Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

17 April 2008

Puisi Kpd Rumput Yg Bergoyang

Wahai rumput yang begoyang, kemana lagi aku harus bertanya dan bertemu jawab
Mengapa kakap-kakap penyelundup, manipulator bahkan si mega koruptor bisa bebas melenggang
Mengapa pula para perampok sekaligus pemerkosa fisik maupun HAM makin merajalela?Bahkan diantaranya justru mendapat tanda penghormatan!Apakah zaman edan seperti ini akan berakhir?

Lalu tak bolehkah orang menari dan bernyanyi riang tanpa harus takut ancaman vonish di tempat? Tak bolehkah orang saling berbelas kasih? Berbagi asa untuk sekedar beroleh kedamaian? Ikut bersama merajut keadilan yang terputus-putus!

Duhai rumput yang nan bijak bestari, pecahkanlah masalah ini secara bijak pula.
Berhentilah bergoyang barang sejenak, Sungguh goyangmu makin lama makin erosive, eh…erotis
Namun yang jelas teramat sexy! Yang tak mungkin ku saingi walau ketenggak berjuta pil ekstasi Dan ternyata mampu membuatku ereksi. Bahkan lupa diri

Koyak sudah telinga dan mata hatiku
Tak mampu lagi ku dengar dan kulihat indahnya simfoni pancasila dengan orchestra UUD 45 nya. Yang mengiringi para ballerina menarikan trisatya dan dasa darmanya..
Para siswa/I dengan tri dharmanya
Para pemuda/I dengan sumpahnya
Para karyawan/I denga ikrarnya
Para penjebak, eh…penegak hokum dengan KUHP-nya
Para pejabat dengan sumpah jabatannya
Bahkan para pejuang hokum dengan sapta marganya..

Yang kudengar hanyalah nyanyian si jangkrik dengan sisa suaranya “lirih namun parau”, berkidung“naik rakit ke kedung omboDulu sakit sekarang (makin) nelosoSemua itu memang salahku sendiriYang terbius oleh gemulai goyang tripping-mu!

(Annonim)