Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

23 April 2008

Sekolah, Lain Jakarta Lain Daerah

Membandingkan kondisi sekolah di Jakarta dengan daerah lainnya sungguhlah membuat iri hati. Dari sisi fisik, kondisi sekolah di Jakarta jauh lebih layak bila di bandingkan dengan sekolah SMU ku dulu misalnya. Ini yang ku lihat saat melihat SMU 26 Jakarta, yang berada di Tebet. Hari itu, aku liputan suasana hari pertama Ujian Akhir Nasional (UAN). Sekolah itu di ambil karena kebetulan dekat dengan kantor.

Memasuki sekolah itu, tak ubahnya memasuki sebuah kampus swasta bergengsi untuk ukuran Medan. Di areal sekolah, jangan harap bisa melihat tanah, karena semuanya telah tertutup ubin. Meski tidaklah luas, tidak sampai setengah lapangan sepak bola ukuran normal, namun kebersihan memang terjaga. Aku gak tahu apakah memang kebersihan itu hanya terjadi saat kebetulan aku lagi liputan di situ. Tapi yang pasti, sekolah yang mempunyai murid sekitar 700 orang dan berlantai tiga itu memiliki delapan petugas kebersihan. Mereka berstatus PNS yang kesejahteraannya di atas diriku. Gaji pokok sebagai PNS golongan bawah memang tak lah besar, sekitar 1,3 juta. Itu pengakuan Pak Jono, salah seorang petugas yang aku ajak ngobrol. Tapi di tambah dengan dana lain yang merupakan subsidi dari Pemprop DKI, bapak ini bisa membawa pulang ke rumah setiap awal bulan sekitar 4 juta rupiah. Alamak.. ini gaji seorang petugas kebersihan sekolah SMU.

Pemprop Jakarta memang di kenal sangat concern terhadap kesejahteraan pegawai di lingkungannya. Gaji yang diperoleh pak Jono tadi adalah gabungan dari gaji pokok, tunjangan kesejahteraan, tunjangan makan, tunjangan transportasi dan tunjangan lain yang aku lupa namanya. Maka berbanggalah bila menjadi PNS yang ditanggung pemprop DKI. Tentu berbeda dengan guru. Bisa jadi akan lebih besar lagi.

Tidak seperti kondisi sekolah seperti yang kualami dulu, dinding di sekolah ini sangat jarang, untuk mengatakan tidak ada, di temui telapak sepatu para siswa. Nyaris bersih dengan warna cat yang terlihat baru. Masih dari pengakuan pak Jono, dinding di sekolah ini di cat setiap 3 bulan sekali. Di sekolahku dulu, cap telapak kaki/sepatu seperti menjadi pemandangan wajib di setiap dinding. Apa karena siswa di Sekolah kami dulu sangat hiperaktif ya, sehingga kakinya tidak bisa diam dan tidak puas jika kaki hanya berada di bawah dan Cuma berfungsi sebagai penyangga saat berjalan. Atau karena dulu lagi booming film jet lee yang dengan jurus tendangan kaki seribu mampu menghipnotis orang-orang kampung seperti kami. Entahlah..

Aku pun takjub dengan kondisi kamar mandi di sekolah ini. Kamar mandi di pisah untuk laki-laki dan perempuan dan para guru. Kondisinya bersih, berlantai keramik dan air melimpah dari keran yang tinggal di putar saja. Aku tidak mencium bau pesing, tapi malah mencium aroma pewangi ruangan yang biasa di gunakan untuk kamar mandi di hotel atau di mall. Jangan Tanya kamar mandi sekolahku dulu. Pintunya masih bisa di buka saja udah syukur. Baunya mencemari hidung manusia sampai radius 50 meter. Bila lebih dekat, mau muntah rasanya. Bila memaksakan diri masuk ke dalamnya, anda akan bisa rasakan akibatnya. Saat pintu terbuka, mata akan tertuju pada… ah otakku tak mampu lagi untuk menuliskan kata-kata….

Setiap ruangan kelas di sekolah ini menggunakan AC (bukan "Angin Cendela"). Kursi dan mejanya masih bagus. Begitu pula ruangan buat para guru, perpustakaan dan Laboratoriumnya. Sarananya cukup menunjang. Di ruangan guru, terdapat beberapa computer untuk para guru. Guru punya meja dan locker sendiri. Di ruangan guru pula, terdapat TV yang lengkap dengan siaran TV asing. Terdapat pula computer yang bisa di gunakan untuk internet. Lagi-lagi ini jauh dari sekolahku dulu. Jangankan AC, kursi dan meja yang masih ‘sehat’ saja bisa dihitung dengan jari.

Saat aku kelas 2, kondisi ruang kelasku jauh lebih memprihatinkan. Ruang kelas tak ubahnya rumah panggung, di buat di atas rawa-rawa, dengan lantai dan dinding kelas yang terbuat dari papan. Di sana-sini, banyak yang bolong. Kondisi ini yang membuat kami dulu tak mampu menahan energy negative di otak untuk mengintip siswi tionghoa yang kebetulan duduk di bangku depan. Benar-benar jahat..LIhatlah keluar dari jendela. Pemandangan yang kami lihat adalah semak belukar rawa-rawa yang tingginya hampir sama dengan tinggi loteng sekolah kami. Tapi yang kudengar kini, 4 ruangan kelas terapung itu telah di renovasi. Semoga aja bukan isapan jempol. Ingin sekali aku melihatnya dan merasakan romantika saat sekolah di kelas terapung itu.

SMU Negeri 55 Jakarta yang berada di kawasan Kalibata juga tak jauh berbeda. Meski bangunan sekolah ini tidaklah semegah SMU 26, namun fasilitas dan perawatannya ternyata nyaris sama. Saat aku memasuki perpustakaan sekolah ini, cukup banyak juga menyimpan koleksi buku. Buku-buku, diantaranya bahkan buku umum keluaran terbaru tesusun di rak-rak, dan tersusun rapi. Di salah satu rak, tersedia pula Koran-koran harian ternama dan majalah mingguan. Sangat lengkap sehingga bisa jadi bacaan bermutu para siswa. Nggak terbayang bagaimana dulu kondisi perpustakaan sekolahku. Perpustakaan itu sepertinya lebih pas dikatakan sebagai gudang buku. Buku-buku yang tersedia umumnya hanyalah buku-buku pelajaran yang kondisinya sudah lusuh dan berdebu. Mungkin karena memang jarang di sentuh atau justru karena saking seringnya di baca . Entahlah.. tapi jangan harap bisa mendapat buku-buku umum apalagi media cetak harian dan mingguan.. jauh dari harapan.

Memang, tidaklah bijak membandingkan kondisi sekolah dulu dengan kini. Apalagi membandingkan sekolah di daerah dengan di Jakarta, pusat kekuasaan Negara. Sekolahku dulu hanya terletak di sebuah kota kecil di kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tanjung Pura nama kotanya. Meski menjadi satu-satunya sekolah negeri di kota itu dan termasuk sekolah negeri tertua di kabupaten, namun perawatannya tidaklah seperti yang aku lihat di banyak sekolah di Jakarta ini.

Di Jakarta, pemerintahnya memang menerapkan standart yang baik untui setiap sekolah negeri, dari mulai SD sampai SMU. Gedungnya di buat permanen. Beberapa sekolah yang gedungnya masih bangunan lama, segera di renovasi untuk menyesuaikan dengan standar yang sudah di tetapkan. SMU 55 itu misalnya, tahun 2009 gedungnya akan di renovasi, dari dua lantai menjadi 3 lantai. Standar fasilitas penunjang pendidikan juga di buat sama untuk semua sekolah. Apalagi dengan kesejahteraan gurunya. Ini memang tidak terlepas dari anggaran yang cukup melimpah di provinsi ini. APBDnya saja termasuk tertinggi di Indonesia, namun hanya mengelola wilayah yang relative sempit seperti di Jakarta. Tentu beda dengan daerah lain yang dengan anggaran terbatas namun berwilayah luas.

Di propinsi yang juga menjadi pusat kekuasaan negara ini, pemerintah propinsinya mengalokasikan 5,25 triliun dalam APBD 2008. Jumlah tersebut setara dengan 26,37 persen dari total belanja Rp 19,91 triliun. Program pendidikan yang memakan biaya paling besar adalah Biaya Operasional Pendidikan (BOP) untuk SD, SMP, SMA dan SMK. Pemerintah mematok anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk BOP. bandingkan dengan anggaran pendidikan di sumatera utara. Untuk proyeksi tahun 2009 saja, propinsi yang luas satu kabupatennya sama dengan luas propinsi jakarta cuma punya Rp. 682 miliar. Benar-benar timpang.

Namun persoalannya, apakah kondisi dan fasilitas yang cukup menunjang itu sudah berbanding lurus dengan kwalitas siswa yang di hasilkan. Di satu sisi, harus di akui, banyak jebolan tersebut yang di terima di perguruan tinggi negeri. Tapi di sisi lain, harus di akui pula, banyak sekali orang-orang sukses, petinggi negeri dan orang-orang berpengaruh yang justru lahir dari sekolah-sekolah di daerah, yang tersuruk di pinggiran kota, jauh dari fasilias dan guru yang mumpuni, yang kondisinya sangat memprihatinkan. Jangan-jangan, kalau di survey, orang-orang yang merusak negeri ini, penguasa koruptor, manipulator dan provokator justru lahir dari sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar, seperti Jakarta ini??? Entahlah???