Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

05 Mei 2008

Cerita Di Balik Milad 10 PKS

wanita itu adalah An Nida Nia. Pagi itu ia repot bukan kepalang. Sebuah SMS malam sebelumnya menjadi pemicunya. “ Ass. Gelorakan smngt, kuatkan tekad. Hadiri puncak Milad PKS di gelora Snyan, Ahad, 4 Mei jam 7 – 12. Kumpul d Kecmatan jam 06.00”.
Ia mengajak serta suaminya untuk hadir di acara itu. Sang suami tak dapat mengelak. Ia faham kalau istrinya adalah kader PKS yang sulit absen dari kegiatan partai meskipun sedang hamil. Bahkan kehamilannya sudah hampir mencapai 9 bulan. Tapi panggilan partai rasanya sulit untuk di tolak.

Maka, pagi yang biasanya santai itu pun berubah menjadi kesibukan. Dari mulai mencuci pakaian, belanja ke pasar, memasak, mengepel lantai hingga menyiram bunga. Mereka bersepakat pergi dengan motor saja ketimbang dengan rombongan menggunakan bus di kecamatan. Maka, tak harus pagi sekali mereka berangkat. Jam setengah 9 akhirnya pasangan suami istri itu selesai dan segera berangkat ke Stadion Gelora Bung Karno, tempat perhelatan akbar yang akan mereka hadiri.

Di jalan, suasana sepi. Maklum hari itu hari minggu, waktu bagi orang Jakarta berdiam diri di rumah. Tak terlihat pula konvoi orang-orang PKS yang akan ke Senayan. Kemana mereka gerangan? Tak terlihat kemacetan hingga ke bibir Gelora Bung Karno. Tapi deretan bus sudah terjejer rapi di pinggir jalan. Di sekitar halaman stadion, barulah terlihat ribuan orang yang antri masuk ke dalam. Pakaian putih-putih mendominasi. Beberapa diantaranya berlogo padi dan kapas. Banyak pula anak-anak kecil yang ikut serta. Pagi yang panas tak menyurutkan semangat para kader untuk memeriahkan acara ulang tahun itu.

Setelah antri, berdesakan, keringat bercucuran, dapatlah sebuah tempat duduk bagi Nia. Wajahnya sudah bermandikan keringat. Namun senyum dan semangat mendengarkan Tifatul Sembiring, sang presiden partai, Hilmi Aminuddin, sang Ketua Dewan Syuro hingga SBY, sang presiden membuat ia lupa dengan terik matahari. Sang suami setia berdiri di sisinya.Semangat bergelora saat massa bertepuk tangan, bertakbir dan mengibar-ngibarkan bendera PKS. Terlebih saat Nia melihat dan mendengar langsung grup music favoritnya mengisi acara. Grup Shotul Harokah pagi itu memang berhasil membangkitkan semangat seratusan ribu massa untuk menggapai optimisme dalam memenangkan partai.

An Nida Nia ikhti adalah satu dari seratusan ribu massa PKS yang pagi itu memenuhi stadiun Bung Karno. PKS memang sebuah partai fenomenal. Meski baru berumur sepuluh tahun, tapi ia sudah membuat banyak orang takjub. Sebuah kebersamaan, loyalitas, militansi dan kepedulian membuat citra partai ini baik di mata rakyat kebanyakan. Citra bersih, tak terkontaminasi masa lalu yang koruptip menjadi nilai tambah lagi. Sikap agamis yang berhasil di pertunjukkan, peduli terhadap sesama, membuat banyak orang bersimpati. Pemilu pertama kali yang mereka ikuti, mereka sudah mendapat 7 kursi di DPR. Pemilu tahun 2004 lalu bahkan melonjak 7 kali lipat. Dalam Pilkada di banyak daerah, partai Islam ini memenangkan 88 di wilayah propinsi, kabupaten dan kota. Terakhir, yang fenomenal, adalah kemenangan partai ini dalam Pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Partai ini berhasil menjungkirbalikkan analisa banyak pihak bahwa menang dalam pilkada harus dengan partai Besar. Partai Golkar dan PDIP yang selama ini menguasai banyak daerah, berhasil di kalahkan. Sebuah prestasi yang sulit di buat partai baru lain.

Kaderisasi menjadi salah satu kunci partai ini bisa menggurita di tengah-tengah masyarakat. Nia adalah salah satu contohnya. Wanita ini sudah tertarik ke PKS sejak kuliah. Pengajian yang rutin di gelar setiap minggu membuat ia meyakini, bahwa masuk ke PKS tidak hanya sekedar aktivitas politik, tapi juga ibadah. Nilai itu tertanam sangat dalam ke para kader. Pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan itu sebagai ibadah membuat mereka mau melakukan apa saja, mengorbankan apa saja demi sebuah ibadah. Pemahamannya, aktivitas di partai adalah berdakwah, menyebarkan pola kehidupan yang sesuai tuntutan syariah ke masyarakat.

Berpartai tak harus berambisi kekuasaan, namun bagaimana nilai-nialai dakwah bisa di terima ke masyarakat. Nilai ini terpatri kuat.Tak heran, dalam Pilkada di Jakarta yang lalu misalnya, Nia bersedia menjadi tim relawan yang menyosialisasikan calon dari PKS ke masyarakat. Tak ada janji-janji uang, tak ada di sediakan sarana khusus. Tapi, ia bersama teman-temannya di pengurus ranting, masuk ke gang-gang kotor, mengetuk pintu rumah, masuk dan mengenalkan calon yang mereka jagokan. Siang dan malam bekerja tanpa mendapat kompensasi, karena yang di harap adalah pahala. Begitulah pemahamannya.

Sikap antipasti dari sebagian masyarakat, panas terik atau hujan sekalipun, tak menyurutkan semangat untuk berkerja demi partai. Kini, PKS menatap ke 2009. Optimisme menyeruak di wajah mereka. Euforia kemenangan saat Pilkada begitu terasa. Padahal, kini masyarakat menanti kerja nyata dari jagoan mereka yang telah duduk di kursi pemerintahan. Akankah ada perubahan, atau tetap saja dengan yang lama ; rakyat tetap kelaparan, harga melambung tinggi, pengangguran terus bertambah dan kemiskinan tak berkesudahan. JIka kemenangan tak di barengi dan kerja nyata yang menyentuh masyarakat, maka tak mustahil nasib partai itu tak jauh beda dengan partai lain. Di tinggalkan dan masyarakat kembali di hadapkan pada sikap pesimis dan mati harapan…