Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

21 Mei 2008

Alhamdulillah, Akhirnya Menjadi Ayah

19 Mei 2008. Sehari sebelum seabad kebangkitan nasional. Siang itu pukul 14.08 Wib. Awal mula tangisan pecah di satu ruang operasi Rumah Sakit Evasari, Rawasari, Jakarta Pusat. Seluruh perjuangan dari istri tercinta tuntas sudah. Lahir sesosok mungil bayi laki-laki, penerus keluarga kami. Dengan semangat membuncah, aku lafadzkan adzan di telinga bagian kanannya. Mata bayiku terbuka, memandang ke atas, seolah sedang menyimak makna kalimah Adzan yang berkumandang dari mulut ayahnya. Begitu pula saat Iqamah. Ia seolah mendengar, menghayati tanpa sedikitpun keluar bahasa tangisan. Kini, aku menjadi seorang ayah. Dari seorang bayi yang saat itu berbobot 2,8 kilogram dan panjang 48 cm.

Senyum bahagia tersungging dari bibir istriku, Pujiati. Saat baru keluar dari ruang operasi, aku langsung membelainya, memegang erat jemari tangannya. Senyum bahagia, tak terkira. Sampai-sampai, butiran air mata jatuh dari kelopak matanya. Air mata ini pemicu empati, hingga aku tak kuasa pula menahan butiran air mata menetes dari ujung kelopak mataku. Sungguh, sebuah perjuangan tak terkira, terutama bagi istriku. Operasi cesar adalah jalan terbaik, demi keselamatan sang bayi. Analisa dokter, bisa saja kelahiran berlangsung secara normal, tapi bisa berakibat tak baik bagi bayi bila terlalu di paksakan. Maka, ketika dokter member opsi operasi cesar, kami tak dapat mengelak. Prinsipnya, mana yang terbaik, ya lakukan saja. Rasanya, saat masuk ke Rumah sakit, kami sudah menggadaikan hidup sang bayi kepada dokter rumah sakit. Maka, jalan operasi di tempuh seketika itu juga.

Jauh dari bayangan. Impian memiliki bayi mungil nan lucu kini terwujud sudah. Melihat tangis bayi dan senyum kebahagiaan istri, rasanya sudah membayar beban yang di tanggung selama sehari lebih. Ya.. sehari lebih, dari mulai istri masuk rumah sakit sampai sang bayi mencium bau bumi. Rasa sakit yang di tanggung istri, rasanya juga menjadi rasa sakit juga bagiku. Tak tega melihat penderitaan, sampai beberapa kali harus menangis. Bagi istri, ini adalah perjuangan, antara hidup dan mati, demi sang bayi, titipan Illahi. Kini baru terasa, bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan kita dahulu. Bagitu sakit, berat dan semuanya di landasi keikhlasan. Tanpa pamrih. Tak terbayang bagaimana besarnya dosa bagi anak yang durhaka pada sang ibu.

Awalnya, minggu pagi, 18 Mei 2008. Subuh hari, istri merasakan ingin buang air besar di sertai mulas. Sementara pagi itu, aku bersiap untuk kerja. Tapi atas nasehat ibu tukang cuci setrika di rumah, akhirnya aku permisi izin tak kerja. Mulas yang semakin sering menjadi sinyal bahwa kami pagi itu harus ke rumah sakit. Sekitar jam 10.00 Wib, kamipun ke rumah sakit dengan sepeda motor. Jarak dari rumah ke rumah sakit tak sampai 500 meter. Setelah di periksa oleh perawat, aku di panggil. Ibu tua perawat itu menerangkan kalau istri sudah status buka 1 dan karena itu harus di rawat. Ada rasa bahagia. Sebentar lagi kami punya bayi. Tapi tersirat pula rasa takut menghadapi proses persalinan. Mendengar pengalaman dari teman-teman menciptakan bayangan ngeri di pikiranku. Dan mungkin pula istriku.

Aku segera pulang. Mengambil sebuah tas yang sudah berisi pakaian lengkap bayi dan mengambil pakaian istri. Sejak awal bulan, aku dan istri memang sudah mengemas perlengakapan bayi, khususnya pakaian ke dalam sebuah tas. Untuk berjaga-jaga. Di rumah sakit, rasa mulas semakin sering. Terutama setelah istri di beri suntikan perangsang. Aku memang tak merasakan rasa sakit. Tapi melihat kondisi istriku, aku bisa membayangkan rasa sakitnya. Di kamar persalinan itu, pemeriksaan rutin di lakukan oleh para perawat. Selama itu pula, aku terus berusaha di sisi istri. Paling tidak, wujudku bisa menjadi sedikit penawar rasa sakit sang istri. Untuk terus mendampingi istri, berkali-kali harus bersikeras dengan perawat. Pasalnya, peraturan rumah sakit tidak membolehkan anggota keluarga untuk berada di kamar persalinan. Tapi sikap cerewetku bisa mengalahkan mereka.

Maghrib, istri masih berstatus buka 1. Begitu lama waktu untuk pindah ke status buka 2. Padahal, rasa sakit dan mulas semakin sering saja. Jam 8 malam, dokter Ariati, dokter yang selama ini terus mendampingi istri dari mulai awal kehamilan, tiba dan memeriksa. Jam 9 malam lewat baru berstatus buka 2. Perkiraan dokter, kelahiran baru akan terjadi besok atau senin siang. Anak pertama memang biasanya suka lama. Begitu kata dokter. Duh, masih lama ternyata. Dari hasil USG, posisi bayi juga masih belum sempurna, yakni masih sedikit terlentang. Harusnya adalah posisi bersujud. Tapi dokter berusaha meyakinkan bahwa proses kelahiran masih bisa di lakukan secara normal. Tapi dokter mengkhawatirkan tensi darah istriku yang tak stabil. Pada saat mulas, tekanan darah bisa mencapai 140.

Rasa sedih semakin bertambah mengingat kami adalah perantauan. Tak ada sanak keluarga yang datang menjenguk. Termasuk orang tua. Mertua baru akan berangkat senin sore dan tiba selasa pagi. Kami dan mereka memang tak mengira proses kelahiran berlangsung secepat ini. Karena sebelumnya, prediksi dokter menyatakan, kelahiran akan terjadi akhir bulan Mei, atau sekitar tanggal 29. Sementara Umiku, memang baru akan datang awal bulan Juni. Gantian, tukaran shift dengan mertua.

Makanya, kami benar-benar berjuang Cuma berdua. Ini membuat rasa sedih terus bertambah. Beberapa kali harus menangis, karena membayangkan perjuangan istri melawan rasa sakit hanya di temani aku. Kami berdua, tak ada yang lain. Terbayang kalau hal ini terjadi di kampung. Pastilah banyak saudara, jiran tetangga yang datang, menghibur dan memberi semangat untuk melewati proses yang maha berat ini.

Malam yang panjang. Satu menit rasanya seperti melewati satu hari. Aku semakin ingin cepat menyelesaikan proses ini. Tapi apa daya. Allah punya kuasa. Hanya doa dan mengaji yang bisa ku lakukan sambil terus member semangat kepada istri. Sesekali aku berusaha membuatnya tertawa dengan candaan-candaan menggoda. Tapi tetap saja, kegaringanku tak membuatnya bisa tertawa di ruang persalinan itu, kami berusaha untuk kuat dan tabah. Tak tahu jalan apa yang bisa di buat untuk menghilangkan rasa sakit. Dan memang tak ada jalan. Karena siapapun orangnya, proses kelahiran memang harus melewati fase seperti yang di alami istriku saat ini.

Sikap beberapa perawat di rumah sakit memang sesekali membuat naik pitam. Mereka sangat kaku menterjemahkan aturan rumah sakit. Beberapa kali aku harus membantah pernyataan mereka, bahwa sebagai suaminya, aku harus tetap berada di sisi istri. Selain bisa membantu dalam hal-hal tertentu, secara psikologis, kehadiranku juga akan membuatnya termotivasi untuk melewati proses ini. Kehadiranku juga bisa menjadi teman untuk berbagi rasa sakit. Siapapun orangnya jika seperti dalam posisi istriku saat ini, pastilah membutuhkan orang yang terdekat. Ini obat yang jauh lebih mujarab dari pada puluhan suntikan yang harus mereka cocorkan ke tubuh istriku.

Tapi hal ini yang justru tidak mereka sadari. Sampai pada akhirnya aku mengalah. Tengah malam itu, perawat yang kelihatannya sudah senior memintaku untuk menunggu di lobby rumah sakit karena batas waktunya sudah tidak bisa di kompromikan lagi. Aku mengalah setelah perawat menjamin bahwa para perawat akan stand by di ruang perawat itu untuk melihat istriku. Sebelumnya, perawat itu hanya duduk di tempat perawat, di luar kamar dan baru akan masuk bila akan melakukan pemeriksaan dan atau ketika di panggil saja.

Maka, tengah malam itu, aku menghabiskan waktu di lobby, duduk di kursi berbusa empuk yang di sediakan. Tapi busa empuk itu tak mampu membuatku nyaman, karena fikiran masih terus tertuju ke istri. Membayangkan rasa sakit yang di tanggung istri seorang diri, dan hanya di temani perawat, yang belum tentu punya pendekatan kemanusiaan untuk mengobati dan merawat pasiennya. Sesekali aku tertidur, tapi terbangun kembali tak lama kemudian. Mencoba masuk ke ruang persalinan, tempat istri berada, tapi ternyata pintu sudah di kunci. Maka, hingga pagi, aku hanya duduk, di temani kegelisahan dan kegundahan.

Paginya, aku baru bisa kembali melihat istriku. Wajahnya terlihat merah. Matanya berair saat aku datang. Ia merasakan kehilanganku malam itu. Saat mendekat, iapun memegang erat tanganku, seolah tak membolehkanku untuk pergi, meski untuk sesaat. Aku merasakan penderitannya malam itu. Tanpa diriku, berjuang sendirian, adalah sebuah pertempuran yang luar biasa. Aku tak mampu berkata apapun. Ku yakinkan dari pandanganku, bahwa aku akan tetap berada di sisinya, tak akan jauh.

Pagi itu, istriku sudah berstatus buka 5. Perawat menyatakan, bahwa jika akan kenaikan status lagi, maka istriku akan segera masuk ke ruang tindakan untuk persiapan kelahiran. Dan itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wib. Dokter memerintahkan hal itu setelah mendapat laporan dari perawat tentang adanya peningkatan status. Waktu mulas istriku juga semakin sering. Dua kali dalam 5 menit. Dan rasa sakit tampak semakin menjadi-jadi. Bila rasa sakit itu datang, istriku menegang, sesekali keluar kalimat zikir dari mulutnya. Aku berusaha untuk tenang dan terus berusaha menghiburnya.

Di ruang tindakan, aku masih bisa ikut mendampinginya, kecuali pada saat pemeriksaan. Dokter Ariati tiba di agak siang. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa istirku akan di rangsang lagi untuk mempercepat kontraksi. Bercak darah juga semakin banyak. Maka di perkirakan, dalam waktu dua jam paling lama, proses kelahiran akan terjadi. Tapi dokter masih mengkhawatirkan posisi bayi yang belum juga sempurna. Masih terlihat agak terlentang.

Pemeriksaan kedua, dokter mengatakan bahwa air ketuban istriku sudah agak menghijau. Ia berkata bahwa bayi stress karena proses yang sangat lambat. Dalam jangka panjang, bisa berakibat infeksi pada bayi. Sementara proses pembukaan dari 8 ke sepuluh terbilang lamban. Pada saat ngeden, terlihat posisi bayi agak terjepit dan sudah untuk keluar. Tak lama dari sinilah, dokter memutuskan bahwa proses persalinan normal akan sulit di lakukan. Bisa saja di lakukan secara normal, tapi tak baik bayi bayi. Dokter mengatakan hal itu di depan istriku. Mendengar argument itu, aku tak bisa mengelak. Setelah memandang istriku, aku berkata, “lakukan saja yang terbaik dok”.

Aku meyakinkan istriku bahwa proses ini akan selesai. Nggak perlu takut. Ia mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia memegang erat tanganku. Aku membelainya dengan penuh kasih saying. Aku meyakinkan dirinya untuk terus bersemangat. Ada wajah keletihan di wajahnya. Tekanan darah mencapai 140 menandakan ada rasa takut pada istriku.
Persiapan operasi di lakukan dengan secepat mungkin. Para perawat sibuk menyiapkan alat-alat, yang lainnya sibuk menelpon. Semuanya hiruk pikuk di depan kami. Aku terus berusaha untuk terus menghibur. Tapi tetap saja aku tak kuasa. Kini aku tak kuasa menahan air mata jatuh ke pipi di depan istriku. Ini tak baik. Tapi memang aku lemah, tak kuasa menahannya. Tapi secepat itu pula aku berusaha untuk menguasai diri. Sampai akhirnya istri di bawa ke ruang operasi. Aku melepasnya dengan senyum. Ia juga berusaha untuk senyum. Aku siap, apalagi setelah menandatangani form yang berisi menyerahkan segala sesuatunya tentang keselataman istri dan bayi pada dokter.

Aku di bawa ke ruang tunggu operasi. Di situ di sediakan televisi. Aku bisa menyaksikan langsung operasi itu dari pesawat televise. Aku hanya sempat melihatnya sesaat. Saat pisau-pisau dari para dokter itu menyayat perut istriku, seketika itu pula aku matikan televisi. Aku tak kuat. Aku tak tega. Selama ini, aku masih bisa menyaksikan adegan-adegan korban kekerasan, khususnya pada saat liputan criminal. Tapi kini, yang aku lihat adalah perut istriku sendiri. Aku seolah bukan menjadi ikhwan yang selama ini kuat.

Bahkan pada saat melihat jenazah buyaku, tak setetes air matapun mengalir di pipiku. Aku kuat. Meski setelah itu aku menumpahkan air mata. Tapi tidak di depan jenazah buyaku. Tapi kali ini memang berbeda. Sebagai penawarnya, aku mengambil air wudhuk. Aku sholat hajat untuk keselamatan istri dan bayiku. Aku menghabiskan waktu untuk mengaji, menyempurnakan surah yusuf dan surah At-Taubah. Waktu seolah berlalu begitu cepat. HIngga aku menghidupkan TV, kini di layar gambar yang terpampang adalah perut istriku yang sudah agak tertutup, dalam proses penjahitan. Ternyata operasi sudah hampir selesai. Langsung aku keluar untuk mencari bayiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan buah hatiku itu di ruang perawatan bayi. Lantunan adzan dan iqamah aku senandungkan.


NB : Nama dan Foto bayi menyusul...

0 komentar: