Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

06 Mei 2008

Popularitas SBY Tinggi, Harga BBM Naik

Ada dua berita di media massa hari ini yang sungguh bertolak belakang. Berita pertama adalah kepastian kenaikan harga BBM. Yang kedua adalah rilis dari survey politik nasional yang di lakukkan Research and Development Institute (RDI) yang menyatakan bahwa SBY masih menjadi figure yang dipercaya oleh rakyat untuk mengatasi kesulitan bangsa saat ini. Memang, konteks berita ini lahir di waktu yang berbeda. Yang satu adalah hasil rapat ekonomi terbatas yang di pimpin SBY pada hari Senin, 5 Mei, sementara yang satunya adalah survey yang di lakukan pada akhir Maret 2008.

Dalam survey terhadap 2600 responden di 33 propinsi tersebut, SBY masih merupakan tokoh yang paling banyak di pilih jika pemilu di lakukan hari ini. JIka di hadapkan pada Megawati, sebanyak 57,4 persen responden akan memilih putra Ciamis itu dan 40,1 persen lainnya yang memilih Megawati. Begitu pula jika SBY di hadapkan pada Wiranto, responden pemilih SBY sebanyak 63,7 persen, sedangkan pemilih Wiranto 32,9 persen. Angka peroleh SBY akan lebih tinggi lagi bila di hadapkan pada Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni 66,9 untuk SBY dan 29,4 persen untuk Sri Sultan.

Jika berhadapan dengan Hidayat Nur Wahid, SBY di pilih 71,7 persen, sedangkan mantan Presiden PKS hanya di pilih 24,9 persen. Begitu pula jika SBY berhadapan dengan wakilnya saat ini, yakni Jusuf Kall, responden yang memilih SBY sebanyak 77, 1 persen berbanding 19,6 persen.

Pilihan responden itu tentunya saat berita tentang rencana kenaikan harga BBM belum di buat. Padahal, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di pastikan akan membuat citra pemerintahan SBY melorot. Dampak kenaikan harga BBM tentu sangat terasa pada masyarakat menengah ke bawah yang selama ini saja sudah sangat kesulitan. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, kenaikan biaya transportasi dan kenaikan biaya produksi pada industri adalah efek domino dari kenaikan BBM. Masyarakat miskin adalah lapisan masyarakat yang paling terkena dampaknya.

Pemerintah memang akan menyiapkan kompensasi dari kenaikan BBM pada masyarakat miskin. Namun masih belum jelas dalam bentuk apa. Dan lagi, apapun bentuk kompensasi itu, rasanya tidak akan bisa menandingi kerugian yang dialami masyarakat miskin. Pengalaman yang sudah-sudah, berbentuk jaring pengaman social, bantuan langsung tunai atau yang lainnya, tidak efektif untuk menanggulangi kesulitan yang dialami masyarakat kecil.

Dalam konteks ini, SBY berani mengambil resiko. Ia rela popularitasnya turun asal Anggaran Negara terselamatkan. Ia rela peluangnya di 2009 akan mengecil demi menghindari kebocoran deficit APBN yang jumlahnya bisa mencapai ratusan trilyun atau di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menarik membaca analisis politik Eef Saefulloh Fatah di harian Kompas hari ini.
“Demokrasi tak mengajarkan ketergantungan pada pemimpin. Akan tetapi, dalam situasi krisis, demokrasi senantiasa menempatkan pemimpin dalam pusat sorotan lampu. Di tengah krisis, pemimpin tak bisa menghindar dari posisi sebagai pembuat keputusan yang di tunggu..”

Tentu keputusan menaikkan harga BBM bukanlah tindakan emosional, gegabah, hasil pikiran jangka pendek dari seorang SBY. Sebelumnya, ia berulangkali menyatakan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM sampai tahun 2009. Artinya, ia tidak mau mengambil resiko di saat menjelang Pemilu karena itu dianggap sebagai keputusan tak populer. Ia sadar bahwa biaya politiknya akan sangat mahal dengan keputusan ini. Di sini letak kepemimpinan di uji.

Tapi SBY berhasil keluar dari bayang-bayang ketakutan lunturnya popularitas. Dalam situasi sulit, kenaikan harga Minyak dunia yang bahkan di atas 115 dollar per barrel, sebuah keputusan di ambil. Kebijakan kenaikan BBM, meski masih dalam perhitungan berapa persen kenaikan dan waktu berlakunya, harus diakui telah menghapus banyak analisis yang menyatakan bahwa SBY pemimpin yang penakut, tak berani mengambil reksiko.

Sudah bukan rahasia umum lagi. Tudingan bahwa SBY lebih mengedepankan tebar pesona ketimbang kerja nyata telah banyak di suarakan banyak pihak, tak hanya musuh politiknya, tapi juga teman politiknya dalam koalisi pendukung SBY-JK dalam Pilpres 2004 yang lalu. SBY juga dianggap terlalu kompromistis demi stempel pemimpin yang pro rakyat. Dan rencana kenaikan BBM ini, agaknya telah mengalahkan opini itu.

Hari-hari kedepan, dipastikan akan muncul banyak penolakan dari banyak pihak, apalagi dari musuh politiknya di Senayan. Dan memang begitulah pemimpin. Ia harus siap menerima reksiko dari keputusan yang di ambilnya. Pemimpin hadir justru karena untuk mengambil sikap yang dianggapnya benar demi kemaslahatan rakyat yang di pimpinnya. Dan jabatannya itu adalah taruhannya.

Karena itu, meski dalam survey terakhir SBY masih di unggulkan untuk menjadi pemimpin bangsa, pasca kenaikan harga BBM, tentu kondisinya akn berbeda.
SBY harus siap tak terpilih lagi dalam Pilpres mendatang. Tapi bisa jadi, namanya akan tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai pemimpin yang pernah menyelamatkan bangsa dari ancaman kebangrutan ekonomi.

Entahlah…

0 komentar: