Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

07 April 2008

Hidup Salah Ala Orang Kota

satu pagi yang cerah. aktivitas yang rutin aku lakukan adalah memanasi mesin motor. persiapan sebelum mengantar istri ke kantor. ketika tiba-tiba seseorang berjalan di gang depan rumah. ia ragu. tapi akhirnya memberanikan diri bertanya pada diriku.

"pak, numpang nanya ya. rumah pak Nyoman di mana ya?"
tanpa berpikir panjang, tegas ku jawab "wah, gak tau pak". jawaban yang singkat dan terkesan kurang ramah memang. entah angin apa yang menyebabkan aku bersikap kurang baik seperti itu.

di rumah kontrakan itu, bersama istri, aku sudah delapan bulan tinggal. waktu yang sudah cukup untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar. tapi, mungkin ini namanya penyakit orang kota, baru pak herman dan istrinya, dan juga mas anto dan mas siman yang baru aku kenal. itupun karena mereka tinggal bersebelahan dengan rumah petak kontrakan ku.

dulu, saat kuliah, saat menyenangi teori-teori sosial, aku tahu bahwa sikap hidup individualistis merupakan "prestasi" dari kehidupan modern di kota metropolis. ia menjelma menjadi penyakit yang menyebabkan masyarakat hidup apatis, egois dan sebagainya. Kini, fenomena itu tampaknya telah ku hadapi.

Mendapat jawaban yang singkat itu, orang asing yang bertanya itu langsung balik badan meninggalkan diriku. tak lama berselang, dengan tergesa-gesa, seorang laki-laki keluar dari pintu rumah yang berada tepat di depan rumahku. orang berkulit hitam, khas orang flores memanggil orang asing yang tadi bertanya padaku. mereka bertemu bersalaman, layaknya orang yang lama sudah tak bertemu. semuanya berlangsung masih di depan mataku.

Psk nyomsn tersenyum padaku. Sebelum ini, kami memang sempat beberapa kali bertatap muka dan saling menyapa seperlunya. Dan akupun hanya bisa membalasnya dengan senyum tak sempurna, menahan rasa malu..

0 komentar: