat menengah ke bawah yang selama ini saja sudah sangat kesulitan. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, kenaikan biaya transportasi dan kenaikan biaya produksi pada industri adalah efek domino dari kenaikan BBM. Masyarakat miskin adalah lapisan masyarakat yang paling terkena dampaknya.
Pemerintah memang akan menyiapkan kompensasi dari kenaikan BBM pada masyarakat miskin. Namun masih belum jelas dalam bentuk apa. Dan lagi, apapun bentuk kompensasi itu, rasanya tidak akan bisa menandingi kerugian yang dialami masyarakat miskin. Pengalaman yang sudah-sudah, berbentuk jaring pengaman social, bantuan langsung tunai atau yang lainnya, tidak efektif untuk menanggulangi kesulitan yang dialami masyarakat kecil.
Dalam konteks ini, SBY berani mengambil resiko. Ia rela popularitasnya turun asal Anggaran Negara terselamatkan. Ia rela peluangnya di 2009 akan mengecil demi menghindari kebocoran deficit APBN yang jumlahnya bisa mencapai ratusan trilyun atau di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menarik membaca analisis politik Eef Saefulloh Fatah di harian Kompas hari ini. “Demokrasi tak mengajarkan ketergantungan pada pemimpin. Akan tetapi, dalam situasi krisis, demokrasi senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang di tunggu..”
Tentu keputusan menaikkan harga BBM bukanlah tindakan emosional, gegabah, hasil pikiran jangka pendek dari seorang SBY. Sebelumnya, ia berulangkali menyatakan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM sampai tahun 2009. Artinya, ia tidak mau mengambil resiko di saat menjelang Pemilu karena itu dianggap sebagai keputusan tak populer. Ia sadar bahwa biaya politiknya akan sangat mahal dengan keputusan ini. Di sini letak kepemimpinan di uji.
Tapi SBY berhasil keluar dari bayang-bayang ketakutan lunturnya popularitas. Dalam situasi sulit, kenaikan harga Minyak dunia yang bahkan di atas 115 dollar per barrel, sebuah keputusan di ambil. Kebijakan kenaikan BBM, meski masih dalam perhitungan berapa persen kenaikan dan waktu berlakunya, harus diakui telah menghapus banyak analisis yang menyatakan bahwa SBY pemimpin yang penakut, tak berani mengambil reksiko.
Sudah bukan rahasia umum lagi. Tudingan bahwa SBY lebih mengedepankan tebar pesona ketimbang kerja nyata telah banyak di suarakan banyak pihak, tak hanya musuh politiknya, tapi juga teman politiknya dalam koalisi pendukung SBY-JK dalam Pilpres 2004 yang lalu. SBY juga dianggap terlalu kompromistis demi stempel pemimpin yang pro rakyat. Dan rencana kenaikan BBM ini, agaknya telah mengalahkan opini itu.
Hari-hari kedepan, dipastikan akan muncul banyak penolakan dari banyak pihak, apalagi dari musuh politiknya di Senayan. Dan memang begitulah pemimpin. Ia harus siap menerima reksiko dari keputusan yang di ambilnya. Pemimpin hadir justru karena untuk mengambil sikap yang dianggapnya benar demi kemaslahatan rakyat yang di pimpinnya. Dan jabatannya itu adalah taruhannya.
Karena itu, meski dalam survey terakhir SBY masih di unggulkan untuk menjadi pemimpin bangsa, pasca kenaikan harga BBM, tentu kondisinya akn berbeda. SBY harus siap tak terpilih lagi dalam Pilpres mendatang. Tapi bisa jadi, namanya akan tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pemimpin yang pernah menyelamatkan bangsa dari ancaman kebangrutan ekonomi.
Entahlah…
Dalam survey terhadap 2600 responden di 33 propinsi tersebut, SBY masih merupakan tokoh yang paling banyak di pilih jika pemilu di lakukan hari ini. JIka di hadapkan pada Megawati, sebanyak 57,4 persen responden akan memilih putra Ciamis itu dan 40,1 persen lainnya yang memilih Megawati. Begitu pula jika SBY di hadapkan pada Wiranto, responden pemilih SBY sebanyak 63,7 persen, sedangkan pemilih Wiranto 32,9 persen. Angka peroleh SBY akan lebih tinggi lagi bila di hadapkan pada Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni 66,9 untuk SBY dan 29,4 persen untuk Sri Sultan.
Jika berhadapan dengan Hidayat Nur Wahid, SBY di pilih 71,7 persen, sedangkan mantan Presiden PKS hanya di pilih 24,9 persen. Begitu pula jika SBY berhadapan dengan wakilnya saat ini, yakni Jusuf Kall, responden yang memilih SBY sebanyak 77, 1 persen berbanding 19,6 persen.
Pilihan responden itu tentunya saat berita tentang rencana kenaikan harga BBM belum di buat. Padahal, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di pastikan akan membuat citra pemerintahan SBY melorot. Dampak kenaikan harga BBM tentu sangat terasa pada masyarakat menengah ke bawah yang selama ini saja sudah sangat kesulitan. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, kenaikan biaya transportasi dan kenaikan biaya produksi pada industri adalah efek domino dari kenaikan BBM. Masyarakat miskin adalah lapisan masyarakat yang paling terkena dampaknya.
Pemerintah memang akan menyiapkan kompensasi dari kenaikan BBM pada masyarakat miskin. Namun masih belum jelas dalam bentuk apa. Dan lagi, apapun bentuk kompensasi itu, rasanya tidak akan bisa menandingi kerugian yang dialami masyarakat miskin. Pengalaman yang sudah-sudah, berbentuk jaring pengaman social, bantuan langsung tunai atau yang lainnya, tidak efektif untuk menanggulangi kesulitan yang dialami masyarakat kecil.
Dalam konteks ini, SBY berani mengambil resiko. Ia rela popularitasnya turun asal Anggaran Negara terselamatkan. Ia rela peluangnya di 2009 akan mengecil demi menghindari kebocoran deficit APBN yang jumlahnya bisa mencapai ratusan trilyun atau di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menarik membaca analisis politik Eef Saefulloh Fatah di harian Kompas hari ini. “Demokrasi tak mengajarkan ketergantungan pada pemimpin. Akan tetapi, dalam situasi krisis, demokrasi senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang di tunggu..”
Tentu keputusan menaikkan harga BBM bukanlah tindakan emosional, gegabah, hasil pikiran jangka pendek dari seorang SBY. Sebelumnya, ia berulangkali menyatakan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM sampai tahun 2009. Artinya, ia tidak mau mengambil resiko di saat menjelang Pemilu karena itu dianggap sebagai keputusan tak populer. Ia sadar bahwa biaya politiknya akan sangat mahal dengan keputusan ini. Di sini letak kepemimpinan di uji.
Tapi SBY berhasil keluar dari bayang-bayang ketakutan lunturnya popularitas. Dalam situasi sulit, kenaikan harga Minyak dunia yang bahkan di atas 115 dollar per barrel, sebuah keputusan di ambil. Kebijakan kenaikan BBM, meski masih dalam perhitungan berapa persen kenaikan dan waktu berlakunya, harus diakui telah menghapus banyak analisis yang menyatakan bahwa SBY pemimpin yang penakut, tak berani mengambil reksiko.
Sudah bukan rahasia umum lagi. Tudingan bahwa SBY lebih mengedepankan tebar pesona ketimbang kerja nyata telah banyak di suarakan banyak pihak, tak hanya musuh politiknya, tapi juga teman politiknya dalam koalisi pendukung SBY-JK dalam Pilpres 2004 yang lalu. SBY juga dianggap terlalu kompromistis demi stempel pemimpin yang pro rakyat. Dan rencana kenaikan BBM ini, agaknya telah mengalahkan opini itu.
Hari-hari kedepan, dipastikan akan muncul banyak penolakan dari banyak pihak, apalagi dari musuh politiknya di Senayan. Dan memang begitulah pemimpin. Ia harus siap menerima reksiko dari keputusan yang di ambilnya. Pemimpin hadir justru karena untuk mengambil sikap yang dianggapnya benar demi kemaslahatan rakyat yang di pimpinnya. Dan jabatannya itu adalah taruhannya.
Karena itu, meski dalam survey terakhir SBY masih di unggulkan untuk menjadi pemimpin bangsa, pasca kenaikan harga BBM, tentu kondisinya akn berbeda. SBY harus siap tak terpilih lagi dalam Pilpres mendatang. Tapi bisa jadi, namanya akan tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pemimpin yang pernah menyelamatkan bangsa dari ancaman kebangrutan ekonomi.
Entahlah…
05 Mei 2008
Cerita Di Balik Milad 10 PKS
wanita itu adalah An Nida Nia. Pagi itu ia repot bukan kepalang. Sebuah SMS malam sebelumnya menjadi pemicunya. “ Ass. Gelorakan smngt, kuatkan tekad. Hadiri puncak Milad PKS di gelora Snyan, Ahad, 4 Mei jam 7 – 12. Kumpul d Kecmatan jam 06.00”.
Ia mengajak serta suaminya untuk hadir di acara itu. Sang suami tak dapat mengelak. Ia faham kalau istrinya adalah kader PKS yang sulit absen dari kegiatan partai meskipun sedang hamil. Bahkan kehamilannya sudah hampir mencapai 9 bulan. Tapi panggilan partai rasanya sulit untuk di tolak.
Maka, pagi yang biasanya santai itu pun berubah menjadi kesibukan. Dari mulai mencuci pakaian, belanja ke pasar, memasak, mengepel lantai hingga menyiram bunga. Mereka bersepakat pergi dengan motor saja ketimbang dengan rombongan menggunakan bus di kecamatan. Maka, tak harus pagi sekali mereka berangkat. Jam setengah 9 akhirnya pasangan suami istri itu selesai dan segera berangkat ke Stadion Gelora Bung Karno, tempat perhelatan akbar yang akan mereka hadiri.
Di jalan, suasana sepi. Maklum hari itu hari minggu, waktu bagi orang Jakarta berdiam diri di rumah. Tak terlihat pula konvoi orang-orang PKS yang akan ke Senayan. Kemana mereka gerangan? Tak terlihat kemacetan hingga ke bibir Gelora Bung Karno. Tapi deretan bus sudah terjejer rapi di pinggir jalan. Di sekitar halaman stadion, barulah terlihat ribuan orang yang antri masuk ke dalam. Pakaian putih-putih mendominasi. Beberapa diantaranya berlogo padi dan kapas. Banyak pula anak-anak kecil yang ikut serta. Pagi yang panas tak menyurutkan semangat para kader untuk memeriahkan acara ulang tahun itu.
Setelah antri, berdesakan, keringat bercucuran, dapatlah sebuah tempat duduk bagi Nia. Wajahnya sudah bermandikan keringat. Namun senyum dan semangat mendengarkan Tifatul Sembiring, sang presiden partai, Hilmi Aminuddin, sang Ketua Dewan Syuro hingga SBY, sang presiden membuat ia lupa dengan terik matahari. Sang suami setia berdiri di sisinya.Semangat bergelora saat massa bertepuk tangan, bertakbir dan mengibar-ngibarkan bendera PKS. Terlebih saat Nia melihat dan mendengar langsung grup music favoritnya mengisi acara. Grup Shotul Harokah pagi itu memang berhasil membangkitkan semangat seratusan ribu massa untuk menggapai optimisme dalam memenangkan partai.
An Nida Nia ikhti adalah satu dari seratusan ribu massa PKS yang pagi itu memenuhi stadiun Bung Karno. PKS memang sebuah partai fenomenal. Meski baru berumur sepuluh tahun, tapi ia sudah membuat banyak orang takjub. Sebuah kebersamaan, loyalitas, militansi dan kepedulian membuat citra partai ini baik di mata rakyat kebanyakan. Citra bersih, tak terkontaminasi masa lalu yang koruptip menjadi nilai tambah lagi. Sikap agamis yang berhasil di pertunjukkan, peduli terhadap sesama, membuat banyak orang bersimpati. Pemilu pertama kali yang mereka ikuti, mereka sudah mendapat 7 kursi di DPR. Pemilu tahun 2004 lalu bahkan melonjak 7 kali lipat. Dalam Pilkada di banyak daerah, partai Islam ini memenangkan 88 di wilayah propinsi, kabupaten dan kota. Terakhir, yang fenomenal, adalah kemenangan partai ini dalam Pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Partai ini berhasil menjungkirbalikkan analisa banyak pihak bahwa menang dalam pilkada harus dengan partai Besar. Partai Golkar dan PDIP yang selama ini menguasai banyak daerah, berhasil di kalahkan. Sebuah prestasi yang sulit di buat partai baru lain.
Kaderisasi menjadi salah satu kunci partai ini bisa menggurita di tengah-tengah masyarakat. Nia adalah salah satu contohnya. Wanita ini sudah tertarik ke PKS sejak kuliah. Pengajian yang rutin di gelar setiap minggu membuat ia meyakini, bahwa masuk ke PKS tidak hanya sekedar aktivitas politik, tapi juga ibadah. Nilai itu tertanam sangat dalam ke para kader. Pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan itu sebagai ibadah membuat mereka mau melakukan apa saja, mengorbankan apa saja demi sebuah ibadah. Pemahamannya, aktivitas di partai adalah berdakwah, menyebarkan pola kehidupan yang sesuai tuntutan syariah ke masyarakat.
Berpartai tak harus berambisi kekuasaan, namun bagaimana nilai-nialai dakwah bisa di terima ke masyarakat. Nilai ini terpatri kuat.Tak heran, dalam Pilkada di Jakarta yang lalu misalnya, Nia bersedia menjadi tim relawan yang menyosialisasikan calon dari PKS ke masyarakat. Tak ada janji-janji uang, tak ada di sediakan sarana khusus. Tapi, ia bersama teman-temannya di pengurus ranting, masuk ke gang-gang kotor, mengetuk pintu rumah, masuk dan mengenalkan calon yang mereka jagokan. Siang dan malam bekerja tanpa mendapat kompensasi, karena yang di harap adalah pahala. Begitulah pemahamannya.
Sikap antipasti dari sebagian masyarakat, panas terik atau hujan sekalipun, tak menyurutkan semangat untuk berkerja demi partai. Kini, PKS menatap ke 2009. Optimisme menyeruak di wajah mereka. Euforia kemenangan saat Pilkada begitu terasa. Padahal, kini masyarakat menanti kerja nyata dari jagoan mereka yang telah duduk di kursi pemerintahan. Akankah ada perubahan, atau tetap saja dengan yang lama ; rakyat tetap kelaparan, harga melambung tinggi, pengangguran terus bertambah dan kemiskinan tak berkesudahan. JIka kemenangan tak di barengi dan kerja nyata yang menyentuh masyarakat, maka tak mustahil nasib partai itu tak jauh beda dengan partai lain. Di tinggalkan dan masyarakat kembali di hadapkan pada sikap pesimis dan mati harapan…
Ia mengajak serta suaminya untuk hadir di acara itu. Sang suami tak dapat mengelak. Ia faham kalau istrinya adalah kader PKS yang sulit absen dari kegiatan partai meskipun sedang hamil. Bahkan kehamilannya sudah hampir mencapai 9 bulan. Tapi panggilan partai rasanya sulit untuk di tolak.
Maka, pagi yang biasanya santai itu pun berubah menjadi kesibukan. Dari mulai mencuci pakaian, belanja ke pasar, memasak, mengepel lantai hingga menyiram bunga. Mereka bersepakat pergi dengan motor saja ketimbang dengan rombongan menggunakan bus di kecamatan. Maka, tak harus pagi sekali mereka berangkat. Jam setengah 9 akhirnya pasangan suami istri itu selesai dan segera berangkat ke Stadion Gelora Bung Karno, tempat perhelatan akbar yang akan mereka hadiri.
Di jalan, suasana sepi. Maklum hari itu hari minggu, waktu bagi orang Jakarta berdiam diri di rumah. Tak terlihat pula konvoi orang-orang PKS yang akan ke Senayan. Kemana mereka gerangan? Tak terlihat kemacetan hingga ke bibir Gelora Bung Karno. Tapi deretan bus sudah terjejer rapi di pinggir jalan. Di sekitar halaman stadion, barulah terlihat ribuan orang yang antri masuk ke dalam. Pakaian putih-putih mendominasi. Beberapa diantaranya berlogo padi dan kapas. Banyak pula anak-anak kecil yang ikut serta. Pagi yang panas tak menyurutkan semangat para kader untuk memeriahkan acara ulang tahun itu.
Setelah antri, berdesakan, keringat bercucuran, dapatlah sebuah tempat duduk bagi Nia. Wajahnya sudah bermandikan keringat. Namun senyum dan semangat mendengarkan Tifatul Sembiring, sang presiden partai, Hilmi Aminuddin, sang Ketua Dewan Syuro hingga SBY, sang presiden membuat ia lupa dengan terik matahari. Sang suami setia berdiri di sisinya.Semangat bergelora saat massa bertepuk tangan, bertakbir dan mengibar-ngibarkan bendera PKS. Terlebih saat Nia melihat dan mendengar langsung grup music favoritnya mengisi acara. Grup Shotul Harokah pagi itu memang berhasil membangkitkan semangat seratusan ribu massa untuk menggapai optimisme dalam memenangkan partai.
An Nida Nia ikhti adalah satu dari seratusan ribu massa PKS yang pagi itu memenuhi stadiun Bung Karno. PKS memang sebuah partai fenomenal. Meski baru berumur sepuluh tahun, tapi ia sudah membuat banyak orang takjub. Sebuah kebersamaan, loyalitas, militansi dan kepedulian membuat citra partai ini baik di mata rakyat kebanyakan. Citra bersih, tak terkontaminasi masa lalu yang koruptip menjadi nilai tambah lagi. Sikap agamis yang berhasil di pertunjukkan, peduli terhadap sesama, membuat banyak orang bersimpati. Pemilu pertama kali yang mereka ikuti, mereka sudah mendapat 7 kursi di DPR. Pemilu tahun 2004 lalu bahkan melonjak 7 kali lipat. Dalam Pilkada di banyak daerah, partai Islam ini memenangkan 88 di wilayah propinsi, kabupaten dan kota. Terakhir, yang fenomenal, adalah kemenangan partai ini dalam Pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Partai ini berhasil menjungkirbalikkan analisa banyak pihak bahwa menang dalam pilkada harus dengan partai Besar. Partai Golkar dan PDIP yang selama ini menguasai banyak daerah, berhasil di kalahkan. Sebuah prestasi yang sulit di buat partai baru lain.
Kaderisasi menjadi salah satu kunci partai ini bisa menggurita di tengah-tengah masyarakat. Nia adalah salah satu contohnya. Wanita ini sudah tertarik ke PKS sejak kuliah. Pengajian yang rutin di gelar setiap minggu membuat ia meyakini, bahwa masuk ke PKS tidak hanya sekedar aktivitas politik, tapi juga ibadah. Nilai itu tertanam sangat dalam ke para kader. Pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan itu sebagai ibadah membuat mereka mau melakukan apa saja, mengorbankan apa saja demi sebuah ibadah. Pemahamannya, aktivitas di partai adalah berdakwah, menyebarkan pola kehidupan yang sesuai tuntutan syariah ke masyarakat.
Berpartai tak harus berambisi kekuasaan, namun bagaimana nilai-nialai dakwah bisa di terima ke masyarakat. Nilai ini terpatri kuat.Tak heran, dalam Pilkada di Jakarta yang lalu misalnya, Nia bersedia menjadi tim relawan yang menyosialisasikan calon dari PKS ke masyarakat. Tak ada janji-janji uang, tak ada di sediakan sarana khusus. Tapi, ia bersama teman-temannya di pengurus ranting, masuk ke gang-gang kotor, mengetuk pintu rumah, masuk dan mengenalkan calon yang mereka jagokan. Siang dan malam bekerja tanpa mendapat kompensasi, karena yang di harap adalah pahala. Begitulah pemahamannya.
Sikap antipasti dari sebagian masyarakat, panas terik atau hujan sekalipun, tak menyurutkan semangat untuk berkerja demi partai. Kini, PKS menatap ke 2009. Optimisme menyeruak di wajah mereka. Euforia kemenangan saat Pilkada begitu terasa. Padahal, kini masyarakat menanti kerja nyata dari jagoan mereka yang telah duduk di kursi pemerintahan. Akankah ada perubahan, atau tetap saja dengan yang lama ; rakyat tetap kelaparan, harga melambung tinggi, pengangguran terus bertambah dan kemiskinan tak berkesudahan. JIka kemenangan tak di barengi dan kerja nyata yang menyentuh masyarakat, maka tak mustahil nasib partai itu tak jauh beda dengan partai lain. Di tinggalkan dan masyarakat kembali di hadapkan pada sikap pesimis dan mati harapan…
03 Mei 2008
Cerita di Balik MLB PKB versi Gus Dur
“Ikhwan besok liputan Muktamar luar biasa PKB Gus Dur ya. Nginap di Parung”, kalimat dari saluran telepon itu di lontarkan Mas Dedy, coordinator liputan yang kebetulan tugas hari itu. “Siap”, jawaban khas anak-anak News Trans TV. Liputan berbau politik memang selalu menarik hatiku. Apalagi Konflik PKB lagi hangat-hangatnya.
Namun bayangan indah liputan muktamar PKB ini ternyata berbanding terbalik. Perjalanan menuju ke lokasi acara saja sudah membuat kesan tak manarik. Kegiatan yang berlangsung di pesantren Al-Ashriyyah, Nurul Iman, Parung, Bogor ini jaraknya memang sangat jauh. Dan lagi, kondisi jalan yang berlubang, tak beraspal menambah parah keadaan. Jalanan macet karena bus-bus rombongan peserta mukatamar memenuhi jalan yang sempit itu. Petugas Garda bangsa tampak tak siap mengatur arus lalu lintas.
Tempat acara muktamar adalah sebuah gedung terbuka yang biasa di gunakan untuk latihan karate para santri. Tapi di perindah dengan tenda putih dan panggung yang lumayan megah. Ratusan peserta tampak tertatih-tatih membawa barang bawaan. Beberapa diantaranya mendaftar di tempat registrasi. Semuanya terlihat seperti terburu-buru. Maklumlah, muktamar PKB versi Gus Dur ini memang di buat 5 hari sebelumnya. Jadi semuanya terburu-buru.
Pondok pesantren Ashiriyyah ini memang tak memiliki fasilitas yang cukup. Namun menjelang Muktamar, segala fasilitas pendukung di persiapkan. Misalnya lapangan bola yang becek pada saat hujan di tutupi dengan ubin. Tenda-tenda besar di pasang. Ruang perpustakaan di jadikan media centre dan ruang registrasi. Atap gedung latihan karate di perbaiki. Kamar mandi buat peserta di buat dengan bambu dan di tutupi dengan kain karung. Pokoknya jauh dari kemewahan.
Di ruang media centre memang di sediakan beberapa unit komputer. Namun sayang, komputer itu jadi tak begitu berguna karena tidak menyediakan layanan internet. padahal, fasilitas internet wajib bagi wartawan, baik untuk mengirim berita ke kantor maupun mengirim gambar buat wartawan TV.
Namun di balik keterbatasan itu, peserta dan para santri yang jumlahnya hampir 12 ribu orang itu sangat antusias menyambut sang sosok kontroversial. Ya, kedatangan Gus Dur melebihi antusiasme masyarakat desa yang kedatangan SBY naik ojek. Dan inilah musuh wartawan sesungguhnya. Yakni tak bisa mengambil moment kedatangan ketua dewan Syuro PKB itu. Belum lagi sifat arogan satgas garda bangsa yang galaknya melebihi Paspampres yang baru di mutasi ke Koramil daerah terpencil.
Gus Dur, bagi mereka, adalah sosok yang di puja, di sanjung dan di junjung. Ia layaknya seorang nabi, yang tangannya harus di cium demi sebuah berkah. Sikap Gus Dur yang penuh kontroversi, suka melawan arus, bahkan banyak bertentangan dengan kalangan Islam tradisional sekalipun, tampak menjadi cair. Ia memang ibarat Nabi.
Acara pembukaan di tandai dengan pemukulan angklung banyumas oleh Gus Dur. Namun di warnai oleh hujan deras dan petir keras bersahutan. Suara air di atap mengalahkan suara sound system. Hujan lebat itu membuat tanah di tenda paling belakang kebanjiran. Tingginya melebihi batas mata kaki. Di tambah lagi oleh lumpur merah dari tanah pesantren yang dulu katanya adalah rawa-rawa.
Saat malam tiba. suara sound system bersahutan. Panitia tampak repot mengarahkan peserta untuk makan malam. Banyak pula panggilan kepada peserta karena di cari oleh temannya sendiri. Tak sedikit yang di panggil karena mobil peserta menghalangi jalan kendaraan lain. Bagi wartawan, malam itu tak dapat jatah makan. Maka, aku dan Danu, sang reporter, mencari makan di luar arena muktamar. Tapi susahnya minta ampun. Setelah putar-putar, akhirnya kami dapat makan nasi pake indomie rebus dan telur goreng. banyak pula peserta yang santap malam di sekitar kami. "Gak pas di perut", kata salah seorang peserta dari Banjarmasin ketika aku tanya kenapa tak makan dari jatah panitia.
Jam 2 lebih dini hari acara baru usai. Kami pun keluar mencari hotel. Bayangan tidur indah di kasur empuk ber AC akhirnya kandas. Tak satupun hotel yang kami cari ada kamar kosong. Semuanya habis di pake peserta muktamar. Lelah mencari sampai hampir ke Bogor, akhirnya kamipun terlelap di mobil sampe jam 7 pagi. Sikat gigi dan cuci muka kami lakukan di kamar mandi sebuah mesjid.
Acara kembali berlangsung. Ali Maskur Musa terpilih sebagai Ketua Dewan Tanfidz. Semuanya tampak sudah di skenariokan. 11 DPW mendukung pencalonan Yenny Wahid. 6 ke Muamir dan hanya 1 ke Ali Maskur. Selebihnya menyerahkan ke Gus Dur. Yenny Wahid, mundur dari pencalonan dan menyerahkan suara pendukungnya ke Ali Maskur Musa. Dan di dalam sidang, akhirnya semua kembali ke Gus Dur. Gus Dur tak mau ambil keputusan sendiri. Ia mengundang 6 orang dari perwakilan pulau, yakni sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi, maluku dan papua. Akhirnya Ali Maskur Musa terpilih secara aklamasi.
Semuanya berlangsung datar. tak ada dinamika forum kecuali pada saat rapat pleno malam sebelumnya yang sempat di warnai hujan interupsi. Maka Muktamar luar biasa di tutup dan menghasilkan keputusan. Peserta Muktamar, bagiku, tampak hanya jadi pelengkap, agar kegiatan tampak legitimate, konstitusional dan kuat secara politis.
Entahlah…
Namun bayangan indah liputan muktamar PKB ini ternyata berbanding terbalik. Perjalanan menuju ke lokasi acara saja sudah membuat kesan tak manarik. Kegiatan yang berlangsung di pesantren Al-Ashriyyah, Nurul Iman, Parung, Bogor ini jaraknya memang sangat jauh. Dan lagi, kondisi jalan yang berlubang, tak beraspal menambah parah keadaan. Jalanan macet karena bus-bus rombongan peserta mukatamar memenuhi jalan yang sempit itu. Petugas Garda bangsa tampak tak siap mengatur arus lalu lintas.
Tempat acara muktamar adalah sebuah gedung terbuka yang biasa di gunakan untuk latihan karate para santri. Tapi di perindah dengan tenda putih dan panggung yang lumayan megah. Ratusan peserta tampak tertatih-tatih membawa barang bawaan. Beberapa diantaranya mendaftar di tempat registrasi. Semuanya terlihat seperti terburu-buru. Maklumlah, muktamar PKB versi Gus Dur ini memang di buat 5 hari sebelumnya. Jadi semuanya terburu-buru.
Pondok pesantren Ashiriyyah ini memang tak memiliki fasilitas yang cukup. Namun menjelang Muktamar, segala fasilitas pendukung di persiapkan. Misalnya lapangan bola yang becek pada saat hujan di tutupi dengan ubin. Tenda-tenda besar di pasang. Ruang perpustakaan di jadikan media centre dan ruang registrasi. Atap gedung latihan karate di perbaiki. Kamar mandi buat peserta di buat dengan bambu dan di tutupi dengan kain karung. Pokoknya jauh dari kemewahan.
Di ruang media centre memang di sediakan beberapa unit komputer. Namun sayang, komputer itu jadi tak begitu berguna karena tidak menyediakan layanan internet. padahal, fasilitas internet wajib bagi wartawan, baik untuk mengirim berita ke kantor maupun mengirim gambar buat wartawan TV.
Namun di balik keterbatasan itu, peserta dan para santri yang jumlahnya hampir 12 ribu orang itu sangat antusias menyambut sang sosok kontroversial. Ya, kedatangan Gus Dur melebihi antusiasme masyarakat desa yang kedatangan SBY naik ojek. Dan inilah musuh wartawan sesungguhnya. Yakni tak bisa mengambil moment kedatangan ketua dewan Syuro PKB itu. Belum lagi sifat arogan satgas garda bangsa yang galaknya melebihi Paspampres yang baru di mutasi ke Koramil daerah terpencil.
Gus Dur, bagi mereka, adalah sosok yang di puja, di sanjung dan di junjung. Ia layaknya seorang nabi, yang tangannya harus di cium demi sebuah berkah. Sikap Gus Dur yang penuh kontroversi, suka melawan arus, bahkan banyak bertentangan dengan kalangan Islam tradisional sekalipun, tampak menjadi cair. Ia memang ibarat Nabi.
Acara pembukaan di tandai dengan pemukulan angklung banyumas oleh Gus Dur. Namun di warnai oleh hujan deras dan petir keras bersahutan. Suara air di atap mengalahkan suara sound system. Hujan lebat itu membuat tanah di tenda paling belakang kebanjiran. Tingginya melebihi batas mata kaki. Di tambah lagi oleh lumpur merah dari tanah pesantren yang dulu katanya adalah rawa-rawa.
Saat malam tiba. suara sound system bersahutan. Panitia tampak repot mengarahkan peserta untuk makan malam. Banyak pula panggilan kepada peserta karena di cari oleh temannya sendiri. Tak sedikit yang di panggil karena mobil peserta menghalangi jalan kendaraan lain. Bagi wartawan, malam itu tak dapat jatah makan. Maka, aku dan Danu, sang reporter, mencari makan di luar arena muktamar. Tapi susahnya minta ampun. Setelah putar-putar, akhirnya kami dapat makan nasi pake indomie rebus dan telur goreng. banyak pula peserta yang santap malam di sekitar kami. "Gak pas di perut", kata salah seorang peserta dari Banjarmasin ketika aku tanya kenapa tak makan dari jatah panitia.
Jam 2 lebih dini hari acara baru usai. Kami pun keluar mencari hotel. Bayangan tidur indah di kasur empuk ber AC akhirnya kandas. Tak satupun hotel yang kami cari ada kamar kosong. Semuanya habis di pake peserta muktamar. Lelah mencari sampai hampir ke Bogor, akhirnya kamipun terlelap di mobil sampe jam 7 pagi. Sikat gigi dan cuci muka kami lakukan di kamar mandi sebuah mesjid.
Acara kembali berlangsung. Ali Maskur Musa terpilih sebagai Ketua Dewan Tanfidz. Semuanya tampak sudah di skenariokan. 11 DPW mendukung pencalonan Yenny Wahid. 6 ke Muamir dan hanya 1 ke Ali Maskur. Selebihnya menyerahkan ke Gus Dur. Yenny Wahid, mundur dari pencalonan dan menyerahkan suara pendukungnya ke Ali Maskur Musa. Dan di dalam sidang, akhirnya semua kembali ke Gus Dur. Gus Dur tak mau ambil keputusan sendiri. Ia mengundang 6 orang dari perwakilan pulau, yakni sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi, maluku dan papua. Akhirnya Ali Maskur Musa terpilih secara aklamasi.
Semuanya berlangsung datar. tak ada dinamika forum kecuali pada saat rapat pleno malam sebelumnya yang sempat di warnai hujan interupsi. Maka Muktamar luar biasa di tutup dan menghasilkan keputusan. Peserta Muktamar, bagiku, tampak hanya jadi pelengkap, agar kegiatan tampak legitimate, konstitusional dan kuat secara politis.
Entahlah…
Langgan:
Entri (Atom)
