Berani beda. Sebuah sikap yang jarang dimiliki. Termasuk diriku. Tapi aku salut dengan orang yang punya sikap seperti itu. Berani beda dengan pendapat mayoritas. Teguh pada sikap dan pendiriannya.
Dradjad Wibowo adalah salah satu. Anggota Fraksi PAN DPR RI ini adalah satu-satunya anggota dewan yang menyatakan menolak Menko Ekuin, Budiono untuk menjadi gubernur BI. Padahal, 45 suara lainnya mendukung ekonom ini. Sosoknya di anggap sempurna oleh mayoritas anggota dewan untuk menggantikan Burhanuddin Abdullah.
Bagi Dradjad Wibowo, Budiono masih belum menjelaskan secara jelas tentang keterlibatannya dalam kasus BLBI. Selain itu, Dradjad berbeda pendapat dengan Budiono dalam hal pendekatan policy (kebijakan) moneter. Dari pada harus mengorbankan keyakinannya yang dianggap benar, politikus ini teguh untuk menolak sosok Budiono. Ia tidak larut dengan suara mayoritas yang telah mendukung sepenuhnya Budiono.
Ahmadinejad, Presiden Iran adalah satu sosok lainnya yang juga berani beda. Ia berani menentang sang adikuasa Amerika demi martabat bangsanya. program nuklir yang digagasnya, dianggap sebagai kebenaran. Ia tak peduli dengan pendapat dunia, termasuk negara-negara muslim, yang menganggapnya sebagai kebijakan anti perdamaian. Sosok Ahmadinejad mampu berdiri dengan kokoh demi mempertahankan apa yang dianggapnya benar. Tidak perlu takut dan menjadi bangsa bebek yang hanya mengikuti arus besar, demi nafsu bejat sang imperialis barat.
Saat aku kuliah dulu, aku teringat sosok teman dari universitas Tanjung Pura Pontianak. Dalam pertemuan mahasiswa Fisip se Indonesia di Universitas Lampung waktu itu, ia terkenal sangat susah di atur sehingga menjadi penghambat dalam rapat pleno, pengambil keputusan. Orang ini, aku lupa namanya, dikenal suka interupsi demi menyatakan ketidaksetujuannya, sehingga rapat harus molor berjam-jam hanya karena ia belum setuju. Saat semua peserta pertemuan sudah menyatakan kesetujuan dan pimpinan sidang siap mengetuk palu, ia selalu saja berbeda pendapat dan tetap teguh meski dirinya di hujani hujatan.
Dalam satu kesempatan, orang ini di bawa keluar dari forum sidang dengan alasan ada seseorang yang ingin bertemu. Panitia sidang sudah berkomplot dengan peserta lainnya untuk mengajaknya mengobrol, demi mengulur waktu. Sementara di forum sidang, keputusan langsung dapat di ambil tanpa kehadiran dirinya. Berbagai trik di lakukan demi "menjinakkan" orang ini.
Masih banyak sosok-sosok yang tampil seperti ini. Berani beda, teguh pada sikap dan keyakinannya, mempertahankan apa yang dianggapnya benar dengan segala cara. Aku salut dan menghargai orang-orang seperti ini. Mungkin karena diriku tak mampu seperti mereka. Aku, mungkin kebanyakan kita, cendrung bersikap mengalah dan kompromistis dengan realitas meski sebenarnya hal itu bertentangan dengan sikap kita. Entahlah...
08 April 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar