Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari anda dan siangnya menyapa anda. Inilah hari anda.
Umur anda, mungkin tinggal hari ini. Maka anggaplah masa hidup anda hanya hari ini, atau seakan-akan anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup anda tidak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, anda harus bertekad mempersempahkan kualitas shalat yang paling khusuk, bacaan Al-qur’an yang sarat tadabbur, zikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga serta perbuatan baik pada sesame.
Pada hari dimana anda hidup saat inilah sebaiknya anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan persembahkanlah sessuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepadaNya, bersiap-siap untuk perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu dan jabatan anda dengan penuh keridhoan.
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
“Inti ajaran Marx adalah konsep “Dialektika Materialisme” yang substansinya bahwa kelahiran dan eksistensi manusia berorientasi –seluruhnya – pada materi. Kehendak manusia untuk memenuhi materinya itu seringkali “membabi buta” dan dalam pelaksanaannya menafikan nilai-nilai moral, konon lagi agama. Mereka menganggap bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya – sebagaimana halnya Islam. Esensi manusia – menurut Marxisme – adalah mencapai materi yang mutlak.
Sesungguhnya – dua ideology besar – kapitalisme/borjuisme dan Marxisme – adalah sebuah filsafat yang nilai-nilai substantifnya sama – yakni sama-sama berorientasi pada “produksi”. Perbedaan keduanya hanyalah pada system. Sedangkan Islam adalah filsafat “petunjuk”.
Marxisme adalah ideology filsafat yang juga universal, meliputi manusia, masyarakat, ekonomi, politik dan sebagainya, sehingga membuatnya mudah menyebar ke seluruh dunia.
“Akhirnya Islam adalah garis “tengah” kebenaran, sedangkan konsep filsafat lain – kapitalisme dan marxisme adalah garis samping yang menyimpang dari garis lurus, tak masalah kiri atau kanan.
Ali Syariati (buku Humanisme : Antara Islam dan Mazhab Barat)
19 Februari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar