Nama Agum Gumelar, siapa yang tak kenal. Namanya bahkan sudah menasional. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku bagi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Jawa Barat. Dalam penghitungan sementara, namanya berada di belakang Ahmad Heryawan yang unggul dalam penghitungan cepat (Quick Qount) beberapa lembaga. Begitu pula dengan Danny setyawan. Warga jawa barat tentu sudah kenal dengan calon Incumbent ini. Ia adalah gubernur Jawa Barat yang baru saja mengakhiri masa jabatannya. Tapi tetap saja warga tak menghendaki dirinya memimpin kembali jawa barat untuk periode 2008 – 2013.
Kedua figur tersebut juga di dukung oleh partai-partai besar, yang tentu punya massa besar. Agum di dukung oleh PDI Perjuangan, penguasa nomor 2 setelah Golkar. Selain PDI Perjuangan, Agum yang berpasangan dengan Nu’man Abdul Hakim di dukung pula oleh PPP dan delapan partai lainnya. Berkaca dari pemilihan sebelumnya, diatas kertas, tentu figure ini punya peluang paling besar untuk menang. Namun kenyataan berkata lain.
Dany setyawan yang berpasangan dengan Iwan Sulandjana di dukung oleh Partai Golkar dan Demokrat. Di atas kertas pula, harusnya pasangan ini bersaing ketat dengan Agum untuk menjadi orang nomor satu di Jawa Barat. Tapi hasil penghitungan sementara, mementahkannya.
Lantas, ada apa dengan Ahmad Heryawan? Berpasangan dengan Dede Yusuf, dua orang yang tidak punya KTP Jawa Barat ini di dukung oleh PKS dan PAN. Citra pasangan ini terbantu dengan nama Dede Yusuf yang selama ini di kenal sebagai artis. Namun itu agaknya tidak cukup. Ia bukanlah termasuk artis papan atas yang membuat banyak orang tergila-gila. Namanya juga nyaris tenggelam dengan artis-artis terkini. Jadi itu bukanlah factor penentu.
Hade, sebutan pasangan ini, sebelumnya disebut sebagai under dog. Tapi justru karena ini, pasangan ini punya lebih banyak ruang untuk mencari simpati massa. Strategi kampanyenya pun, mungkin tidak di lirik oleh dua pasangan lainnya karena tidak di anggap sebagai competitor sesungguhnya. Kondisi ini membuat tim sukses hade serius dan konsentrasi untuk merancang strategi yang tidak di antisipasi calon lainnya. Di saat kedua calon lain sibuk merebut “pasar” yang sama, Hade justru merebut hati massa yang selama ini kerap terlupakan, yakni rakyat kecil yang butuh perubahan. Rakyat kecil yang butuh figure baru dan berani berjanji membawa perubahan revolusioner bagi nasib bumi jawa barat.
Dari hasil survey beberapa lembaga sebelum pencoblosan, ada banyak warga jawa barat yang belum menentukan pilihannya. Jumlahnya sekitar 10 persen lebih. Bila berkaca dari hasil penghitungan sementara, agaknya mereka yang termasuk floating mass, massa mengambang, ini memilih Hade. Semua ini bisa terjadi juga karena mesin politik PKS dan PAN yang berjalan. PKS, harus di akui, satu-satunya partai di Indonesia saat ini yang punya basis massa yang jelas, loyal dan bahkan militan. Partai ini punya system kerja yang sistemik, kaderisasi yang jelas sehingga sangat mudah untuk di arahkan sesuai dengan kebijakan partai. Konsep partai seperti ini, dalam konteks Pilkada Jawa Barat, agaknya menular ke PAN. Tokoh-tokoh muda dan terpelajar rela mendekati rakyat, door to door, masuk ke gang-gang, masuk ke rumah untuk memperkenalkan sosok Hade dan mencuri hati rakyat agar mau mencoblos pasangan nomor urut 3 ini.
DARAH MUDA DAN PERUBAHAN
Hade, dalam bahasa sundanya Bagus. Ini menjadi semacam trade mark yang di jual massa pendukungnya. Hal itu seia sekata dengan slogan yang di tunjolkan, “Harapan Baru Jabar”. Slogan ini diterjemahkan dengan sosok pasangan Hade yang masih muda, keduanya berusia 41 tahun, yang membawa semangat perubahan bagi warga Jawa Barat. Konsepsi ini tampaknya berhasil menghipnotis warga Jawa Barat untuk memilih Hade.
Di banding dua calon lainnya, Hade terbilang pasangan paling muda. Sosok muda dengan tampilan gagah dan berwibawa pada foto di atribut kampanye memang memberi warna yang berbeda dengan pasangan lainnya. “Lebih segar dan menjanjikan”, mungkin kesan itulah yang ingin di tampilkan saat warga melihat kedua pasangan ini di foto pada atribut kampannyenya, baik spanduk, baliho maupun di kertas suara.
Pencitraan itu tampaknya berhasil. Di kemas dengan system kampanye yang langsung turun ke bawah, mendekat ke massa pemilih. Mereka sadar tak bisa hanya mengandalkan janji kampanye. Bagaimanapun, semua calon dalam Pilkada, tak hanya di jawa barat, tak ada yang berbeda dalam janji kampanye. Semuanya normative. Dari mulai pengentasan kemiskinan, pemberian lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan gratis dan sebagainya. Nyaris sama.
Satu lagi. Pasangan ini menggarap massa pemilih Islam sebagai sasaran utama. Ini keunggulan tersendiri di banding dengan dua pasangan lainnya. Ahmad Heryawan adalah ketua umum Persatuan Umma Islam (PUI) dan di dukung oleh partai Islam pula. Sementara kedua pasangan lainnya, nyaris tidak memiliki ikatan emosional untuk mengikat pemilih Islam. Agum dan Nu’man. Meski di dukung oleh PPP yang notabene partai Islam, namun citra itu agaknya kurang melekat pada Nu’man. Begitu pula pada pasangan Danny – Iwan.
Tampaknya ini menjadi keunggulan tersendiri. Pemilih tradisional yang menjadi pemilih mayoritas di jawa barat, harus diakui, masih memandang sisi ideologi Islam, dalam memilih figure. Faktor ini, sedikit banyak, turut membantu bagi Hade untuk mendulang pemilih lebih banyak. Dan massa tradisional ini lebih banyak berada di pedesaan yang selama ini luput dari survey beberapa lembaga.
15 April 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar