Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

09 April 2008

"Penyakit Berjamaah" Orang Jakarta

Emosiku memuncak, sekitar pukul 7 malam sampai 9 malam. jam-jam ini adalah neraka di jalanan jakarta. kemacetan yang menggila, deru mesin yang memekakkan telinga, asap polusi yang mengepul tak terkira bercampur dengan prilaku manusia yang seolah tak punya norma. inilah yang kualami hampir setiap harinya. jam pulang kerja, dengan sepeda motor, aku harus berusaha sabar meski seringkali sulit tuk mengatasinya.

soal kemacetan memang bukan barang baru. kota ini hampir tak punya solusi utk mengatasi antrian kendaraan di jalanan. jalan seluas lapangan sepak bolapun, tampaknya tak cukup untuk menampung volume kendaraan bermotor yang terus melimpah ruah setiap waktunya. data di Gaikindo, angka penjualan kendaraan mobil di jakarta sampai Maret 2008 ini mengalami peningkatan berarti di banding periode yang sama tahun lalu.

Tanpa penambahan kendaraan saja, jalanan telah penuh sesak. di perparah lagi oleh jalanan rusak yang nyaris melanda seluruh jalanan utama. di tambah lagi dengan di buatnya jalur bus way yang tentu saja mengambil jatah jalanan buat kendaraan biasa. benar-benar aneh. Kalau mau menikmati jalanan yang normal, tanpa kemacetan, kita harus membawa kendaraan di tengah malam. saat itu, kita baru menyadari bahwa jakarta benar-benar kecil. Bayangan kota ini luas sesungguhnya hanyalah kamuflase, karena sesungguhnya yang ada adalah kemacetan.

Deru suara mesin sama saja. Akhir-akhir ini aku juga tak habis pikir semakin banyak saja pemilik kendaraan sepeda motor yang memotong knalpotnya, lantas mengeluarkan suara yang keras dan memekakkan telinga. Aku menganggapnya sebagai prilaku tak normal karena tak ada manfaat yang bisa di peroleh dengan memperlakukan kendaraan seperti itu. Yang ada malah mengganggu orang karena membuat suasan tak nyaman dan menyakitkan telinga. Belum lagi suara yang ditimbulkan dari knalpot bajaj.

Kendaraan khas jakarta ini sama saja, menimbulkan kebisingan dan asap polusi yang tak terkira. Kalau aku punya kuasa, akan ku hapuskan kendaraan itu dan kuganti dengan kendaraan serupa yang berbahan bakar gas, karena lebih ramah lingkungan daan tidak menimbulkan kebisingan. Sebenarnya bajaj seperti ini sudah ada, tapi jumlahnya masih kalah banyak.

Penyumbang asap polusi tak hanya dari bajaj, tapi lebih parah lagi di keluarkan dari asap kendaraan umum, baik itu mikrolet, kopaja atau apa aja. Asap hitam mengepul yang keluar dari knalpot kendaraan umum ini tak ubahnya monster di malam hari yang membuat semua orang berdiri bulu-bulu halusnya.

Apalagi kalau kita bicara prilaku para supirnya. Mereka layaknya raja jalanan yang bisa semaunya menguasai jalanan tanpa peduli pada kendaraan lain. Yang tahu mau kemana mereka berjalan hanya supirnya dan Tuhan. Aku seringkali bingung melihat pola menyetir mereka yang zig zag, tak tentu arah dan semaunya. Berhenti di tengah jalan, memotong sesukanya. Benar-benar menambah sakit kepala.

Lampu merah seolah tak ada. Semuanya berubah menjadi lampu hijau. Kadang-kadang, harus ku akui, aku juga melanggar. Tapi tetap harus lihat situasi sekitar apakah memungkinkan. Kadang-kadang lagi, kita juga bisa jadi korban. Saat patuh. tapi yang dibelakang kita memaksa harus menerobos lampu merah. Maka jadilah pelanggaran lalu lintas jamaah yang polisipun tak akan mungkin puasa kuasa tuk mencegahnya.

Inilah yang kuhadapi dan benar-benar menguji sifat sabarku. Tapi harus diakui rasa sabar menjadi kalah dan sering berganti dan rasa amarah yang berakhir dengan stress. Dan tampaknya, inilah penyakit jamaah ummat Jakarta setia harinya. Entah kapan akan berakhir...

0 komentar: