Nama perempuan itu Haula’. Di suatu waktu dari hari-hari hidupnya, ia melakukan ibadah dengan sangat-sangat. Sampai –sampai ia tidak tidur semalaman. Tak lama Rasulullah lewat. Asiyah menceritakan kisah Haula’. Maka Rasulullahpun menasehati, “Lakukan amam sesuai kemampuan kalian.
Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian yang bosan. Haula’ adalah kisah tentang semangat. Tapi nasehat Rasulullah adalah kisah tentang kesinambungan. Seperti itulah hidup. Kita harus menjalaninya dengan semangat. Tapi lebih penting dari itu, kita harus menjalaninya dengan kesinambungan. Sebab kesinambungan menjamin adanya proses yang tidak berhenti, menjamin bahwa kita tetap berjalan, menjamin bahwa kita terus menuju. Sedang semangat memberi tenaga pendorongnya, motivasi penguatnya.
Kesinambungan bisa berjalan, meski dengan semangat pas-pasan. Tetapi semangat tidak ada gunanya tanpa kesinambungan yang berjalan. Maka, bila harus memilih salah satu, antara kesinambungan dan semangat, hidup akan lebih memerlukan kesinambungan. Tentu idealnya adalah memilih keduanya. Itu sebabnya dalam hadist lain Rasulullah menjelaskan bahwa sebaik-baik amal adalah yang awet berkelanjutan, meski amal itu hanya sedikit.
Tapi Haula adalah adalah juga kisah tentang persepsi yang harus di luruskan bahwa mengejar pahala sekalipun, melalui ibadah-ibadah, tidak perlu dengan persepsi yang keliru tentang sifat Allah. Memaksakan diri, menyakiti diri dengan anggapan Allah nanti akan bosan memberi balasan, akan lelah menjawab doa-doa panjang, itu adalah pemahaman yang tidak benar. Maka kisah Haula’ lebih pada soal pentingnya meluruskan persepsi tentang Allah SWT, dan bukan untuk mengajarkan kepada kita bagaimana beribadah secara pelit dan pas-pasan.
Mendekatlah kita kepada Allah Dengan segala ibadah formal. Dalam sholat-sholat panjang. Atau sedikit tetapi terus-menerus. Atau dalam bacaan Al-Qur’an, hari demi hari. Sebab secepat-cepat orang mengkhatamkan Al Qur’an, tidak boleh lebih dari tiga hari. Mendekatlah kita kepada Allah. Dalam segala ibadah non formal. Dalam kerja-kerja letih kita mencari nafkah. Dalam waktu-waktu kita membaca pengetahuan. Dalam hari-hari kita mengabdi untuk orang banyak.
Tapi untuk semua itu, jangan sekalipun keliru dalam persepsi tentang kekuasaan Allah. Memburu dalam waktu, memaksa dalam harap, seakan Allah hanya punya balasan terbatas, atau kesempatan terbatas. Tidak. Allah tidak akan bosan.
(Ahmad Zairofi AM, dalam “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda”)
