Rano “si Doel” Karno baru saja di lantik sebagai wakil Bupati Tanggerang. Sebelumnya ia sempat hampir menjadi wakil gubernur DKI. Tapi senyum khasnya saat pelantikan menandakan ia sudah cukup puas menjadi orang nomor dua di level kabupaten. Popularitasnya sebagai selebriti agaknya turut serta menghantarkannya sebagai pemenang dalam Pilkada di Kabupaten Tanggerang.
Artis tampaknya kini menjadi andalan beberapa partai untuk menarik suara dalam Pilkada. Tak hanya Rano Karno, tapi kini ada beberapa artis lainnya yang turut bersaing dalam Pilkada. Sebut saja Dede Yusuf yang kini menjadi calon wakil gubernur dalam Pilkda di Jawa Barat. Artis dan bintang iklan obat sakit kepala ini dicalonkan PAN berpasangan dengan calon Gubernur yang berasal dari PKS.
Selain itu, Wanda Hamidah tampaknya juga akan menambah daftar selebriti yang ikut panggung politik. Mantan model ini kabarnya akan dijagokan sebagai calon wakil walikota Tanggerang dalam Pilkada mendatang. Agaknya kemenangan Si Doel dalam Pilkada sebelumnya mengilhami beberapa partai untuk mencari tokoh selebriti yang bisa bersaing dalam pemilihan kepala daerah.
Tak hanya di kursi eksekutif, di kursi legislative saat ini juga terdapat beberapa wajah artis yang mewarnai siding atau rapat di Senayang. Sebut saja Komar, Ajie Masaid dan Angelina sondakh.
Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada masa orde baru dulu, dimana popularitas artis seringkali di manfaatkan sebagai vote getter, pengumpul massa. “Raja dangdut” Rhoma Irama misalnya yang sempat mendulang banyak massa bagi PPP.
Di beberapa Negara, juga banyak pejabat pemerintahan yang berasal dari kalangan artis. Seperti Josefh Estrada yang pernah menjadi Presiden Filipina. Tentu tak ada yang salah dengan kondisi ini. Sepanjang sosok artis itu punya kapabilitas yang cukup, tentu ia bisa menjadi harapan. Namun harus di sadari pula, aspek kwalitas dalam sosok artis seringkali di abaikan oleh masyarakat. Masyarakat justru lebih terpesona dengan sosok keartisannya, karena kegantengannya, karena kecantikannya. Jadi bukan karena ia mampu dan diharapkan bisa membangun daerah, tapi justru karena masyarakat lebih senang dengan sosok idola.
Ibarat kontes menyanyi yang kini menjamur di TV, pilihan masyarakat melalui SMS umumnya hanya karena tampang atau tampilan luarnya saja. Soal kwalitas suara dalam bernyanyi, itu urusan nomor sekian…
Kita seringkali lupa bahwa urusan menyanyi, urusan main film, urusan ngelawak itu tentu perkara yang berbeda dengan mengurus pembangunan daerah, menghapus kemiskinan, menyediakan lapangan pekerjaan, memberantas korupsi dan lain sebagainya.
