Pasangan Syamsul Arifin - Gatot Pujo (Syampurno), tak lama lagi akan menduduki kursi gubernur sumatera utara. Kini saatnya menagih janji-janji kampanye mereka. Masalahnya, dalam berbagai kampanye, pasangan ini justru tak pernah memberi janji konkrit bila kelak terpilih sebagai gubernur.
Dalam berbagai kesempatan, Syamsul arifin selalu berujar kalau dirinya tidak akan memberikan janji-janji kepada rakyat. "Saya tidak berani janji sekolah gratis, kesehatan gratis kalau terpilih sebagai gubernur. Saya datang ingin menyatakan Syamsul-Gatot siap memimpin masyarakat Sumut. Sebagai pemimpin saya akan jalankan pemerintahan sesuai dengan keinginan rakyat, bukan rakyat yang memenuhi keinginan saya," kata Syamsul Arifin saat kampanye di Bandar Khalifa.
Dalam banyak kampanye, Syamsul Arifin selalu mengeluarkan slogan "rakyat tidak lapar, tidak bodoh, jangan sakit, dan mempunyai masa depan". Bagaimana bentuk programnya?, bagaimana bentuk penanggulangannya?, rasanya belum pernah di beberkan.
Di kesempatan kampanye yang lain, pasangan ini sedikit lebih konkrit. Ia mengatakan bahwa pendidikan harus prioritas pertama. Tidak akan ada lagi anak-anak putus sekolah. Program belajar tingkat dasar sembilan tahun. Juga pelayanan kesehatan masyarakat, jangan kerena tidak punya duit membayar perobatan lantas ditolak. Dokter harus berwajah manis, meski warga yang datang berpakaian luush(kumal) dan tak berduit.
Tapi, Syamsul justru berani memberi janji konkrit terhadap pembentukan propinsi Tapanuli. “Doakan saya berhasil memimpin Sumatera Utara. Karena ke depan kita akan dukung Tapanuli menjadi provinsi dengan tujuan agar daerah Tapanuli semakin maju. Dari awal pembentukan Provinsi Tapanuli kita tidak merasa keberatan,” ujar Syamsul Arifin dalam kampanyenya di Tarutung.
Syamsul Arifin dan Gatot memang berbeda dengan pasangan lain. Di jawa Barat misalnya, pasangan yang juga di usung PKS, Hade, berani berjanji menyediakan lapangan pekerjaan untuk satu juta orang dalam 3 tahun kepemimpinannya. JIka tidak tercapai, pasangan ini berani teken kontrak, mundur dari jabatan.
Lantas, bagaimana masyarakat sumatera utara bisa menagih janji pasangan Syampurno? Apa yang di harapkan dari masyarakat dalam 100 hari kepemimpinannya? Bagaimana masyarakat bisa menuntut mundur pasangan ini kalau ternyata gagal memimpin, wong ternyata pasangan ini tak pernah memberi indikator konkrit atas penilaian gagal dalam memimpin?
Bangsa kita memang di kenal sebagai bangsa pelupa. Janji-janji yang pernah di lontarkan pemimpin harapan, biasanya akan hilang di makan waktu. Kita lupa untuk mengingatnya, apalagi menagihnya. Mungkin Syampurno memahami hal ini. Sehingga nggak perlulah berjanji-janji. Tokh nanti masyarakat lupa juga.
kalau begitu, akankah ada perubahan di Sumatera Utara?
29 April 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar