Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

08 Mei 2008

30 Tahun Yang Lalu

Hidup bagai di dalam kereta. Pemandangan di luar terlihat nyata, melesat-lesat berkejaran. Di dalam kereta, penumpang duduk menanti tempat yang di tuju. Semuanya berjalan seolah lamban, mengalahkan situasi di luar yang terus berganti. Begitulah hidup dalam perjalanan waktu. 30 tahun rasanya punya rentang yang sangat panjang. Tapi seolah tak terasa.

“Hamparan padang membentang jauh
Pahit manis telah tersentuh
Kadang berjalan dengan tubuh lusuh
Kadang berlari mendayu-dayu”

Itulah penggalan tulisan yang tercetak di halaman depan skripsiku saat kuliah dulu. Uniknya, itulah hidup. Meski maksud hati pergi ke utara, tapi bisa jadi kekuatan lain menghantarkan dan mencampakkan kita ke arah lain, bisa ke timur, barat atau selatan. Sebuah asa tak selamanya menyediakan ruang realitas yang berbanding lurus. Tapi semuanya telah menjadi guru. Bahwa hiduplah dengan hikmah. Karena sebuah pelajaran ada dibalik realitas yang kerap kita jalani.

30 tahun lalu, di sebuah rumah berdinding papan. Di salah satu afdelling, sebutan bagi satu dusun di sebuah perkebunan kelapa sawit, di pelosok sumatera utara. Tangisan yang di tunggu pecah dan akhirnya menjadi sebuah kebahagiaan. Belajar bicara, berjalan, mengenal wajah-wajah di sekitar, mengecap pendidikan hingga akhirnya mengenal hidup yang misterius ini. Adalah dua insan, sang pahlawan yang sesungguhnya. Umi dan Buya.

Kasih sayang mereka mengiringi setiap detak jantung kehidupan. Kebajikan dan amal soleh senantiasa di titipkan. Kebebasan dan tanggung jawab terus di tanamkan. Kemandirian terus di contohkan. Sebuah nilai hidup yang hingga kini coba terus di hidupkan.

Tapi belajar belum usai dan tak kan pernah mengenal kata usai. Badai gelombang pasti tetap mengintai, sebanding dengan kenikmatan hidup yang juga senantiasa menanti. 30 tahun memang waktu yang tak sebentar, tapi sangat singkat untuk mengerti apa makna hidup sesungguhnya.

0 komentar: