Kami mengajak anda agar pasrah pada realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang. Kalau terjadi sesuatu yang sempat membangkitkan emosi anda atau sempat membuat diri anda merasa jengkel, kami berharap agar anda menerima hal ini sebagai satu realitas kehidupan yang mesti diterima dengan lapang dada. Kepasrahan pada realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang sama sekali tidaklah berarti bahwa anda harus bersikap pasif dan menyerah begitu saja pada realitas kehidupan ini. Kami sama sekali tidak bermaksud demikian. Tepatnya, kami menginginkan agar anda menyadari realitas kehidupan yang ada, baik sisi-sisi negatifnya maupun sisi positifnya.
Kami hanya berharap agar anda sudi menerima realitas kehidupan ini dengan jiwa yang tegar. Seandainya ada peluang untuk melakukan perubahan, maka alangkah baiknya kalau hal ini anda lakukan dengan jiwa yang tenang dan bukan dengan prinsip “menabur benih menuai badai”.Saudaraku, percayalah bahwa menerima realitas kehidupan dengan jiwa yang tenang yang kami anjurkan ini tidaklah berarti bahwa kami menganjurkan anda agar bersikap masa bodoh, malas-malasan atau tak peduli pada kasus-kasus yang terjadi di sekitar anda. Namun tepatnya, kami menganjurkan anda mau menerima realitas kehidupan secara proporsional.
Di samping itu, kami menganjurkan agar anda tidak selalu ngotot punya sikap tertentu dalam segala permasalahan baik dalam masalah-masalah yang sifatnya sepele maupun masalah yang besar. Perlu anda garis bawahi bahwa kami hanya mengajakanda agar menerima dengan lapang dada masala-masalah yang sifatnya sepele. Janganlah anda bersikap kaku pada hal-hal yang sepele. Strategi untuk mengubah karakter diri anda agar bisa lebih baik ini mesti dimulai dari masalah-masalah yang sifatnya sepele.
Kasus pecahnya piring atau gelas tidak patut menyulut kemarahan anda sekaligus jadi masalah yang yang begitu serius. Karena tidak ada seorangpun yang berjiwa normal yang sengaja memecahkan gelas dan piring. Bisa jadi factor pecahnya piring karena orang yang memecahkannya kurang hati-hati ketika memegang piring dan gelas itu. Kami kira anda cukup memberinya peringatan agar lain kali supaya hati-hati.
(Yusuf Al – Uqshari dalam buku “Percaya Diri Pasti!”)
