Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

18 April 2008

PILKADA SUMUT DAN MENGUATNYA POLITIK ALIRAN

Di sela-sela kampanye putaran terakhir, Habib Abdurrahman Assegaf, ulama yang selama ini di kenal sebagai Islam garis keras, terlibat pembicaraan dengan Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho. Obrolan ngalur ngidul itu berlangsung di hotel Tiara, tempat Habib menginap. Dengan spontan, Habib menarik tangan Syamsul dan menuliskan angka 30 persen pada telapak tangan Syamsul Arifin. “30 persen suara untuk mu Syul. Kau pasti menang”, ucap Habib. Kata-kata itulah yang terucap dari habib kepadaku, saat bertemu di salah satu Hotel di Senayan untuk wawancara tentang aliran. “Kalimat itu keluar saja dari hati. Dan InsyaAllah, sekarang jadi kenyataan”, begitu habib menambahkan.

Entah sebuah kebetulan, angka 30 persen itu tampaknya memang tak jauh dari hasil perhitungan cepat (Quick Qount) yang di lakukan LSI. Syamsul Arifin – Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) yang di usung PPP, PKS dan 9 partai lainnya berhasil mengalahkan ke-4 pasang calon lainnya untuk menduduki kursi nomor satu di pemerintahan Sumatera Utara. Jumlah suara Syampurno jauh meninggalkan calon-calon lainnya, termasuk dua calon yang di usung partai besar, yakni Ali Umri – Maratua Simanjuntak (Partai Golkar) dan Tri Tamtomo – Benny Pasaribu (PDI Perjuangan).

Fenomena ini mengingatkan kita terhadap Pilkada di Jawa Barat yang hanya berbeda beberapa hari dari Pilkada di Sumut. Di propinsi tetangga Jakarta itu, calon yang tak di unggulkan, Ahmad Heryawan – Dede Yusuf yang di dukung PKS dan PAN mengalahkan dua calon lain yang di dukung partai besar, yakni dari Golkar dan PDI Perjuangan Apakah fenomena di Jawa Barat ini sama dengan fenomena yang ada di Sumatera Utara? Gejala apa sebenarnya yang muncul, sehingga calon yang justru tidak di dukung partai besar bisa memenangkan pilkada, khususnya di Sumatera Utara?

POLITIK ALIRAN

Pilkada di sumatera Utara tak terlepas dari praktek politik aliran. Sebuah fenomena yang sulit di elakkan mengingat keragaman agama dan suku di propinsi ini. Wacana agama tampaknya sangat mempengaruhi prilaku politik pemilih. Partai pendukung tampaknya menyadari hal ini sehingga turut berpengaruh dalam penentuan calon. Namun uniknya, justru kesadaran hal ini pula yang menyebabkan perpecahan. Birahi kekuasaan tampaknya jauh lebih menonjol, sehingga mengorbankan semangat agama sentris itu.

Sumatera utara di huni oleh dua agama besar, yakni Islam dan Kristen. Islam yang merupakan mayoritas umumnya berada di pessisir timur sumatera utara, yakni dari Mulai Langkat, Deli Serdang, Medan, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Tanjung Balai, Tebing Tinggi dan sebagian Labuhan Batu. Di pantai Barat, Islam ada di kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan dan Mandailing Natal. Dari ummat muslim yang menguasai pantai timur ini, sebagian besar bersuku Melayu. Meski dari sisi wilayah, luasnya masih kalah dengan tanah batak dan pantai barat, namun jumlah penduduknya terbilang paling banyak dan menjadi mayoritas. Pendulang suara di pesisir timur ini tentu sangat berpotensi memenangkan pertarungan Pilkada.

Sementara di bagian tengah yang merupakan dataran tinggi, mayoritas adalah beragama Kristen dan bersuku Batak. Daerahnya meliputi Karo, Simalungun, Pematang Siantar, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Dairi Fak-fak Barat, Humbang Hasundutan sampai ke pulau Nias dan Nias Selatan. Sebagaimana dataran tinggi, penduduknya tidak sepadat di banding dengan penduduk di wilayah pesisir atau dataran rendah.

Dua agama di Sumatera Utara ini, suka atau tidak suka, meski secara latent, senantiasa bersaing menguasai kursi pemerintahan. Persaingan agama ini pula yang di duga kuat menjadi penghalang pembentukan propinsi Tapanuli. Di masa pemerintahan gubernur Almarhum Rizal Nurdin yang bersuku Melayu, propinsi Tapanuli sulit mendapat tempat untuk berkembang dan menjadi wacana. Saat gubernur di ambil alih Rudolph Pardede yang beragama Kristen, ternyata idem tito. Tarik menarik kepentingan politik di tingkat pusat ternyata sangat mempengaruhi.

Wacana ini masih mewarnai dalam Pilkada di Sumatera utara. Sentimen agama masih terus mewarnai, dan di sisi lain malah di manfaatkan untuk mengambil suara dari massa pemilih. Meski hal ini tidak sehat bagi iklim demokrasi, namun situasi ini terus berkembang. Dalam jangka panjang, selain tidak sehat bagi iklim demokrasi, situasi ini juga bisa menimbulkan dampak detruktif, munculnya konflik suku dan keagamaan.

Dari ketiga calon yang beragama Islam, yakni Syampurno, Ali Umri – Maratua (UMMA) dan Abdul Wahab – Raden Syafii (Waras) yang di dukung PAN, Demokrat dan PBR, Syampurno tampaknya sangat di untungkan karena di dukung oleh mayoritas partai Islam, termasuk PKS. PKS yang memiliki kader loyal dan militan menjadi mesin politik yang efektif untuk mengarahkan massa pemilih muslim. Dukungan PKS juga memberi citra positif kepada Syamsul Arifin untuk mendulang massa pemilih Islam non Melayu. Untuk di ketahui, Syamsul Arifin adalah juga ketua umum Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI). Dukungan Partai Islam ini juga menguntungkan di tengah kebingungan massa pemilih karena ada tiga calon yang beragama Islam.

Dari perhitungan LSI, Syampurno berhasil menguasai suara di sepanjang pantai Timur, kecuali dua kabupaten kota yang merupakan tanah kekuasaan dua calon lainnya yakni Umma dan Waras. Di Kabupaten Langkat di mana Syamsul Arifin masih menjabat sebagai Bupati, pasangan ini diperkirakan mendulang 60 persen suara lebih. Di Binjai, pasangan ini hanya kalah tipis dengan UMMA. Sementara di kabupaten Labuhan Batu, Syampurno kalah jauh dengan Waras. Selebihnya, semua kabupaten kota di sekitar pesisir timur sumatera utara itu nyaris di ungguli oleh Syampurno.

Sementara di tiga kabupaten/kota paling pojok sumatera utara, yakni Padang Sidempuan dan Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, perebutan suara terjadi antara UMMA dan Waras. UMMA menang di Mandailing Natal karena di untungkan factor Maratua Simanjuntak yang merupakan tanah kelahirannya. Sementara di Padang Sidempuan dan Tapanuli Selatan di menangi oleh Waras. Faktor Abdul Wahab menjadi penarik massa pemilih untuk mencoblos pasangan nomor urut empat ini. Dalam pemilih legislative yang lalu, PPP menguasai ketiga kabupaten ini. Namun pasangan Syampurno justru mendapat suara yang kalah jauh. Mesin politik PPP tampaknya tak banyak berkerja untuk mendulang suara buat Syampurno.

Di dataran tinggi Tapanuli, persaingan terjadi antara pasangan Tri Tamtomo – Beny Pasaribu (Triben) dan RE Siahaan – Suherdi (PASS). Pemilih Kristen di sini memilih kedua pasangan ini. Sama dengan massa pemilih Islam yang terpecah, begitu pula yang di alami oleh massa pemilih Kristen. Dua pasangan calon yang merepresentasikan ummat Kristen ini mengambil jatah di kue yang sama. Pengamat Politik USU, Ridwan Rangkuti, dalam kesempatan wawancara di Metro TV menganalisa, massa Kristen Konservatif yang di wakili gereja HKBP lebih condong ke pasangan PASS sedangkan Kristen Katolik berpihak kepada Triben.

Untungnya Triben di usung partai PDI Perjuangan, yang punya massa cukup fanatic. Karena itu, pasangan ini selain mendapat suara dari kalangan Kristen, juga mendapat suara dari muslim nasionalis yang banyak terdapat di pedesaan dan perkebunan.

MESIN PARTAI TIDAK BERJALAN

Tingginya factor sentimen agama dan suku dalam prilaku pemilih menyebabkan partai politik tak banyak membantu dalam mendulang suara. Lihat saja dari perhitungan cepat yang di lakukan LSI. Bila mengacu pada pemilihan legislative, harusnya calon yang di dukung partai Golkar dan PDIP lah yang menguasai suara. Namun ironisnya, pasangan UMMA yang di dukung partai Golkar justru terpuruk di peringkat ke-empat, sekitar 16 persen, jauh dari suara yang berhasil di kumpulkan Syampurno, yakni 29 persen. Begitupun dengan pasangan Triben yang hanya memperoleh suara sekitar 22 persen.

Rendahnya suara bagi pasangan UMMA di mungkinkan karena terpecahnya suara massa partai Golkar. Ini karena dua calon lainnya, yakni Syamsul Arifin dan juga Abdul Wahab merupakan pengurus Golkar. Keduanya di pecat dari keanggotaan partai Golkar karena di anggap membelot, karena mencalonkan dari partai lain dan tidak mendukung UMMA sebagai calon partai Golkar. Tidak solidnya partai Golkar ini menjadi penyebab terbesar minimnya suara yang di peroleh pasangan UMMA. Bagaimanapun, Syamsul Arifin masih memiliki pendukung loyal dari Golkar, khususnya yang berasal dari Kosgoro.

Sementara Abdul Wahab yang lebih senior dari Ali Umri, punya pengaruh cukup besar, khususnya untuk daerah sekitar kelahirannya, yakni Labuhan Batu. Dalam kampanyenya, Abdul Wahab juga di dukung oleh mantan ketua umum Partai Golkar, Akbar Tanjung. Bagaimanapun, Akbar Tanjung masih di anggap sebagai sesepuh partai dan juga orang Sumatera utara yang paling sukses di Golkar.

Kantong PDI P yang mayoritas menguasai dataran tinggi Tapanuli, meski sebagian besar masuk ke pasangan Triben, namun sebagian lagi masuk ke pasangan PASS. Tidak separah dengan Golkar, mesin politik PDIP masih cukup punya pengaruh untuk mengumpulkan suara. Di pesisir timur, Triben umumnya berada di peringkat ketiga. Padahal pasangan ini terbilang saat instant karena mendaftar di saat-saat terakhir menjelang masa penutupan pendaftaran calon gubernur. Sebenarnya, Pasangan Triben masih punya peluang mendapatkan massa lebih besar kalau saja Gubernur Rudolph Pardede mendukung sepenuh hati. Namun Rudloph tidak berjuang all out mensukseskan Triben akibat kekecewaan karena DPP PDIP tidak merekomendasikan namanya menjadi calon gubernur. Padahal, sebelumnya nama Rudolph sudah di dukung penuh pengurus di Sumatera Utara. Lagi-lagi, perpecahan menjadi biang tidak maksimalnya partai bekerja.

Kondisi ini menguntungkan Syampurno. Lebih untungnya lagi, mayoritas partai Islam berada di belakang Syampurno dan ditambah kesolidan PKS. PKS, seperti di daerah lainnya, menjadi satu-satunya partai yang bisa bekerja efektif menggerakkan massa danmencari simpati. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat pemilih di Sumatera Utara tidak lagi melihat kapasitas dan kapabilitas calon gubernur. Masyarakat lebih mengambil jalan aman, berharap pada figure yang dianggap punya kesamaan emosional. Masyarakat tidak peduli lagi pada janji-janji kampanye, tak peduli apakah figure itu bisa membawa perubahan dan pembangunan Sumatera Utara.

Wallahualam…

0 komentar: