Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

29 April 2008

Sulitnya menagih janji kampanye Syampurno?

Pasangan Syamsul Arifin - Gatot Pujo (Syampurno), tak lama lagi akan menduduki kursi gubernur sumatera utara. Kini saatnya menagih janji-janji kampanye mereka. Masalahnya, dalam berbagai kampanye, pasangan ini justru tak pernah memberi janji konkrit bila kelak terpilih sebagai gubernur.

Dalam berbagai kesempatan, Syamsul arifin selalu berujar kalau dirinya tidak akan memberikan janji-janji kepada rakyat. "Saya tidak berani janji sekolah gratis, kesehatan gratis kalau terpilih sebagai gubernur. Saya datang ingin menyatakan Syamsul-Gatot siap memimpin masyarakat Sumut. Sebagai pemimpin saya akan jalankan pemerintahan sesuai dengan keinginan rakyat, bukan rakyat yang memenuhi keinginan saya," kata Syamsul Arifin saat kampanye di Bandar Khalifa.

Dalam banyak kampanye, Syamsul Arifin selalu mengeluarkan slogan "rakyat tidak lapar, tidak bodoh, jangan sakit, dan mempunyai masa depan". Bagaimana bentuk programnya?, bagaimana bentuk penanggulangannya?, rasanya belum pernah di beberkan.

Di kesempatan kampanye yang lain, pasangan ini sedikit lebih konkrit. Ia mengatakan bahwa pendidikan harus prioritas pertama. Tidak akan ada lagi anak-anak putus sekolah. Program belajar tingkat dasar sembilan tahun. Juga pelayanan kesehatan masyarakat, jangan kerena tidak punya duit membayar perobatan lantas ditolak. Dokter harus berwajah manis, meski warga yang datang berpakaian luush(kumal) dan tak berduit.
Tapi, Syamsul justru berani memberi janji konkrit terhadap pembentukan propinsi Tapanuli. “Doakan saya berhasil memimpin Sumatera Utara. Karena ke depan kita akan dukung Tapanuli menjadi provinsi dengan tujuan agar daerah Tapanuli semakin maju. Dari awal pembentukan Provinsi Tapanuli kita tidak merasa keberatan,” ujar Syamsul Arifin dalam kampanyenya di Tarutung.

Syamsul Arifin dan Gatot memang berbeda dengan pasangan lain. Di jawa Barat misalnya, pasangan yang juga di usung PKS, Hade, berani berjanji menyediakan lapangan pekerjaan untuk satu juta orang dalam 3 tahun kepemimpinannya. JIka tidak tercapai, pasangan ini berani teken kontrak, mundur dari jabatan.

Lantas, bagaimana masyarakat sumatera utara bisa menagih janji pasangan Syampurno? Apa yang di harapkan dari masyarakat dalam 100 hari kepemimpinannya? Bagaimana masyarakat bisa menuntut mundur pasangan ini kalau ternyata gagal memimpin, wong ternyata pasangan ini tak pernah memberi indikator konkrit atas penilaian gagal dalam memimpin?

Bangsa kita memang di kenal sebagai bangsa pelupa. Janji-janji yang pernah di lontarkan pemimpin harapan, biasanya akan hilang di makan waktu. Kita lupa untuk mengingatnya, apalagi menagihnya. Mungkin Syampurno memahami hal ini. Sehingga nggak perlulah berjanji-janji. Tokh nanti masyarakat lupa juga.

kalau begitu, akankah ada perubahan di Sumatera Utara?

23 April 2008

Sekolah, Lain Jakarta Lain Daerah

Membandingkan kondisi sekolah di Jakarta dengan daerah lainnya sungguhlah membuat iri hati. Dari sisi fisik, kondisi sekolah di Jakarta jauh lebih layak bila di bandingkan dengan sekolah SMU ku dulu misalnya. Ini yang ku lihat saat melihat SMU 26 Jakarta, yang berada di Tebet. Hari itu, aku liputan suasana hari pertama Ujian Akhir Nasional (UAN). Sekolah itu di ambil karena kebetulan dekat dengan kantor.

Memasuki sekolah itu, tak ubahnya memasuki sebuah kampus swasta bergengsi untuk ukuran Medan. Di areal sekolah, jangan harap bisa melihat tanah, karena semuanya telah tertutup ubin. Meski tidaklah luas, tidak sampai setengah lapangan sepak bola ukuran normal, namun kebersihan memang terjaga. Aku gak tahu apakah memang kebersihan itu hanya terjadi saat kebetulan aku lagi liputan di situ. Tapi yang pasti, sekolah yang mempunyai murid sekitar 700 orang dan berlantai tiga itu memiliki delapan petugas kebersihan. Mereka berstatus PNS yang kesejahteraannya di atas diriku. Gaji pokok sebagai PNS golongan bawah memang tak lah besar, sekitar 1,3 juta. Itu pengakuan Pak Jono, salah seorang petugas yang aku ajak ngobrol. Tapi di tambah dengan dana lain yang merupakan subsidi dari Pemprop DKI, bapak ini bisa membawa pulang ke rumah setiap awal bulan sekitar 4 juta rupiah. Alamak.. ini gaji seorang petugas kebersihan sekolah SMU.

Pemprop Jakarta memang di kenal sangat concern terhadap kesejahteraan pegawai di lingkungannya. Gaji yang diperoleh pak Jono tadi adalah gabungan dari gaji pokok, tunjangan kesejahteraan, tunjangan makan, tunjangan transportasi dan tunjangan lain yang aku lupa namanya. Maka berbanggalah bila menjadi PNS yang ditanggung pemprop DKI. Tentu berbeda dengan guru. Bisa jadi akan lebih besar lagi.

Tidak seperti kondisi sekolah seperti yang kualami dulu, dinding di sekolah ini sangat jarang, untuk mengatakan tidak ada, di temui telapak sepatu para siswa. Nyaris bersih dengan warna cat yang terlihat baru. Masih dari pengakuan pak Jono, dinding di sekolah ini di cat setiap 3 bulan sekali. Di sekolahku dulu, cap telapak kaki/sepatu seperti menjadi pemandangan wajib di setiap dinding. Apa karena siswa di Sekolah kami dulu sangat hiperaktif ya, sehingga kakinya tidak bisa diam dan tidak puas jika kaki hanya berada di bawah dan Cuma berfungsi sebagai penyangga saat berjalan. Atau karena dulu lagi booming film jet lee yang dengan jurus tendangan kaki seribu mampu menghipnotis orang-orang kampung seperti kami. Entahlah..

Aku pun takjub dengan kondisi kamar mandi di sekolah ini. Kamar mandi di pisah untuk laki-laki dan perempuan dan para guru. Kondisinya bersih, berlantai keramik dan air melimpah dari keran yang tinggal di putar saja. Aku tidak mencium bau pesing, tapi malah mencium aroma pewangi ruangan yang biasa di gunakan untuk kamar mandi di hotel atau di mall. Jangan Tanya kamar mandi sekolahku dulu. Pintunya masih bisa di buka saja udah syukur. Baunya mencemari hidung manusia sampai radius 50 meter. Bila lebih dekat, mau muntah rasanya. Bila memaksakan diri masuk ke dalamnya, anda akan bisa rasakan akibatnya. Saat pintu terbuka, mata akan tertuju pada… ah otakku tak mampu lagi untuk menuliskan kata-kata….

Setiap ruangan kelas di sekolah ini menggunakan AC (bukan "Angin Cendela"). Kursi dan mejanya masih bagus. Begitu pula ruangan buat para guru, perpustakaan dan Laboratoriumnya. Sarananya cukup menunjang. Di ruangan guru, terdapat beberapa computer untuk para guru. Guru punya meja dan locker sendiri. Di ruangan guru pula, terdapat TV yang lengkap dengan siaran TV asing. Terdapat pula computer yang bisa di gunakan untuk internet. Lagi-lagi ini jauh dari sekolahku dulu. Jangankan AC, kursi dan meja yang masih ‘sehat’ saja bisa dihitung dengan jari.

Saat aku kelas 2, kondisi ruang kelasku jauh lebih memprihatinkan. Ruang kelas tak ubahnya rumah panggung, di buat di atas rawa-rawa, dengan lantai dan dinding kelas yang terbuat dari papan. Di sana-sini, banyak yang bolong. Kondisi ini yang membuat kami dulu tak mampu menahan energy negative di otak untuk mengintip siswi tionghoa yang kebetulan duduk di bangku depan. Benar-benar jahat..LIhatlah keluar dari jendela. Pemandangan yang kami lihat adalah semak belukar rawa-rawa yang tingginya hampir sama dengan tinggi loteng sekolah kami. Tapi yang kudengar kini, 4 ruangan kelas terapung itu telah di renovasi. Semoga aja bukan isapan jempol. Ingin sekali aku melihatnya dan merasakan romantika saat sekolah di kelas terapung itu.

SMU Negeri 55 Jakarta yang berada di kawasan Kalibata juga tak jauh berbeda. Meski bangunan sekolah ini tidaklah semegah SMU 26, namun fasilitas dan perawatannya ternyata nyaris sama. Saat aku memasuki perpustakaan sekolah ini, cukup banyak juga menyimpan koleksi buku. Buku-buku, diantaranya bahkan buku umum keluaran terbaru tesusun di rak-rak, dan tersusun rapi. Di salah satu rak, tersedia pula Koran-koran harian ternama dan majalah mingguan. Sangat lengkap sehingga bisa jadi bacaan bermutu para siswa. Nggak terbayang bagaimana dulu kondisi perpustakaan sekolahku. Perpustakaan itu sepertinya lebih pas dikatakan sebagai gudang buku. Buku-buku yang tersedia umumnya hanyalah buku-buku pelajaran yang kondisinya sudah lusuh dan berdebu. Mungkin karena memang jarang di sentuh atau justru karena saking seringnya di baca . Entahlah.. tapi jangan harap bisa mendapat buku-buku umum apalagi media cetak harian dan mingguan.. jauh dari harapan.

Memang, tidaklah bijak membandingkan kondisi sekolah dulu dengan kini. Apalagi membandingkan sekolah di daerah dengan di Jakarta, pusat kekuasaan Negara. Sekolahku dulu hanya terletak di sebuah kota kecil di kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tanjung Pura nama kotanya. Meski menjadi satu-satunya sekolah negeri di kota itu dan termasuk sekolah negeri tertua di kabupaten, namun perawatannya tidaklah seperti yang aku lihat di banyak sekolah di Jakarta ini.

Di Jakarta, pemerintahnya memang menerapkan standart yang baik untui setiap sekolah negeri, dari mulai SD sampai SMU. Gedungnya di buat permanen. Beberapa sekolah yang gedungnya masih bangunan lama, segera di renovasi untuk menyesuaikan dengan standar yang sudah di tetapkan. SMU 55 itu misalnya, tahun 2009 gedungnya akan di renovasi, dari dua lantai menjadi 3 lantai. Standar fasilitas penunjang pendidikan juga di buat sama untuk semua sekolah. Apalagi dengan kesejahteraan gurunya. Ini memang tidak terlepas dari anggaran yang cukup melimpah di provinsi ini. APBDnya saja termasuk tertinggi di Indonesia, namun hanya mengelola wilayah yang relative sempit seperti di Jakarta. Tentu beda dengan daerah lain yang dengan anggaran terbatas namun berwilayah luas.

Di propinsi yang juga menjadi pusat kekuasaan negara ini, pemerintah propinsinya mengalokasikan 5,25 triliun dalam APBD 2008. Jumlah tersebut setara dengan 26,37 persen dari total belanja Rp 19,91 triliun. Program pendidikan yang memakan biaya paling besar adalah Biaya Operasional Pendidikan (BOP) untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Pemerintah mematok anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk BOP. bandingkan dengan anggaran pendidikan di sumatera utara. Untuk proyeksi tahun 2009 saja, propinsi yang luas satu kabupatennya sama dengan luas propinsi jakarta cuma punya Rp. 682 miliar. Benar-benar timpang.

Namun persoalannya, apakah kondisi dan fasilitas yang cukup menunjang itu sudah berbanding lurus dengan kwalitas siswa yang di hasilkan. Di satu sisi, harus di akui, banyak jebolan tersebut yang di terima di perguruan tinggi negeri. Tapi di sisi lain, harus di akui pula, banyak sekali orang-orang sukses, petinggi negeri dan orang-orang berpengaruh yang justru lahir dari sekolah-sekolah di daerah, yang tersuruk di pinggiran kota, jauh dari fasilias dan guru yang mumpuni, yang kondisinya sangat memprihatinkan. Jangan-jangan, kalau di survey, orang-orang yang merusak negeri ini, penguasa koruptor, manipulator dan provokator justru lahir dari sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar, seperti Jakarta ini??? Entahlah???

18 April 2008

PILKADA SUMUT DAN MENGUATNYA POLITIK ALIRAN

Di sela-sela kampanye putaran terakhir, Habib Abdurrahman Assegaf, ulama yang selama ini di kenal sebagai Islam garis keras, terlibat pembicaraan dengan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho. Obrolan ngalur ngidul itu berlangsung di hotel Tiara, tempat Habib menginap. Dengan spontan, Habib menarik tangan Syamsul dan menuliskan angka 30 persen pada telapak tangan Syamsul Arifin. “30 persen suara untuk mu Syul. Kau pasti menang”, ucap Habib. Kata-kata itulah yang terucap dari habib kepadaku, saat bertemu di salah satu Hotel di Senayan untuk wawancara tentang aliran. “Kalimat itu keluar saja dari hati. Dan InsyaAllah, sekarang jadi kenyataan”, begitu habib menambahkan.

Entah sebuah kebetulan, angka 30 persen itu tampaknya memang tak jauh dari hasil perhitungan cepat (Quick Qount) yang di lakukan LSI. Syamsul Arifin – Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) yang di usung PPP, PKS dan 9 partai lainnya berhasil mengalahkan ke-4 pasang calon lainnya untuk menduduki kursi nomor satu di pemerintahan Sumatera Utara. Jumlah suara Syampurno jauh meninggalkan calon-calon lainnya, termasuk dua calon yang di usung partai besar, yakni Ali Umri – Maratua Simanjuntak (Partai Golkar) dan Tri Tamtomo – Benny Pasaribu (PDI Perjuangan).

Fenomena ini mengingatkan kita terhadap Pilkada di Jawa Barat yang hanya berbeda beberapa hari dari Pilkada di Sumut. Di propinsi tetangga Jakarta itu, calon yang tak di unggulkan, Ahmad Heryawan – Dede Yusuf yang di dukung PKS dan PAN mengalahkan dua calon lain yang di dukung partai besar, yakni dari Golkar dan PDI Perjuangan Apakah fenomena di Jawa Barat ini sama dengan fenomena yang ada di Sumatera Utara? Gejala apa sebenarnya yang muncul, sehingga calon yang justru tidak di dukung partai besar bisa memenangkan pilkada, khususnya di Sumatera Utara?

POLITIK ALIRAN

Pilkada di sumatera Utara tak terlepas dari praktek politik aliran. Sebuah fenomena yang sulit di elakkan mengingat keragaman agama dan suku di propinsi ini. Wacana agama tampaknya sangat mempengaruhi prilaku politik pemilih. Partai pendukung tampaknya menyadari hal ini sehingga turut berpengaruh dalam penentuan calon. Namun uniknya, justru kesadaran hal ini pula yang menyebabkan perpecahan. Birahi kekuasaan tampaknya jauh lebih menonjol, sehingga mengorbankan semangat agama sentris itu.

Sumatera utara di huni oleh dua agama besar, yakni Islam dan Kristen. Islam yang merupakan mayoritas umumnya berada di pessisir timur sumatera utara, yakni dari Mulai Langkat, Deli Serdang, Medan, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Tanjung Balai, Tebing Tinggi dan sebagian Labuhan Batu. Di pantai Barat, Islam ada di kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan dan Mandailing Natal. Dari ummat muslim yang menguasai pantai timur ini, sebagian besar bersuku Melayu. Meski dari sisi wilayah, luasnya masih kalah dengan tanah batak dan pantai barat, namun jumlah penduduknya terbilang paling banyak dan menjadi mayoritas. Pendulang suara di pesisir timur ini tentu sangat berpotensi memenangkan pertarungan Pilkada.

Sementara di bagian tengah yang merupakan dataran tinggi, mayoritas adalah beragama Kristen dan bersuku Batak. Daerahnya meliputi Karo, Simalungun, Pematang Siantar, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Dairi Fak-fak Barat, Humbang Hasundutan sampai ke pulau Nias dan Nias Selatan. Sebagaimana dataran tinggi, penduduknya tidak sepadat di banding dengan penduduk di wilayah pesisir atau dataran rendah.

Dua agama di Sumatera Utara ini, suka atau tidak suka, meski secara latent, senantiasa bersaing menguasai kursi pemerintahan. Persaingan agama ini pula yang di duga kuat menjadi penghalang pembentukan propinsi Tapanuli. Di masa pemerintahan gubernur Almarhum Rizal Nurdin yang bersuku Melayu, propinsi Tapanuli sulit mendapat tempat untuk berkembang dan menjadi wacana. Saat gubernur di ambil alih Rudolph Pardede yang beragama Kristen, ternyata idem tito. Tarik menarik kepentingan politik di tingkat pusat ternyata sangat mempengaruhi.

Wacana ini masih mewarnai dalam Pilkada di Sumatera utara. Sentimen agama masih terus mewarnai, dan di sisi lain malah di manfaatkan untuk mengambil suara dari massa pemilih. Meski hal ini tidak sehat bagi iklim demokrasi, namun situasi ini terus berkembang. Dalam jangka panjang, selain tidak sehat bagi iklim demokrasi, situasi ini juga bisa menimbulkan dampak detruktif, munculnya konflik suku dan keagamaan.

Dari ketiga calon yang beragama Islam, yakni Syampurno, Ali Umri – Maratua (UMMA) dan Abdul Wahab – Raden Syafii (Waras) yang di dukung PAN, Demokrat dan PBR, Syampurno tampaknya sangat di untungkan karena di dukung oleh mayoritas partai Islam, termasuk PKS. PKS yang memiliki kader loyal dan militan menjadi mesin politik yang efektif untuk mengarahkan massa pemilih muslim. Dukungan PKS juga memberi citra positif kepada Syamsul Arifin untuk mendulang massa pemilih Islam non Melayu. Untuk di ketahui, Syamsul Arifin adalah juga ketua umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI). Dukungan Partai Islam ini juga menguntungkan di tengah kebingungan massa pemilih karena ada tiga calon yang beragama Islam.

Dari perhitungan LSI, Syampurno berhasil menguasai suara di sepanjang pantai Timur, kecuali dua kabupaten kota yang merupakan tanah kekuasaan dua calon lainnya yakni Umma dan Waras. Di Kabupaten Langkat di mana Syamsul Arifin masih menjabat sebagai Bupati, pasangan ini diperkirakan mendulang 60 persen suara lebih. Di Binjai, pasangan ini hanya kalah tipis dengan UMMA. Sementara di kabupaten Labuhan Batu, Syampurno kalah jauh dengan Waras. Selebihnya, semua kabupaten kota di sekitar pesisir timur sumatera utara itu nyaris di ungguli oleh Syampurno.

Sementara di tiga kabupaten/kota paling pojok sumatera utara, yakni Padang Sidempuan dan Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, perebutan suara terjadi antara UMMA dan Waras. UMMA menang di Mandailing Natal karena di untungkan factor Maratua Simanjuntak yang merupakan tanah kelahirannya. Sementara di Padang Sidempuan dan Tapanuli Selatan di menangi oleh Waras. Faktor Abdul Wahab menjadi penarik massa pemilih untuk mencoblos pasangan nomor urut empat ini. Dalam pemilih legislative yang lalu, PPP menguasai ketiga kabupaten ini. Namun pasangan Syampurno justru mendapat suara yang kalah jauh. Mesin politik PPP tampaknya tak banyak berkerja untuk mendulang suara buat Syampurno.

Di dataran tinggi Tapanuli, persaingan terjadi antara pasangan Tri Tamtomo – Beny Pasaribu (Triben) dan RE Siahaan – Suherdi (PASS). Pemilih Kristen di sini memilih kedua pasangan ini. Sama dengan massa pemilih Islam yang terpecah, begitu pula yang di alami oleh massa pemilih Kristen. Dua pasangan calon yang merepresentasikan ummat Kristen ini mengambil jatah di kue yang sama. Pengamat Politik USU, Ridwan Rangkuti, dalam kesempatan wawancara di Metro TV menganalisa, massa Kristen Konservatif yang di wakili gereja HKBP lebih condong ke pasangan PASS sedangkan Kristen Katolik berpihak kepada Triben.

Untungnya Triben di usung partai PDI Perjuangan, yang punya massa cukup fanatic. Karena itu, pasangan ini selain mendapat suara dari kalangan Kristen, juga mendapat suara dari muslim nasionalis yang banyak terdapat di pedesaan dan perkebunan.

MESIN PARTAI TIDAK BERJALAN

Tingginya factor sentimen agama dan suku dalam prilaku pemilih menyebabkan partai politik tak banyak membantu dalam mendulang suara. Lihat saja dari perhitungan cepat yang di lakukan LSI. Bila mengacu pada pemilihan legislative, harusnya calon yang di dukung partai Golkar dan PDIP lah yang menguasai suara. Namun ironisnya, pasangan UMMA yang di dukung partai Golkar justru terpuruk di peringkat ke-empat, sekitar 16 persen, jauh dari suara yang berhasil di kumpulkan Syampurno, yakni 29 persen. Begitupun dengan pasangan Triben yang hanya memperoleh suara sekitar 22 persen.

Rendahnya suara bagi pasangan UMMA di mungkinkan karena terpecahnya suara massa partai Golkar. Ini karena dua calon lainnya, yakni Syamsul Arifin dan juga Abdul Wahab merupakan pengurus Golkar. Keduanya di pecat dari keanggotaan partai Golkar karena di anggap membelot, karena mencalonkan dari partai lain dan tidak mendukung UMMA sebagai calon partai Golkar. Tidak solidnya partai Golkar ini menjadi penyebab terbesar minimnya suara yang di peroleh pasangan UMMA. Bagaimanapun, Syamsul Arifin masih memiliki pendukung loyal dari Golkar, khususnya yang berasal dari Kosgoro.

Sementara Abdul Wahab yang lebih senior dari Ali Umri, punya pengaruh cukup besar, khususnya untuk daerah sekitar kelahirannya, yakni Labuhan Batu. Dalam kampanyenya, Abdul Wahab juga di dukung oleh mantan ketua umum Partai Golkar, Akbar Tanjung. Bagaimanapun, Akbar Tanjung masih di anggap sebagai sesepuh partai dan juga orang Sumatera utara yang paling sukses di Golkar.

Kantong PDI P yang mayoritas menguasai dataran tinggi Tapanuli, meski sebagian besar masuk ke pasangan Triben, namun sebagian lagi masuk ke pasangan PASS. Tidak separah dengan Golkar, mesin politik PDIP masih cukup punya pengaruh untuk mengumpulkan suara. Di pesisir timur, Triben umumnya berada di peringkat ketiga. Padahal pasangan ini terbilang saat instant karena mendaftar di saat-saat terakhir menjelang masa penutupan pendaftaran calon gubernur. Sebenarnya, Pasangan Triben masih punya peluang mendapatkan massa lebih besar kalau saja Gubernur Rudolph Pardede mendukung sepenuh hati. Namun Rudloph tidak berjuang all out mensukseskan Triben akibat kekecewaan karena DPP PDIP tidak merekomendasikan namanya menjadi calon gubernur. Padahal, sebelumnya nama Rudolph sudah di dukung penuh pengurus di Sumatera Utara. Lagi-lagi, perpecahan menjadi biang tidak maksimalnya partai bekerja.

Kondisi ini menguntungkan Syampurno. Lebih untungnya lagi, mayoritas partai Islam berada di belakang Syampurno dan ditambah kesolidan PKS. PKS, seperti di daerah lainnya, menjadi satu-satunya partai yang bisa bekerja efektif menggerakkan massa danmencari simpati. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat pemilih di Sumatera Utara tidak lagi melihat kapasitas dan kapabilitas calon gubernur. Masyarakat lebih mengambil jalan aman, berharap pada figure yang dianggap punya kesamaan emosional. Masyarakat tidak peduli lagi pada janji-janji kampanye, tak peduli apakah figure itu bisa membawa perubahan dan pembangunan Sumatera Utara.

Wallahualam…

Demokrasi

Aku mau
Kamu mau
Dia mau
Yang kita mau
Terjadi
Tapi yang terjadi
Tak di inginkan
Oleh satupun di antara kita

(Mathias Schreiber)

Artinya : Kita semua di tuntut tidak hanya pandai bicara, tapi juga pandai mendengar, itulah jalan menuju demokrasi.

17 April 2008

Allah Tidak Akan Bosan

Nama perempuan itu Haula’. Di suatu waktu dari hari-hari hidupnya, ia melakukan ibadah dengan sangat-sangat. Sampai –sampai ia tidak tidur semalaman. Tak lama Rasulullah lewat. Asiyah menceritakan kisah Haula’. Maka Rasulullahpun menasehati, “Lakukan amam sesuai kemampuan kalian.

Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian yang bosan. Haula’ adalah kisah tentang semangat. Tapi nasehat Rasulullah adalah kisah tentang kesinambungan. Seperti itulah hidup. Kita harus menjalaninya dengan semangat. Tapi lebih penting dari itu, kita harus menjalaninya dengan kesinambungan. Sebab kesinambungan menjamin adanya proses yang tidak berhenti, menjamin bahwa kita tetap berjalan, menjamin bahwa kita terus menuju. Sedang semangat memberi tenaga pendorongnya, motivasi penguatnya.

Kesinambungan bisa berjalan, meski dengan semangat pas-pasan. Tetapi semangat tidak ada gunanya tanpa kesinambungan yang berjalan. Maka, bila harus memilih salah satu, antara kesinambungan dan semangat, hidup akan lebih memerlukan kesinambungan. Tentu idealnya adalah memilih keduanya. Itu sebabnya dalam hadist lain Rasulullah menjelaskan bahwa sebaik-baik amal adalah yang awet berkelanjutan, meski amal itu hanya sedikit.

Tapi Haula adalah adalah juga kisah tentang persepsi yang harus di luruskan bahwa mengejar pahala sekalipun, melalui ibadah-ibadah, tidak perlu dengan persepsi yang keliru tentang sifat Allah. Memaksakan diri, menyakiti diri dengan anggapan Allah nanti akan bosan memberi balasan, akan lelah menjawab doa-doa panjang, itu adalah pemahaman yang tidak benar. Maka kisah Haula’ lebih pada soal pentingnya meluruskan persepsi tentang Allah SWT, dan bukan untuk mengajarkan kepada kita bagaimana beribadah secara pelit dan pas-pasan.

Mendekatlah kita kepada Allah Dengan segala ibadah formal. Dalam sholat-sholat panjang. Atau sedikit tetapi terus-menerus. Atau dalam bacaan Al-Qur’an, hari demi hari. Sebab secepat-cepat orang mengkhatamkan Al Qur’an, tidak boleh lebih dari tiga hari. Mendekatlah kita kepada Allah. Dalam segala ibadah non formal. Dalam kerja-kerja letih kita mencari nafkah. Dalam waktu-waktu kita membaca pengetahuan. Dalam hari-hari kita mengabdi untuk orang banyak.

Tapi untuk semua itu, jangan sekalipun keliru dalam persepsi tentang kekuasaan Allah. Memburu dalam waktu, memaksa dalam harap, seakan Allah hanya punya balasan terbatas, atau kesempatan terbatas. Tidak. Allah tidak akan bosan.

(Ahmad Zairofi AM, dalam “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda”)

Puisi Kpd Rumput Yg Bergoyang

Wahai rumput yang begoyang, kemana lagi aku harus bertanya dan bertemu jawab
Mengapa kakap-kakap penyelundup, manipulator bahkan si mega koruptor bisa bebas melenggang
Mengapa pula para perampok sekaligus pemerkosa fisik maupun HAM makin merajalela?Bahkan diantaranya justru mendapat tanda penghormatan!Apakah zaman edan seperti ini akan berakhir?

Lalu tak bolehkah orang menari dan bernyanyi riang tanpa harus takut ancaman vonish di tempat? Tak bolehkah orang saling berbelas kasih? Berbagi asa untuk sekedar beroleh kedamaian? Ikut bersama merajut keadilan yang terputus-putus!

Duhai rumput yang nan bijak bestari, pecahkanlah masalah ini secara bijak pula.
Berhentilah bergoyang barang sejenak, Sungguh goyangmu makin lama makin erosive, eh…erotis
Namun yang jelas teramat sexy! Yang tak mungkin ku saingi walau ketenggak berjuta pil ekstasi Dan ternyata mampu membuatku ereksi. Bahkan lupa diri

Koyak sudah telinga dan mata hatiku
Tak mampu lagi ku dengar dan kulihat indahnya simfoni pancasila dengan orchestra UUD 45 nya. Yang mengiringi para ballerina menarikan trisatya dan dasa darmanya..
Para siswa/I dengan tri dharmanya
Para pemuda/I dengan sumpahnya
Para karyawan/I denga ikrarnya
Para penjebak, eh…penegak hokum dengan KUHP-nya
Para pejabat dengan sumpah jabatannya
Bahkan para pejuang hokum dengan sapta marganya..

Yang kudengar hanyalah nyanyian si jangkrik dengan sisa suaranya “lirih namun parau”, berkidung“naik rakit ke kedung omboDulu sakit sekarang (makin) nelosoSemua itu memang salahku sendiriYang terbius oleh gemulai goyang tripping-mu!

(Annonim)

Sayap Patah

Fundamentalisme adalah orang yang di sekap oleh kepercayaan (having faith), sedangkan tradisionalis adalah orang yang merangkul kepercayaan (having reason).“
Muchtar Buchori (Kolumnis)


Bagi Siapapun sesungguhnya berpolitik tanpa prinsip adalah criminal
(Gandhi)

16 April 2008

Pasrah Pd Realitas Kehidupan Dengan Jiwa Yang Tenang

Kami mengajak anda agar pasrah pada realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang. Kalau terjadi sesuatu yang sempat membangkitkan emosi anda atau sempat membuat diri anda merasa jengkel, kami berharap agar anda menerima hal ini sebagai satu realitas kehidupan yang mesti diterima dengan lapang dada. Kepasrahan pada realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang sama sekali tidaklah berarti bahwa anda harus bersikap pasif dan menyerah begitu saja pada realitas kehidupan ini. Kami sama sekali tidak bermaksud demikian. Tepatnya, kami menginginkan agar anda menyadari realitas kehidupan yang ada, baik sisi-sisi negatifnya maupun sisi positifnya.

Kami hanya berharap agar anda sudi menerima realitas kehidupan ini dengan jiwa yang tegar. Seandainya ada peluang untuk melakukan perubahan, maka alangkah baiknya kalau hal ini anda lakukan dengan jiwa yang tenang dan bukan dengan prinsip “menabur benih menuai badai”.Saudaraku, percayalah bahwa menerima realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang yang kami anjurkan ini tidaklah berarti bahwa kami menganjurkan anda agar bersikap masa bodoh, malas-malasan atau tak peduli pada kasus-kasus yang terjadi di sekitar anda. Namun tepatnya, kami menganjurkan anda mau menerima realitas kehidupan secara proporsional.

Di samping itu, kami menganjurkan agar anda tidak selalu ngotot punya sikap tertentu dalam segala permasalahan baik dalam masalah-masalah yang sifatnya sepele maupun masalah yang besar. Perlu anda garis bawahi bahwa kami hanya mengajakanda agar menerima dengan lapang dada masala-masalah yang sifatnya sepele. Janganlah anda bersikap kaku pada hal-hal yang sepele. Strategi untuk mengubah karakter diri anda agar bisa lebih baik ini mesti dimulai dari masalah-masalah yang sifatnya sepele.

Kasus pecahnya piring atau gelas tidak patut menyulut kemarahan anda sekaligus jadi masalah yang yang begitu serius. Karena tidak ada seorangpun yang berjiwa normal yang sengaja memecahkan gelas dan piring. Bisa jadi factor pecahnya piring karena orang yang memecahkannya kurang hati-hati ketika memegang piring dan gelas itu. Kami kira anda cukup memberinya peringatan agar lain kali supaya hati-hati.

(Yusuf Al – Uqshari dalam buku “Percaya Diri Pasti!”)

15 April 2008

Pilkada Jawa Barat, TIDAK HARUS SELALU PARTAI BESAR

Nama Agum Gumelar, siapa yang tak kenal. Namanya bahkan sudah menasional. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku bagi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jawa Barat. Dalam penghitungan sementara, namanya berada di belakang Ahmad Heryawan yang unggul dalam penghitungan cepat (Quick Qount) beberapa lembaga. Begitu pula dengan Danny setyawan. Warga jawa barat tentu sudah kenal dengan calon Incumbent ini. Ia adalah gubernur Jawa Barat yang baru saja mengakhiri masa jabatannya. Tapi tetap saja warga tak menghendaki dirinya memimpin kembali jawa barat untuk periode 2008 – 2013.

Kedua figur tersebut juga di dukung oleh partai-partai besar, yang tentu punya massa besar. Agum di dukung oleh PDI Perjuangan, penguasa nomor 2 setelah Golkar. Selain PDI Perjuangan, Agum yang berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim di dukung pula oleh PPP dan delapan partai lainnya. Berkaca dari pemilihan sebelumnya, diatas kertas, tentu figure ini punya peluang paling besar untuk menang. Namun kenyataan berkata lain.

Dany setyawan yang berpasangan dengan Iwan Sulandjana di dukung oleh Partai Golkar dan Demokrat. Di atas kertas pula, harusnya pasangan ini bersaing ketat dengan Agum untuk menjadi orang nomor satu di Jawa Barat. Tapi hasil penghitungan sementara, mementahkannya.
Lantas, ada apa dengan Ahmad Heryawan? Berpasangan dengan Dede Yusuf, dua orang yang tidak punya KTP Jawa Barat ini di dukung oleh PKS dan PAN. Citra pasangan ini terbantu dengan nama Dede Yusuf yang selama ini di kenal sebagai artis. Namun itu agaknya tidak cukup. Ia bukanlah termasuk artis papan atas yang membuat banyak orang tergila-gila. Namanya juga nyaris tenggelam dengan artis-artis terkini. Jadi itu bukanlah factor penentu.

Hade, sebutan pasangan ini, sebelumnya disebut sebagai under dog. Tapi justru karena ini, pasangan ini punya lebih banyak ruang untuk mencari simpati massa. Strategi kampanyenya pun, mungkin tidak di lirik oleh dua pasangan lainnya karena tidak di anggap sebagai competitor sesungguhnya. Kondisi ini membuat tim sukses hade serius dan konsentrasi untuk merancang strategi yang tidak di antisipasi calon lainnya. Di saat kedua calon lain sibuk merebut “pasar” yang sama, Hade justru merebut hati massa yang selama ini kerap terlupakan, yakni rakyat kecil yang butuh perubahan. Rakyat kecil yang butuh figure baru dan berani berjanji membawa perubahan revolusioner bagi nasib bumi jawa barat.

Dari hasil survey beberapa lembaga sebelum pencoblosan, ada banyak warga jawa barat yang belum menentukan pilihannya. Jumlahnya sekitar 10 persen lebih. Bila berkaca dari hasil penghitungan sementara, agaknya mereka yang termasuk floating mass, massa mengambang, ini memilih Hade. Semua ini bisa terjadi juga karena mesin politik PKS dan PAN yang berjalan. PKS, harus di akui, satu-satunya partai di Indonesia saat ini yang punya basis massa yang jelas, loyal dan bahkan militan. Partai ini punya system kerja yang sistemik, kaderisasi yang jelas sehingga sangat mudah untuk di arahkan sesuai dengan kebijakan partai. Konsep partai seperti ini, dalam konteks Pilkada Jawa Barat, agaknya menular ke PAN. Tokoh-tokoh muda dan terpelajar rela mendekati rakyat, door to door, masuk ke gang-gang, masuk ke rumah untuk memperkenalkan sosok Hade dan mencuri hati rakyat agar mau mencoblos pasangan nomor urut 3 ini.

DARAH MUDA DAN PERUBAHAN

Hade, dalam bahasa sundanya Bagus. Ini menjadi semacam trade mark yang di jual massa pendukungnya. Hal itu seia sekata dengan slogan yang di tunjolkan, “Harapan Baru Jabar”. Slogan ini diterjemahkan dengan sosok pasangan Hade yang masih muda, keduanya berusia 41 tahun, yang membawa semangat perubahan bagi warga Jawa Barat. Konsepsi ini tampaknya berhasil menghipnotis warga Jawa Barat untuk memilih Hade.

Di banding dua calon lainnya, Hade terbilang pasangan paling muda. Sosok muda dengan tampilan gagah dan berwibawa pada foto di atribut kampanye memang memberi warna yang berbeda dengan pasangan lainnya. “Lebih segar dan menjanjikan”, mungkin kesan itulah yang ingin di tampilkan saat warga melihat kedua pasangan ini di foto pada atribut kampannyenya, baik spanduk, baliho maupun di kertas suara.

Pencitraan itu tampaknya berhasil. Di kemas dengan system kampanye yang langsung turun ke bawah, mendekat ke massa pemilih. Mereka sadar tak bisa hanya mengandalkan janji kampanye. Bagaimanapun, semua calon dalam Pilkada, tak hanya di jawa barat, tak ada yang berbeda dalam janji kampanye. Semuanya normative. Dari mulai pengentasan kemiskinan, pemberian lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan gratis dan sebagainya. Nyaris sama.
Satu lagi. Pasangan ini menggarap massa pemilih Islam sebagai sasaran utama. Ini keunggulan tersendiri di banding dengan dua pasangan lainnya. Ahmad Heryawan adalah ketua umum Persatuan Umma Islam (PUI) dan di dukung oleh partai Islam pula. Sementara kedua pasangan lainnya, nyaris tidak memiliki ikatan emosional untuk mengikat pemilih Islam. Agum dan Nu’man. Meski di dukung oleh PPP yang notabene partai Islam, namun citra itu agaknya kurang melekat pada Nu’man. Begitu pula pada pasangan Danny – Iwan.

Tampaknya ini menjadi keunggulan tersendiri. Pemilih tradisional yang menjadi pemilih mayoritas di jawa barat, harus diakui, masih memandang sisi ideologi Islam, dalam memilih figure. Faktor ini, sedikit banyak, turut membantu bagi Hade untuk mendulang pemilih lebih banyak. Dan massa tradisional ini lebih banyak berada di pedesaan yang selama ini luput dari survey beberapa lembaga.

09 April 2008

"Penyakit Berjamaah" Orang Jakarta

Emosiku memuncak, sekitar pukul 7 malam sampai 9 malam. jam-jam ini adalah neraka di jalanan jakarta. kemacetan yang menggila, deru mesin yang memekakkan telinga, asap polusi yang mengepul tak terkira bercampur dengan prilaku manusia yang seolah tak punya norma. inilah yang kualami hampir setiap harinya. jam pulang kerja, dengan sepeda motor, aku harus berusaha sabar meski seringkali sulit tuk mengatasinya.

soal kemacetan memang bukan barang baru. kota ini hampir tak punya solusi utk mengatasi antrian kendaraan di jalanan. jalan seluas lapangan sepak bolapun, tampaknya tak cukup untuk menampung volume kendaraan bermotor yang terus melimpah ruah setiap waktunya. data di Gaikindo, angka penjualan kendaraan mobil di jakarta sampai Maret 2008 ini mengalami peningkatan berarti di banding periode yang sama tahun lalu.

Tanpa penambahan kendaraan saja, jalanan telah penuh sesak. di perparah lagi oleh jalanan rusak yang nyaris melanda seluruh jalanan utama. di tambah lagi dengan di buatnya jalur bus way yang tentu saja mengambil jatah jalanan buat kendaraan biasa. benar-benar aneh. Kalau mau menikmati jalanan yang normal, tanpa kemacetan, kita harus membawa kendaraan di tengah malam. saat itu, kita baru menyadari bahwa jakarta benar-benar kecil. Bayangan kota ini luas sesungguhnya hanyalah kamuflase, karena sesungguhnya yang ada adalah kemacetan.

Deru suara mesin sama saja. Akhir-akhir ini aku juga tak habis pikir semakin banyak saja pemilik kendaraan sepeda motor yang memotong knalpotnya, lantas mengeluarkan suara yang keras dan memekakkan telinga. Aku menganggapnya sebagai prilaku tak normal karena tak ada manfaat yang bisa di peroleh dengan memperlakukan kendaraan seperti itu. Yang ada malah mengganggu orang karena membuat suasan tak nyaman dan menyakitkan telinga. Belum lagi suara yang ditimbulkan dari knalpot bajaj.

Kendaraan khas jakarta ini sama saja, menimbulkan kebisingan dan asap polusi yang tak terkira. Kalau aku punya kuasa, akan ku hapuskan kendaraan itu dan kuganti dengan kendaraan serupa yang berbahan bakar gas, karena lebih ramah lingkungan daan tidak menimbulkan kebisingan. Sebenarnya bajaj seperti ini sudah ada, tapi jumlahnya masih kalah banyak.

Penyumbang asap polusi tak hanya dari bajaj, tapi lebih parah lagi di keluarkan dari asap kendaraan umum, baik itu mikrolet, kopaja atau apa aja. Asap hitam mengepul yang keluar dari knalpot kendaraan umum ini tak ubahnya monster di malam hari yang membuat semua orang berdiri bulu-bulu halusnya.

Apalagi kalau kita bicara prilaku para supirnya. Mereka layaknya raja jalanan yang bisa semaunya menguasai jalanan tanpa peduli pada kendaraan lain. Yang tahu mau kemana mereka berjalan hanya supirnya dan Tuhan. Aku seringkali bingung melihat pola menyetir mereka yang zig zag, tak tentu arah dan semaunya. Berhenti di tengah jalan, memotong sesukanya. Benar-benar menambah sakit kepala.

Lampu merah seolah tak ada. Semuanya berubah menjadi lampu hijau. Kadang-kadang, harus ku akui, aku juga melanggar. Tapi tetap harus lihat situasi sekitar apakah memungkinkan. Kadang-kadang lagi, kita juga bisa jadi korban. Saat patuh. tapi yang dibelakang kita memaksa harus menerobos lampu merah. Maka jadilah pelanggaran lalu lintas jamaah yang polisipun tak akan mungkin puasa kuasa tuk mencegahnya.

Inilah yang kuhadapi dan benar-benar menguji sifat sabarku. Tapi harus diakui rasa sabar menjadi kalah dan sering berganti dan rasa amarah yang berakhir dengan stress. Dan tampaknya, inilah penyakit jamaah ummat Jakarta setia harinya. Entah kapan akan berakhir...

08 April 2008

Berani Beda

Berani beda. Sebuah sikap yang jarang dimiliki. Termasuk diriku. Tapi aku salut dengan orang yang punya sikap seperti itu. Berani beda dengan pendapat mayoritas. Teguh pada sikap dan pendiriannya.

Dradjad Wibowo adalah salah satu. Anggota Fraksi PAN DPR RI ini adalah satu-satunya anggota dewan yang menyatakan menolak Menko Ekuin, Budiono untuk menjadi gubernur BI. Padahal, 45 suara lainnya mendukung ekonom ini. Sosoknya di anggap sempurna oleh mayoritas anggota dewan untuk menggantikan Burhanuddin Abdullah.

Bagi Dradjad Wibowo, Budiono masih belum menjelaskan secara jelas tentang keterlibatannya dalam kasus BLBI. Selain itu, Dradjad berbeda pendapat dengan Budiono dalam hal pendekatan policy (kebijakan) moneter. Dari pada harus mengorbankan keyakinannya yang dianggap benar, politikus ini teguh untuk menolak sosok Budiono. Ia tidak larut dengan suara mayoritas yang telah mendukung sepenuhnya Budiono.

Ahmadinejad, Presiden Iran adalah satu sosok lainnya yang juga berani beda. Ia berani menentang sang adikuasa Amerika demi martabat bangsanya. program nuklir yang digagasnya, dianggap sebagai kebenaran. Ia tak peduli dengan pendapat dunia, termasuk negara-negara muslim, yang menganggapnya sebagai kebijakan anti perdamaian. Sosok Ahmadinejad mampu berdiri dengan kokoh demi mempertahankan apa yang dianggapnya benar. Tidak perlu takut dan menjadi bangsa bebek yang hanya mengikuti arus besar, demi nafsu bejat sang imperialis barat.

Saat aku kuliah dulu, aku teringat sosok teman dari universitas Tanjung Pura Pontianak. Dalam pertemuan mahasiswa Fisip se Indonesia di Universitas Lampung waktu itu, ia terkenal sangat susah di atur sehingga menjadi penghambat dalam rapat pleno, pengambil keputusan. Orang ini, aku lupa namanya, dikenal suka interupsi demi menyatakan ketidaksetujuannya, sehingga rapat harus molor berjam-jam hanya karena ia belum setuju. Saat semua peserta pertemuan sudah menyatakan kesetujuan dan pimpinan sidang siap mengetuk palu, ia selalu saja berbeda pendapat dan tetap teguh meski dirinya di hujani hujatan.

Dalam satu kesempatan, orang ini di bawa keluar dari forum sidang dengan alasan ada seseorang yang ingin bertemu. Panitia sidang sudah berkomplot dengan peserta lainnya untuk mengajaknya mengobrol, demi mengulur waktu. Sementara di forum sidang, keputusan langsung dapat di ambil tanpa kehadiran dirinya. Berbagai trik di lakukan demi "menjinakkan" orang ini.

Masih banyak sosok-sosok yang tampil seperti ini. Berani beda, teguh pada sikap dan keyakinannya, mempertahankan apa yang dianggapnya benar dengan segala cara. Aku salut dan menghargai orang-orang seperti ini. Mungkin karena diriku tak mampu seperti mereka. Aku, mungkin kebanyakan kita, cendrung bersikap mengalah dan kompromistis dengan realitas meski sebenarnya hal itu bertentangan dengan sikap kita. Entahlah...

07 April 2008

Hidup Salah Ala Orang Kota

satu pagi yang cerah. aktivitas yang rutin aku lakukan adalah memanasi mesin motor. persiapan sebelum mengantar istri ke kantor. ketika tiba-tiba seseorang berjalan di gang depan rumah. ia ragu. tapi akhirnya memberanikan diri bertanya pada diriku.

"pak, numpang nanya ya. rumah pak Nyoman di mana ya?"
tanpa berpikir panjang, tegas ku jawab "wah, gak tau pak". jawaban yang singkat dan terkesan kurang ramah memang. entah angin apa yang menyebabkan aku bersikap kurang baik seperti itu.

di rumah kontrakan itu, bersama istri, aku sudah delapan bulan tinggal. waktu yang sudah cukup untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar. tapi, mungkin ini namanya penyakit orang kota, baru pak herman dan istrinya, dan juga mas anto dan mas siman yang baru aku kenal. itupun karena mereka tinggal bersebelahan dengan rumah petak kontrakan ku.

dulu, saat kuliah, saat menyenangi teori-teori sosial, aku tahu bahwa sikap hidup individualistis merupakan "prestasi" dari kehidupan modern di kota metropolis. ia menjelma menjadi penyakit yang menyebabkan masyarakat hidup apatis, egois dan sebagainya. Kini, fenomena itu tampaknya telah ku hadapi.

Mendapat jawaban yang singkat itu, orang asing yang bertanya itu langsung balik badan meninggalkan diriku. tak lama berselang, dengan tergesa-gesa, seorang laki-laki keluar dari pintu rumah yang berada tepat di depan rumahku. orang berkulit hitam, khas orang flores memanggil orang asing yang tadi bertanya padaku. mereka bertemu bersalaman, layaknya orang yang lama sudah tak bertemu. semuanya berlangsung masih di depan mataku.

Psk nyomsn tersenyum padaku. Sebelum ini, kami memang sempat beberapa kali bertatap muka dan saling menyapa seperlunya. Dan akupun hanya bisa membalasnya dengan senyum tak sempurna, menahan rasa malu..

02 April 2008

Mampukah Ekonomi Indonesia Mengejar Doi Moi Vietnam

Bangsa ini, sedikit demi sedikit sudah bisa tersenyum. Meski masih di hadapkan pada kenyataan mahalnya beberapa harga bahan pokok, antrian minyak tanah di banyak tempat, pengangguran dan persoalan ekonomi kerakyatan lainnya, tapi tampaknya angka-angka optimis menuju taraf ekonomi yang lebih baik lagi menyeruak di tengah kesuraman itu. Paling tidak hal ini terlihat dari angkat-angkat yang di tunjukkan lembaga resmi pemerintah.Berbagai indicator ekonomi makro Indonesia menunjukkan angka-angka positif.



LIhat saja pertumbuhan ekonomi bangsa ini pada tahun 2007 mencapai 6,30 persen. Sebuah pencapaian tertinggi sejak krisis moneter mendera bangsa ini. Padahal setahun sebelumnya, angka pertumbuhan ekonomi masih di angka 5,48 persen. Sementara jumlah pengangguran pada tahun 2007 berjumlah 10,50 persen atau mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 10,90 persen.


Penurunan juga terlihat pada jumlah penduduk miskin. Bila pada tahun 2006, jumlah penduduk miskin mencapai 39,30 juta jiwa atau 17,75 persen, maka pada tahun 2007, jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 37,17 juta jiwa atau 16,58 persen. Angka-angka di atas tentu adalah angka-angka versi pemerintah. Versi Lembaga masyarakat tentu akan berbeda lagi hasilnya. Tim Indonesia bangkit yang dikomandani Rizal Ramli misalnya, menyebut bahwa angka kemiskinan pada tahun 2007 mencapai 48,3 juta jiwa. Memang, selalu terjadi perbedaan bila kita selalu menkomparasi angka-angka ekonomi dari sisi pemerintah dan dari sisi lembaga masyarakat.


Namun, semangat optimis bukankah selalu harus di junjung bangsa ini dalam menatap ke depan. Nada-nada pesimis yang selalu di lontarkan justru akan membuat bangsa ini sulit untuk maju dan malah terus berperangkap oleh saling menyalahkan. Memang bukanlah hal yang mudah. Kita perlu meniru langkah Vietnam yang kini semakin sejajar dengan Negara-negara Indusrti di Asia lainnya, seperti China dan India. Dengan konsep Doi Moi (inovasi), kebijakan liberalisasi ekonomi yang diterapkan pemerintah Vietnam ini mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat negeri itu.


Konsep doi moi di perkenalkan pada pertengahan 1980-an ketika memasuki tahap produksi kontrak dari agrikultur dan toleransi ke sector swasta meningkat. Konsep ini dicetuskan pertama kali oleh Ho Chi Minh, pendiri partai komunis Vietnam sekaligus “Bapak Bangsa”. Sektor Pertanian di genjot pertumbuhannya seiring dengan perbaikan pertumbuhan pada sector lainnya, yakni indusri dan perdagangan. Tak hanya itu, instrument pemerintahan juga di reformasi total, sehingga turut menjadi pendukung bagi terciptanya kemudahan dalam berusaha. Sementara sector infrastruktur terus pula di perbaiki, sehingga jadilah Vietnam sebagai The Rising Star, Bintang bersinar di Asia.


Dampak nyata dari kebijakan ekonomi tersebut bisa dilihat pada pendapatan bruto domestic (PDB) dalam 10 tahun terakhir yang rata-rata tumbuh 7 persen. Pertumbuhan ekonomi yang dalam tiga tahun terakhir berada di atas 8 persen. Penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan kini hanya mencapai 15 persen, padahal pada tahun 1990, kemiskinan di Negara itu mencapai angka 51 persen.


Vietnam kini menjelma sebagai Negara yang paling menarik investor asing. Beberapa perusahaaan yang dulunya berlokasi di Negara-negara tetangga Vietnam, termasuk Indonesia, turut pula berhijrah ke Negara itu. Vietnam seolah sebagai magnet yang menarik banyak investor untuk menanamkan modalnya. Pemerintahnya gencar menawarkan berbagai kemudahan dalam berusaha dan berinvestasi.


Dalam satu kesempatan, Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung, bertemu dengan Ketua KADIN Indonesia, MS Hidayat. Dalam jamuan makan siang di Jakarta itu, Nguyen Tan menawarkan invetasi pembangunan hotel bintang lima di Vietnam. Tanpa sungkan, ia menawarkan kemudahan, seperti soal tanah yang tinggal di beli pada pemerintah, karena bukan tanah rakyat. Berbagai jaminan keamanan dan kenyamanan lainnya juga di tawarkan.


Kembali ke ekonomi Indonesia. Kita berharap, membaiknya ekonomi Indonesia bisa terus berjalan. Semangat untuki menarik investor sebanyak-banyaknya harus terus di barengi dengan peningkatan mutu layanan birokrasi pemerintahan dengan member banyak kemudahan, bukannya mempersulit. Perbaikan kondisi infrastruktur, seperti akses jalan, pelabuhan dan factor penunjang lainnya. Muaranya Cuma satu, bagaimana peningkatan kwalitas ekonomi tersebut merembes ke rakyat bawah. Sia-sia saja, pertumbuhan ekonomi yang tinggi bila tak di diikuti dengan membaiknya kesejahteraan rakyat.


Kita sudah trauma dengan kebijakan trickle down effect Orde Baru yang selalu gembar-gembor bahwa Indonesia menjadi Negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan. Tanpa pondasi ekonomi, yakni ekonomi kerakyatan dan pemerataan kesejahteraan, tokh akhirnya rubuh juga.


Kini, wujud yang paling logis di terima rakyat bahwa ekonomi kita telah pulih, kita telah keluar dari krisis ekonomi , sederhana saja. Yakni bagaimana harga kebutuhan pokok bisa terbeli, petani bisa menjual beras atau gabah dengan harga yang wajar, tidak ada lagi antrian untuk mendapatkan beras atau minyak tanah, mudahnya mencari lapangan pekerjaan, layanan kesehatan dan pendidikan yang murah dan bermutu.

01 April 2008

Selebriti Politik

Rano “si Doel” Karno baru saja di lantik sebagai wakil Bupati Tanggerang. Sebelumnya ia sempat hampir menjadi wakil gubernur DKI. Tapi senyum khasnya saat pelantikan menandakan ia sudah cukup puas menjadi orang nomor dua di level kabupaten. Popularitasnya sebagai selebriti agaknya turut serta menghantarkannya sebagai pemenang dalam Pilkada di Kabupaten Tanggerang.

Artis tampaknya kini menjadi andalan beberapa partai untuk menarik suara dalam Pilkada. Tak hanya Rano Karno, tapi kini ada beberapa artis lainnya yang turut bersaing dalam Pilkada. Sebut saja Dede Yusuf yang kini menjadi calon wakil gubernur dalam Pilkda di Jawa Barat. Artis dan bintang iklan obat sakit kepala ini dicalonkan PAN berpasangan dengan calon Gubernur yang berasal dari PKS.

Selain itu, Wanda Hamidah tampaknya juga akan menambah daftar selebriti yang ikut panggung politik. Mantan model ini kabarnya akan dijagokan sebagai calon wakil walikota Tanggerang dalam Pilkada mendatang. Agaknya kemenangan Si Doel dalam Pilkada sebelumnya mengilhami beberapa partai untuk mencari tokoh selebriti yang bisa bersaing dalam pemilihan kepala daerah.

Tak hanya di kursi eksekutif, di kursi legislative saat ini juga terdapat beberapa wajah artis yang mewarnai siding atau rapat di Senayang. Sebut saja Komar, Ajie Masaid dan Angelina sondakh.
Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada masa orde baru dulu, dimana popularitas artis seringkali di manfaatkan sebagai vote getter, pengumpul massa. “Raja dangdut” Rhoma Irama misalnya yang sempat mendulang banyak massa bagi PPP.

Di beberapa Negara, juga banyak pejabat pemerintahan yang berasal dari kalangan artis. Seperti Josefh Estrada yang pernah menjadi Presiden Filipina. Tentu tak ada yang salah dengan kondisi ini. Sepanjang sosok artis itu punya kapabilitas yang cukup, tentu ia bisa menjadi harapan. Namun harus di sadari pula, aspek kwalitas dalam sosok artis seringkali di abaikan oleh masyarakat. Masyarakat justru lebih terpesona dengan sosok keartisannya, karena kegantengannya, karena kecantikannya. Jadi bukan karena ia mampu dan diharapkan bisa membangun daerah, tapi justru karena masyarakat lebih senang dengan sosok idola.
Ibarat kontes menyanyi yang kini menjamur di TV, pilihan masyarakat melalui SMS umumnya hanya karena tampang atau tampilan luarnya saja. Soal kwalitas suara dalam bernyanyi, itu urusan nomor sekian…

Kita seringkali lupa bahwa urusan menyanyi, urusan main film, urusan ngelawak itu tentu perkara yang berbeda dengan mengurus pembangunan daerah, menghapus kemiskinan, menyediakan lapangan pekerjaan, memberantas korupsi dan lain sebagainya.