“Ikhwan besok liputan Muktamar luar biasa PKB Gus Dur ya. Nginap di Parung”, kalimat dari saluran telepon itu di lontarkan Mas Dedy, coordinator liputan yang kebetulan tugas hari itu. “Siap”, jawaban khas anak-anak News Trans TV. Liputan berbau politik memang selalu menarik hatiku. Apalagi Konflik PKB lagi hangat-hangatnya.
Namun bayangan indah liputan muktamar PKB ini ternyata berbanding terbalik. Perjalanan menuju ke lokasi acara saja sudah membuat kesan tak manarik. Kegiatan yang berlangsung di pesantren Al-Ashriyyah, Nurul Iman, Parung, Bogor ini jaraknya memang sangat jauh. Dan lagi, kondisi jalan yang berlubang, tak beraspal menambah parah keadaan. Jalanan macet karena bus-bus rombongan peserta mukatamar memenuhi jalan yang sempit itu. Petugas Garda bangsa tampak tak siap mengatur arus lalu lintas.
Tempat acara muktamar adalah sebuah gedung terbuka yang biasa di gunakan untuk latihan karate para santri. Tapi di perindah dengan tenda putih dan panggung yang lumayan megah. Ratusan peserta tampak tertatih-tatih membawa barang bawaan. Beberapa diantaranya mendaftar di tempat registrasi. Semuanya terlihat seperti terburu-buru. Maklumlah, muktamar PKB versi Gus Dur ini memang di buat 5 hari sebelumnya. Jadi semuanya terburu-buru.
Pondok pesantren Ashiriyyah ini memang tak memiliki fasilitas yang cukup. Namun menjelang Muktamar, segala fasilitas pendukung di persiapkan. Misalnya lapangan bola yang becek pada saat hujan di tutupi dengan ubin. Tenda-tenda besar di pasang. Ruang perpustakaan di jadikan media centre dan ruang registrasi. Atap gedung latihan karate di perbaiki. Kamar mandi buat peserta di buat dengan bambu dan di tutupi dengan kain karung. Pokoknya jauh dari kemewahan.
Di ruang media centre memang di sediakan beberapa unit komputer. Namun sayang, komputer itu jadi tak begitu berguna karena tidak menyediakan layanan internet. padahal, fasilitas internet wajib bagi wartawan, baik untuk mengirim berita ke kantor maupun mengirim gambar buat wartawan TV.
Namun di balik keterbatasan itu, peserta dan para santri yang jumlahnya hampir 12 ribu orang itu sangat antusias menyambut sang sosok kontroversial. Ya, kedatangan Gus Dur melebihi antusiasme masyarakat desa yang kedatangan SBY naik ojek. Dan inilah musuh wartawan sesungguhnya. Yakni tak bisa mengambil moment kedatangan ketua dewan Syuro PKB itu. Belum lagi sifat arogan satgas garda bangsa yang galaknya melebihi Paspampres yang baru di mutasi ke Koramil daerah terpencil.
Gus Dur, bagi mereka, adalah sosok yang di puja, di sanjung dan di junjung. Ia layaknya seorang nabi, yang tangannya harus di cium demi sebuah berkah. Sikap Gus Dur yang penuh kontroversi, suka melawan arus, bahkan banyak bertentangan dengan kalangan Islam tradisional sekalipun, tampak menjadi cair. Ia memang ibarat Nabi.
Acara pembukaan di tandai dengan pemukulan angklung banyumas oleh Gus Dur. Namun di warnai oleh hujan deras dan petir keras bersahutan. Suara air di atap mengalahkan suara sound system. Hujan lebat itu membuat tanah di tenda paling belakang kebanjiran. Tingginya melebihi batas mata kaki. Di tambah lagi oleh lumpur merah dari tanah pesantren yang dulu katanya adalah rawa-rawa.
Saat malam tiba. suara sound system bersahutan. Panitia tampak repot mengarahkan peserta untuk makan malam. Banyak pula panggilan kepada peserta karena di cari oleh temannya sendiri. Tak sedikit yang di panggil karena mobil peserta menghalangi jalan kendaraan lain. Bagi wartawan, malam itu tak dapat jatah makan. Maka, aku dan Danu, sang reporter, mencari makan di luar arena muktamar. Tapi susahnya minta ampun. Setelah putar-putar, akhirnya kami dapat makan nasi pake indomie rebus dan telur goreng. banyak pula peserta yang santap malam di sekitar kami. "Gak pas di perut", kata salah seorang peserta dari Banjarmasin ketika aku tanya kenapa tak makan dari jatah panitia.
Jam 2 lebih dini hari acara baru usai. Kami pun keluar mencari hotel. Bayangan tidur indah di kasur empuk ber AC akhirnya kandas. Tak satupun hotel yang kami cari ada kamar kosong. Semuanya habis di pake peserta muktamar. Lelah mencari sampai hampir ke Bogor, akhirnya kamipun terlelap di mobil sampe jam 7 pagi. Sikat gigi dan cuci muka kami lakukan di kamar mandi sebuah mesjid.
Acara kembali berlangsung. Ali Maskur Musa terpilih sebagai Ketua Dewan Tanfidz. Semuanya tampak sudah di skenariokan. 11 DPW mendukung pencalonan Yenny Wahid. 6 ke Muamir dan hanya 1 ke Ali Maskur. Selebihnya menyerahkan ke Gus Dur. Yenny Wahid, mundur dari pencalonan dan menyerahkan suara pendukungnya ke Ali Maskur Musa. Dan di dalam sidang, akhirnya semua kembali ke Gus Dur. Gus Dur tak mau ambil keputusan sendiri. Ia mengundang 6 orang dari perwakilan pulau, yakni sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi, maluku dan papua. Akhirnya Ali Maskur Musa terpilih secara aklamasi.
Semuanya berlangsung datar. tak ada dinamika forum kecuali pada saat rapat pleno malam sebelumnya yang sempat di warnai hujan interupsi. Maka Muktamar luar biasa di tutup dan menghasilkan keputusan. Peserta Muktamar, bagiku, tampak hanya jadi pelengkap, agar kegiatan tampak legitimate, konstitusional dan kuat secara politis.
Entahlah…
03 Mei 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar