Salam

Dengan Bismillah pembuka kata
Merangkai syair di malam buta
Membiarkan hati berkata-kata
Melepaskan perasaan mana terasa

16 Maret 2012

Samad Oh Samad

Pemberitaan tentang “perpecahan” di internal KPK kembali menyeruak dua hari belakangan. Terakhir adalah protes dari sejumlah penyidik kepada pimpinan KPK. Di beberapa situs berita di katakan, para penyidik yang berasal dari kejaksaan dan Polri mendatangi ruang kerja pimpinan untuk menyampaikan protesnya. Para penyidik menganggap pimpinan KPK di bawah kendali Abraham Samad sewenang-wenang karena melakukan rotasi tanpa prosedur. Kita memang tidak tahu persis apa yang terjadi pada saat itu. Yang pasti, “demo” para penyidik itu sendiri telah dibenarkan oleh wakil ketua KPK, Busyro Muqoddas.





Bibit perpecahan di tubuh KPK memang bukan kali ini saja. Sebelumnya juga sempat beberapa kali muncul isu adanya perbedaan pendapat di antara para pimpinan. Saat mengumumkan Wakil Sekjen partai Demokrat, Angelina Sondakh sebagai tersangka, Abraham Samad hanya menyampaikan ke media seorang diri, tanpa didampingi pimpinan lainnya. Padahal, dengan system kerja kolegial diantara pimpinan, sepatutnya harus ada yang mendampingi Samad saat mengumumkan pernyataan penting itu.

Pernah satu kali, Abraham Samad secara terbuka kepada media dan di depan Tim Pengawas (Timwas) Kasus Bank Century DPR, ia mengungkapkan akan meningkatkan penyelidikan Kasus Century menjadi penyidikan. Namun Samad juga menyatakan bahwa hanya dua pimpinan yang setuju dengan peningkatan status itu, yaitu dirinya dan Zulkarnain. Tanpa disadari, pernyataan tersebut menggambarkan adanya perbedaan pendapat yang sebenarnya tidak layak untuk di ketahui public. Adalah wajar jika diantara pimpinan KPK berbeda pendapat atas persoalan sebuah kasus, namun bukankah sebaiknya itu hanya menjadi konsumsi internal, bukan untuk diketahui untuk umum. Terlebih hal itu terkait dengan strategi dalam pengungkapan sebuah kasus. Ketika itu menjadi konsumsi publik, secara sederhana, rakyat langsung tahu bahwa telah terjadi kekurang harmonisan diantara mereka.

Itu barangkali sedikit dari adanya bibit perpecahan di internal pimpinan KPK. Bisa jadi banyak hal lain yang belum diketahui publik. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Ditengah tingginya harapan baru terhadap KPK “baru”, tapi kini kita dihadapkan adanya ketidakharmonisan dan ketidakkompakan para pimpinan KPK dalam memberantas korupsi. Bagaimana ini bisa terjadi??

Kondisi ini tampaknya memang tidak terlepas dari kepemimpinan baru, Abraham Samad. Sebagai orang baru dalam pemberantasan korupsi, khususnya untuk level nasional. Samad tampak punya semangat tinggi untuk bekerja. Sebagai sosok muda dan segar, samad tentu punya gairah dan idealisme yang mengawang-awang dalam memberantas penyakit akut masyarakat ini. Sebagai sosok “kuda hitam” yang berhasil menarik perhatian para anggota komisi 3 DPR sehingga Samad mendapat suara terbanyak, Samad tampak terbebani dengan dukungan para politisi itu. Sebagai sosok yang terbiasa duduk di Lembaga Swadaya Masyarakat (di Makasar, Samad adalah penggagas Anti Corruption Comitte), Samad memang terkesan suka “one man show” karena tidak terbiasa dengan tata cara dan prosedur yang berlaku seperti layaknya di sebuah lembaga pemerintahan.

Itu semua tampaknya menjadi hal yang tidak menguntungkan, bila tidak mau disebut sebagai bumerang buat Samad. Dia belum bisa memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang bekerja dengan system kolegial. Ia tampak sangat terbebani dengan tingginya dukungan politis, terlebih dari para politisi bermuka dua, yang kerap bersuara kritis terhadap korupsi padahal dirinya dan partainya yang terlibat dalam praktek korupsi. Apalagi. Mereka juga sangat bekepentingan mendeligitimasi partai yang menjadi lawan politiknya.
Masih segar di ingatan, saat fit n propert test di depan komisi 3 DPR, Abraham mengkritik Ketua KPK Masa itu, Busyro Muqoddas yang berprilaku seperti artis karena terlalu sering berbicara kepada media. Padahal, sebagai penegak hukum, masih menurut Samad, Busyro harusnya bisa mengambil jarak dengan media dan tidak obral pernyataan tentang sebuah kasus hukum.

Tapi kini lihatlah. Abraham berulang kali juga mengobral pernyataan kepada media. Sebelum mengumumkan Angelina sondakh sebagai tersangka, sehari sebelumnya ia sempat berujar yang membuat para kuli tinta penasaran. “Besok ada jumpa pers disini tunggul aja lah. Ada yang bagus, jam “ ujar Samad saat mengunjungi ruang wartawan di kantor KPK 2 Februari lalu. Saat ditanya pengumuman apa, Samad sengaja tidak menjawab. Tak pelak, pernyataan ini menuai pro kontra sekaligus banyak penafsiran. Samad terkesan tak sabar ingin memberitahukan prestasi lembaganya yang berani menetapkan seorang petinggi partai penguasa menjadi tersangka. Di sisi lain, ini terkesan Samad ingin segera memuaskan pihak lain karena terlanjur dirinya telah mengobral janji di depan para politisi. Bila tujuannya untuk menyenangkan public, tentu patut diapresiasi. Namun bagaimana bila tujuannya sekedar memuaskan sekelompok orang, tentu patut di sayangkan.

Samad juga berulang kali menyatakan akan menahan Miranda Gultom dan Angelina sondakh kepada wartawan. Samad berjanji akan menahan para tersangka itu jika pemberkasan kasusnya telah selesai. Tapi hingga kini,janji itu tak kunjung terealisasi. Tanpa di sadari, Samad telah menjilat ludahnya sendiri. Suka mengobral pernyataan, yang sebenarnya tidak perlu. Ia masih suka berwacana dan memberi janji, padahal sebelumnya berkukuh akan lebih mementingkan kerja dan bukti.

Apa yang menyebabkan Samad bertindak seperti itu?. Salah satunya bisa jadi terkait hutang janjinya kepada para politisi di senayan. Samad secara tak terduga bisa mengalahkan jagoan-jagoan lainnya dalam pemilihan Pimpinan KPK, bahkan dengan kemenangan telak. Ia terlanjur berucap akan mampu menuntaskan semua kasus-kasus besar dalam setahun, terutama kasus Century. “Saya nggak perlu di minta turun. Satu tahun nggak bisa apa-apa saya akan mundur”, kata Samad berapi-api. Dengan segudang janji manis itu, Samad menjadi gagap melangkah. Penegakan hukum bukanlah persoalan sederhana yang bisa di tuntaskan dengan waktu yang cepat. Terlebih semua kasus besar tersebut melibatkan para politisi dan bahkan petinggi Negara yang secara konstitusional kini duduk di lembaga kepresidenan.

Tak ada yang meragukan komiteman Samad. Itu sudah pasti. Latar belakangnya yang bersih dan punya banyak prestasi dalam penegakan hokum, meski masih dalam skala lokal, yakni di kampung halamannya, Makasar, membuat public tidak ragu dengan idealismennya. Namun itu saja tidak cukup. Samad tidak sadar, memberantas korupsi dalam skala nasional dan tingkat masalahnya dan kepentingan politiknya yang komplek, berbeda saat ia berhasil mengungkap kasus korupsi yang melibatkan mantan Walikota Makasar.

Karena itu, tidak cukup dengan komitmen, tapi juga strategi yang jitu dalam memberantas korupsi. Lebih jauh, bagaimana membangun kebersamaan dan kesepahaman dengan pimpinan yang lain, sehingga target dalam mengungkap sebuah kasus bisa terwujud. Tak hanya itu, membangun kesepahaman juga tak cukup pada tataran pimpinan, namun juga segenap pihak di internal KPK, terutama penyidik, sebagai ujung tombak dalam mengurai benang kusut sebuah kasus. Apalagi, bukan tidak mungkin, pihak dalam bisa menjadi salah satu kendala dalam pengungkapan sebuah kasus. Di masa kepemimpinan Busyro, ia berhasil “mengusir” seorang penyidik yang ternyata dekat dengan Angelina Sondakh. Artinya, musuh dalam selimut nyata-nyata juga bisa mengancam kesolidan petinggi KPK. Kemungkinan hambatan yang bisa muncul dari mana saja ini butuh managerial yang kuat, tegas namun cerdas dalam bertindak, bukan gegabah, semaunya sendiri, layaknya memimpin perusahaan milik sendiri.

Dan tak kalah pentingnya, bagaimana Samad dan pimpinan lain bisa menjaga jarak dengan para politisi di senayan. Samad terkesan terlalu welcome memenuhi tuntutan dan tekanan para politisi yang menginginkan sebuah kasus terungkap dengan cepat, terutama tekanan yang kerap dilancarkan tim pengawas (Timwas) kasus Bank Century DPR. Terlebih, bagi beberapa politisi, kasus tersebut melibatkan sejumlah lawan politiknya. Samad harus sadar, bahwa tekanan para politisi tidak semuanya murni demi penegakan hokum. Sudah bukan menjadi barang baru jika politisi hidup tanpa bebas kepentingan dan lihai dalam memainkan isu. Terlebih lagi, para politisi itu sendiri adalah bagian dari masalah korupsi itu sendiri. Jangan karena hanya ingin memuaskan segelintir kepentingan politisi yang telah menjadi “sponsor”nya, lantas Samad bertindak dengan semaunya sendiri.

Dalam konteks tersebut, Samad tampaknya harus belajar dari Busyro Muqoddas. Pernyataan Busyro berulangkali membuat panas telinga para politisi. Busyro tak peduli dengan itu, meski pernyatannya kerap menuai protes dari para politisi. Pernyataan tentang anggota dewan kerap hidup hedonis, parpol menjadi bibit lahan korupsi adalah beberapa diantaranya. Di depan anggota Komisi 3, Busyro bahkan menyatakan, ia bekerja bukan karena tekanan, baik itu partai kecil apalagi partai besar, tapi bekerja berdasarkan fakta demi penegakan hukum.

Sebagai lembaga politik, DPR tentu tidak akan pernah menyerah untuk mempengaruhi atau bahkan juga mengintervensi lembaga hukum seperti KPK. Mereka kerap menggunakan tameng sebagai lembaga pengawas. Tapi KPK harus bekerja, ada atau bahkan tanpa ada DPR. Samad harus meninggalkan rasa hutang budi kepada para politisi itu, dan saatnya bekerja sepenuh hati demi kebenaran hukum, bukan tekanan. Pekerjaan besar menanti, publik akan selalu mendukung dan menagih??

Baca Selengkapnya......

05 Oktober 2010

NENEK TANGGUH PENCARI KARAT BESI



Usia tua, selayaknya adalah waktu untuk beristirahat. Setidaknya itulah yang diinginkan dan dirasakan oleh banyak orang. Tapi tidak bagi Sofiah. Diusianya yang kini menginjak 65 tahun, Sofia malah bergumul dengan limbah dan karat besi di pinggiran laut di Jakarta. Ya, nenek 6 anak dan 19 cucu ini, setiap harinya menjalani pekerjaan sebagai pengumpul karat besi di kelurahan Cilincing, Jakarta Utara. Potret kemiskinan yang menyayat hati bila melihat sang nenek itu bekerja, mengais serpihan besi demi sesuap nasi.



Karat besi adalah serpihan-serpihan besi kapal yang dibelah atau di potong-potong di kawasan itu. Besi kapal itu diambil dari kapal-kapal tua yang sudah tidak layak operasi. Dari pada kapal teronggok di pinggir lautan, oleh sebagian pengusaha, besi-besi kapal itu dipotong-potong untuk selanjutnya di lebur kembali menjadi besi yang baru. Saat besi-besi kapal itu dipotong di pinggir laut, akan menyisakan serpihan-serpihan kecil. Serpihan-serpihan kecil inilah yang dimanfaatkan oleh Sofiah dan telah menjadi lumbung uang untuk menghidupi hidupnya sehari-hari.

Sudah 35 tahun Sofiah menjalani profesi sebagai pengumpul karat ini. Waktu yang tidak sebentar tentunya. Diusianya yang sudah senja, ia tetap saja bersemangat untuk menekuni profesi ini. Tak ada pilihan lain. Dari karat besi ini, ia bisa membantu kehidupan keluarga anaknya yang tinggal serumah dengannya. Paling tidak, Sofiah bisa jajan, member cucunya sedikit uang, sekaligus memenuhi kebutuhan untuk ikut pengajian rutin di tempat tinggalnya.

Tidak hanya Sofiah yang menjalani kerja sebagai pengumpul karat besi. Di daerah Jalan Belah Kapal, Cilincing itu, ada belasan wanita lainnya yang sama seperti Sofiah. Tapi Sofiah adalah yang tertua dan yang paling lama menjalani pekerjaan berat ini. Para wanita tangguh yang bekerja itu, umumnya dihimpit oleh kondisi kemiskinan, yang menyebabkan mereka harus banting tulang, bergumul dengan debu, bersahabat dengan percikapan api pemotong besi, demi mengumpulkan rupiah. Besarnya biaya hidup menyebabkan mereka harus turun tangan, tak bisa hanya mengandalkan pendapatan tak tetap dari suami mereka yang umumnya hanyalah nelayan.

Saat matahari baru menampakkan wujudnya di ufuk timur, Sofiah sudah bersiap-siap untuk menuju ke pinggir laut, tempat pembelahan kapal. Sofiah selalu menggunakan pakaian kebesarannya, kaos putih bertangan panjang yang kini sudah berganti warna menjadi hitam akibat ceceran oli yang menempel di besi-besi kapal. Busana kebesaran lainnya adalah kaos yang ia lilitkan di kepala dan wajah, hingga hanya terlihat matanya saja. Jadilah ia seperti pasukan bercadar. Setelah itu, iapun mengambil senjata pamungkas, yakni kayu pendek, yang disalah satu ujungnya terdapat besi berani atau magnet, guna menarik para karat-karat besi itu. Tak lupa pula, sebotol air minum yang ia masukkan kedalam kantong keresek. Dengan seragam dan perlengkapan itulah, Sofiah siap untuk bekerja.

Di lokasi, Sofiah bersaing dengan para wanita lain yang seprofesi, berkejaran dan berebutan tempat untuk mencari potensi karat besi yang paling banyak. Sebagai yang tertua, Sofiah lebih banyak mengalah dan mengambil tempat yang bagi wanita pekerja lain tidak dilirik. Itulah Sofiah. Baginya, rejeki sudah ada yang mengatur. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia mulai menggosokan tongkat bermagnet ke besi-besi dan ke tumpukan serpihan yang telah bercampur dengan pasir dan debu. Besi yang menempel di magnet, ia ambil dan dimasukkan ke dalam karung. Begitulah seterusnya. Sedikit-demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Kadang-kadang, ia juga harus mengambil karat besi yang masih menempel di besi induknya dengan cara memukul-mukul dengan alat seadanya. Besi yang lumayan besar itu, lumayan berat untuk bisa di jual. Meski begitu, ia tidak bisa mengambil besi yang berukuran lebih dari setengah kilogram. Petugas dari pembelahan kapal selalu mengawasi dan memarahi setiap orang yang ketahuan mengambil besi yang diluar yang sudah di tentukan. Hampir setiap harinya, selalu saja ada wanita yang ketahuan dan perang mulut dengan petugas karena ketahuan mengambil besi besar. Tapi Sofiah, lebih mengambil jalan aman. Mengambil karat besu sedapatnya, tak perlu ngotot, apalagi sampai mengambil yang bukan haknya.

Tak jauh dari posisi sofiah mengkais-kais karat besi, ancaman cipratan api dan las-las pemotong besi selalu mengancam. Tapi sofiah tak peduli. Pencari karat besi seperti Sofiah dan para laki-laki pemotong besi yang menggunakan las, seolah menyatu. Dari kejauah, Sofiah seolah-oleh terlihat berada di dalam lingkaran api. Tapi, tak ada keluh kesah keluar dari mulut Sofiah. Ia sudah terbiasa. Pernah suatu kali, sofiah mendapat pengalaman tak mengenakkan. Ia menginjak besi panas karena baru saja di potong. Kaki tuanya itu melepuh. Ia tak kuat. Kemudian pulang. Di rumah, kondisi tak membaik. Dengan pengobatan seadanya, menggunakan bubuk kopi, ia merasakan sakitnya luka bakar di telapak kaki. Hampir sebulan, sofiah tak bekerja gara-gara peristiwa itu. Sejak itu, sofiah sudah rajin menggunakan sandal saat bekerja, mengumpulkan karat besi.

Bila karat besi sedikit di darat, sofiah dan para wanita tegar lainnya mencari ke pinggir laut, menceburkan diri air asin. Mengkais-kais besi yang ada didasar laut. Benar-benar wanita-wanita tangguh. Berendam di dalam air laut, demi karat besi yang tak seberapa banyaknya.

Karat besi yang telah terkumpul, dibungkus ke dalam sebuah karung. Seminggu dua kali, pengepul besi datang untuk mengambil karat besi yang telah terkumpul itu. Setiap satu kilogram karat besi, dihargai 300 Rupiah. Dalam sekali penjualan, Sofiah menjual satu hingga dua karung. Satu karung karat besi, beratnya mencapai 75 hingga 80 kilogram. Maka, dalam sekali penjualan, Sofiah mendapat 40 hingga 45 ribu rupiah. Itu belum dipotong 5 ribu rupiah oleh petugas lapangan yang bekerja di tempat pembelahan kapal.

Bekerja seharian, di bawah terik matahari, mengisap debu sisa-sisa karat besi dan ancaman kilatan api dan besi panas, dan pendapatan yang terbilang tidak banyak itu tak membuat Sofiah pantang menyerah. Ia tetap semangat, menjalani hidup, sambil tak lekang beribadah pada yang maha kuasa. Sofiah, usia rentamu menyiratkan semangat dan inspirasi yang berharga bagi siapapun. Termasuk diriku yang harusnya banyak bersyukur dalam menjalani hidup ini.

Di rumah, Sofia tinggal bersama anak bungsunya, Sofyan. Ia tinggal di rumah yang sempit dan kecil, dipemukiman padat. Tak ada barang-barang berharga. Anaknya Sofyan, sehari-hari adalah nelayan. Sofyan hanyalah buruh bayaran, karena ia tak memiliki kapal sendiri. Subuh pergi ke tengah lautan dengan kapal kecil, sore hari pulang dengan ikan sedapatnya. Kadang-kadang, ia membawa sedikit ikan untuk dimakan di rumah, bersama emaknya, Sofiah. Di rumah itu, selain Sofiah, Sofyan bersama istrinya dan 2 anaknya. Kedua anak sofyan yang masih kecil-kecil inilah yang menjadi pelipur lara, menjadi teman bermain bagi Sofiah. Ya, cucu-cucu lucunya inilah yang menjadi pengobat ditengah kegetiran ke kerasnya hidup.

Maklum. Suami Sofiah, Ahmad Nasir telah sepuluh tahun yang lalu meninggal dunia. Suaminya sakit berkepanjangan dan tidak mendapat perawatan yang selayaknya. 3 bulan, suami sofiah hanya bisa berbaring lemah, sampai akhirnya di panggil sang Khalik. Dalam bahasa Sofiah, Suaminya kesambet di pinggir laut. Ia ikhlas menerima kenyataan hidup. Sejak itulah, ia benar-benar mengandalkan dirinya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Sebenarnya, keenam anaknya sudah melarang Sofiah bekerja. Tapi Sofiah mengaku tak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Biarlah ia bekerja, paling tidak untuk bisa jajan, member cucunya uang. Apalagi, sofiah menyadari, keenam anaknya tak ada yang jauh lebih baik kehidupan ekonominya. Anak-anaknya, yang sudah berkeluarga semua, hidup juga tak jauh-jauh mengandalkan dari laut, yakni sebagai nelayan, dan juga pembelah kapal di tengah lautan.

Hanya anak keduanya, Rosidi, yang kehidupan ekonominya sedikit baik, yakni sebagai penjaga sekolah di SMK Negeri di Cilincing. Rosidi pulalah yang berinisiatif membawa Sofiah ke klinik, tak jauh dari rumah, untuk memeriksakan kesehatan Sofiah. Selama ini, Sofiah selalu mengeluhkan suka pusing dan batuk. Bila penyakit itu menyerang, ia hanya mengandalkan obat-obat yang dijual bebas di warung. Namun obat itu tak pernah membuat penyakitnya itu hilang. Selalu saja datang setiap saat.

Di klinik kesehatan itulah, Sofiah harus mendapat kabar tak baik. Dari hasil rontgen di paru-paru, dokter menyatakan bahwa ada peradangan di paru-parunya. Bila dibiarkan, akan mengarak pada TBC. Menurut dokter, peradangan di paru-paru itu bisa jadi akibat Sofiah selalu mengisap debu-debu dari karat besi yang ia kumpulkan setiap hari. Dokter memberi obat. Sofia menerimanya dengan ekspresi datar. Anak-anaknya berusaha untuk terlihat biasa, meski sebenarnya menyiratkan rasa sedih dan khawatir.

„Kalo lg sakit, sy suka sedih. Suka nangis sendiri“. Itulah kata-kata Sofiah kepadaku, yang membuatku suka ikut menangis bila mengingatnya.

Baca Selengkapnya......

25 April 2010

Bang Syamsul di Sayang, Bang Syamsul yang Malang



Turut berduka atas di jadikannya Syamsul Arifin, Gubernur Sumut, sebagai tersangka oleh KPK, dalam dugaan korupsi dana APBD Kabupaten Langkat.
Banyak masyarakat yang bertanya-tanya, apa benar "datuk" korupsi? bukankah penampilannya saja selama ini sangat sederhana, tidak menunjukkan pola hidup mewah, sebagaimana halnya pejabat yang lain???


banyak masyarakat kecil, apalagi warga di sekitaran Pangkalan Berandan dan Tanjung Pura, daerah kelahiran Syamsul Arifin, yang sulit percaya atas fakta ini. bagaimana mungkin syamsul Arifin yang dermawan, murah hati, perhatian pada orang-orang kecil bisa melakukan korupsi.

itulah penilaian khas orang awam. mudah untuk di mengerti sebenarnya. tapi begitulah. siapa yang tau jika uang yang selama ini "disiram" oleh Syamsul bersumber dari dana yang sah. siapa yang tau apakah memang Syamsul punya uang tak terbatas sehingga setiap kunjungannya kemanapun selalu memberi uang kepada siapapun yang meminta.

sebagai kepala daerah, siapapun punya hak untuk mengeluarkan uang dari kas daerah, meski peruntukkannya salah. lihat saja bagaimana Abdillah, walikota Medan yang harus dipenjara karena juga tuduhan korupsi. siapa yang percaya jika sosok yang ramah dan dermawan itu, ternyata banyak menyalahi prosedur dalam mengeluarkan uang kas daerah, yang sesungguhnya milik rakyat itu.

hal yang sama bisa saja terjadi pada Syamsul Arifin. meski murah hati, bukan berarti bisa seenaknya mengeluarkan uang tanpa mematuhi aturan yang berlaku.

ingat. korupsi tidak hanya memperkaya diri sendiri. korupsi juga berlaku jika kebijakan seorang kepala daerah yang ternyata memperkaya orang lain, meski ia sendiri tidak menerima sepeserpun. bahkan tanda tangan yang ternyata disalahgunakan oleh bawahannya, ternyata jerat korupsi juga bisa melilit sang kepala daerah.

begitulah dan memang begitulah reksiko jadi pejabat. aturan di buat agar administrasi keuangan daerah bisa di pertanggungjawabkan. jika semuanya dilakukan dengan sesuka hati, tidak mengikuti aturan, mendingan ia hanya mengurusi perusahaannya miliknya sendiri. karena itu adalah uangnya, maka ia bebas menggunakan uang perusahaan miliknya untuk apa saja...

Baca Selengkapnya......

26 Maret 2010

Bermegah-Megah Dalam Membangun Mesjid???


Sebulan belakangan ini, saya sering bolak-balik dari kantor ke Mesjid Kubah Emas yang berada di Cinere, Depok. Semua itu terkait dengan pekerjaan, survey dan taping untuk program Religi Khazanah yang di tayangkan Trans TV tiap Senin, jam 6 pagi. Tapi mulai minggu ini, tayangan di geser menjadi hari Jum’at pagi di jam yang sama.

Siapa yang tak kenal Mesjid Kubah Emas yang dibangun oleh Wanita kaya Raya bernama Dian Al Mahri? Mesjid ini menjadi fantastis karena arsitekturnya yang meniru bangunan mesjid di Timur Tengah. Kubahnya berwarna kuning dan konon berasal dari emas. Bahan bangunan Mesjid megah ini hampir seluruhnya di import dari Timur Tengah dan Eropa. Rasanya, belum ada yang menandingi kemegahan Mesjid ini di Indonesia. Keberadaannya kini, tak lagi sekedar menjadi tempat beribadah, tapi sudah menjadi tempat jalan-jalan, wisata religi.

Dalam beberapa kali kesana, termasuk pada saat survey di subuh hari, 4 hingga 5 bus yang membawa rombongan jemaah dari luar kota telah berjejer parkir. Pengunjung akan lebih banyak lagi menjelang siang hingga sorenya. Orang tua saya, saudara saya dari Medan, termasuk orang-orang yang sudah menginjakkan kaki di sekitar Mesjid untuk melihat keindahan dan kemegahan bangunan ini. Saya sendiri, seakan tak pernah bosan memandang Mesjid ini. Dilihat dari sudut dan sisi manapun, keindahannya benar-benar mempesona.

Di tengah itu semua, banyak tanda tanya yang hadir di benak, tidak hanya saya, tapi juga teman-teman satu tim dengan saya. Dari semua tanda tanya itu, satu hal yang paling membatin, benarkah masyarakat sekitar membutuhkan mesjid ini? Benarkah mesjid ini sudah berdiri tegak sesuai dengan fungsinya, yakni tempat beribadah sholat, mendekatkan dengan yang maha kuasa. Benarkah uang ratusan milyar atau bahkan trilyunan yang dikeluarkan untuk membangun mesjid ini sudah menambah daya iman dan takwa masyarakat muslim dan menjadi tempat dakwah yang efektif bagi perkembangan Islam.

Pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jawab bila melihat kenyataan yang saya hadapi. Jemaah Sholat di Mesjid ini umumnya adalah para jamaah pengunjung dari luar daerah dan hanya sedikit yang datang dari masyarakat sekitar. Mesjid menjadi sepi di saat waktu jam sholat berakhir. Yang ada hanyalah gerombolan bapak-bapak, ibu-ibu dan kawula muda yang melihat-lihat kemegahan mesjid dan sibuk berfoto ria di setiap sudut dan sisi mesjid.

Jangan-jangan, keberadaan mesjid ini hanya sekedar menjadi simbol kemegahan. Jangan-jangan, bangunan ini hanya menjadi tempat wisata, tempat jalan-jalan tanpa memberi kesan sebagai tempat suci, tempat mendekatkan diri dengan sang kholik. Rasanya, akan menjadi sia-sia, bila hanya di tujukan untuk prestise, bukan menjadi tempat untuk memupuk rasa iman dan takwa. Akan menjadi sia-sia pula bila masyarakat sekitar merasakan Mesjid Kubah Emas menjadi bangunan kebanggaan, sebatas itu saja.

Lantas, saya teringat pada saat riset untuk materi liputan Khazanah beberapa saat yang lalu. Produser meminta saya untuk mempersiapkan tema liputan tentang tanda-tanda akhir zaman. Dari beberapa tanda-tanda tersebut, bermegah-megah dalam membangun mesjid adalah salah satu tanda mendekatnya hari Kiamat.
Rasulullah bersabda “tidak akan beridiri kiamat hingga mansia berbangga bangga dengan masjid” (hadist sahih musnad Ahmad3:134,145, An Nasa’i 2:32, Abu Dawud 449,Ibnu Majah 779) padahal rasulullah dilain tempat berkata “saya tidak diutus untuk menjulangkan masjid masjid”. sahih sunan abu dawud:448

Pernah Rasulullah memancing tanya kepada Malaikat Jibril kapan datangnya Kiamat.
"(Aku sendiri tidak tahu), tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tandatandanya." Lalu Malaikat Jibril menyebutkan antara lain, "Apabila penggembala-penggembala ternak sudah berlomba-lomba dalam membuat bangunan (rumah dan sebagainya), itu termasuk tanda-tanda telah dekatnya hari Kiamat."
Kaum muslimin tidak hanya mendirikan bangunan-bangunan umum yang megah, melainkan juga masjid-masjid yang megah, namun mereka tidak mau meramaikan masjid dengan ibadah. Jadi masjid yang megah itu hanya dijadikan bangga-banggaan.

Wallahualam..

Baca Selengkapnya......

13 Maret 2010

MEDIA DI TEROR TERORIS



Sejak terungkapnya kelompok bersenjata yang di klaim sebagai kelompok teroris di Aceh, di tambah dengan penyergapan teroris yang menewaskan Dulmatin di Pamulang Banten, beberapa hari yang lalu, polemik muncul di berbagai milis, menyangkut kualitas pemberitaan media massa, khususnya Televisi.

Polemik pertama muncul terkait dengan pemberitaan TV One, tentang penyergapan polisi terhadap kelompok bersenjata di Desa Bayu Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimuem Aceh Besar. Dengan semangat mengusung berita “Exclusive” dan di siarkan secara langsung, sang reporter menggambarkan bagaimana ketegangan dan suasana yang mencekam dalam operasi penyergapan tersebut. Di tambah dengan gaya yang mengendap-endap di tambah suara reporter yang seperti berbisik, show yang muncul seolah mengesankan sedang terjadi baku tembak atau layaknya perang.


Tampilan di layar kaca yang sedemikian, sontak membuat kalangan jurnalis, khususnya jurnalis lokal dari Aceh marah dan protes karena di anggap sangat berlebihan dan jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Sebagian yang lain malah menganggapnya sebagai dagelan dan komedi yang layak di tertawakan karena di anggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan TV tersebut dalam membuat berita.

Pernyataan marah dari kalangan jurnalis tersebut bersumber dari tidak adanya sensitifitas pemberitaan TV One terhadap kondisi psikologis masyarakat Aceh. Masyakarat Aceh rasanya baru saja mengecap rasa damai dan aman pasca perdamaian antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dibuat di Helsinki, Finlandia. Belum lekang rasanya mata masyarakat Aceh melihat konflik bersenjata yang tak berkesudahan antara TNI vs GAM. Masih terngiang rasanya suara desingan peluru yang berseliweran diantara mereka akibat konflik bersenjata tersebut. Konflik tersebut telah meninggalkan trauma yang teramat sangat di memori mereka.

Saat mata menatap berita yang di tampilkan TV One tersebut, bukan tidak mungkin luka akibat konflik tersebut kembali menganga. TV One di anggap telah abai menyajikan berita yang membawa suasana kedamaian dan ketenangan, bukan sebaliknya. TV One telah lupa bahwa peristiwa tersebut berlangsung di bumi Aceh yang baru saja mengecap rasa perdamaian. Akan sangat berbeda jika berita tersebut di tampilkan, seperti pada saat penyergapan teroris Ibrahim di Temanggung atau penyergapan yang menewaskan Nurdin M Top di Solo, Jawa Tengah.

Sebagai media professional, seharusnya TV One lebih menjunjung tinggi teknik jurnalisme damai, bukan jurnalisme perang. Isi berita akan lebih arif jika di orientasikan pada menciptakan rasa aman dan damaim dan jauh dari mendramatisir dan bahkan membuat fakta yang hiperrealitas. Rasa bangga dan merasa lebih cepat dalam memberitakan sebuah peristiwa ternyata telah melupakan kewajiban media untuk menyajikan berita secara lebih professional, lebih berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan gengsi dan rating semata.

Masih menyangkut TV One, polemik selanjutnya menyangkut pemberitaan penangkapan 10 orang tersangka teroris, dua diantaranya tewas di tembak. Dalam pemberitaannya, TV One menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah Kantor Polisi Sektor leupung, Aceh di serang oleh kelompok bersenjata. Seorang jurnalis, dalam sebuah milis tersebut menyatakan bahwa isi pemberitaan tersebut jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Ia menulis

“Sebenarya, penangkapan 8 oarng yang disangka teroris terjadi saat sweeping di depan Mapolsek, ketika itu ada laporan orang yang membawa senjata dalam mobil L-300 dengan tujuan Muelaboh dari Banda Aceh.Atas informasi tersebut 8 polisi dari Polsek melakukan Razia, saat mobil yang dicurigai di stop dua dari 10 penumpang mencoba kabur, salah satunya mengeluarkan pistol (diperkirakan milik densus yang tawas sebelumnya) diarahkan kepolsi, hingga polisi menembak sampai mati keduanya. (sudah terkapar masih ditembak)Kali ini kami anak2 lokal lebih cepat di Lokasi....jadi janga Lebay ah..malu lah...Mau cerita lebih lanjut klik acehkita.com.”

pernyataan yang didukung banyak anggota milis tersebut, kembali membuktikan kurangnya sikap hati-hati dari redaksi TV One dalam memberitakan sebuah peristiwa. Kembali, sikap tergesa-gesa, ingin menampilkan dengan lebih cepat disbanding media lain, bahkan seringkali di tambah dengan klaim sebagai gambar “excklusive”, membuat banyaknya unsure membuat berita yang terlewatkan. Padahal, pemberitaan di media lain, yang memuat pernyataan resmi dari Kapolda Aceh, jelas-jelas bertentangan dengan isi yang disampaikan TV One.

Di salah satu milis, kritik dari publik tidak hanya tertuju pada media televisi, tetapi juga media cetak. Salah seorang Dosen mengkritisi frame dua media nasional, Kompas dan Republika yang saling bertentangan dalam memberitakan penyergapan terorisme, khususnya yang di Pamulang. Dalam berita dan artikelnya, Kompas terlihat pro terhadap tindakan tegas Polri/Densus 88 terhadap para orang yang dinyatakan sebagai teroris tersebut.

Sementara Republika justru kritis dengan tindakan Polisi/Densus 88 dalam menangani kasus Dulmatin. Koran ini juga menyindir Presiden SBY yang mengumumkan terbunuhnya Dulmatin di depan Parlemen Australia. Dalam pemberitaannya, Republika bahkan menyampaikan empatinya (meski tidak setuju dengan aksi teror), atas apa yang diperjuangkan Dulmatin.

Apa yang tersaji di atas membuktikan bahwa media adalah pekerjaan professional yang harus memenuhi beberapa tahapan atau proses jurnalistik, sehingga hasilnya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Media tidak bisa gegabah dan harus tetap melakukan pekerjaanya sesuai dengan kode etik yang telah ada. Harus diakui, bahwa media juga memiliki ideology, yang diperjuangkannya. Tapi hendaknya, apappun itu, media haruslah tetap menjunjung tinggi kebenaran sebagai nilai tertinggi. Semua itu bermuara pada satu kepentingan, yakni kepentingan masyarakat banyak, bukan kepentingan kapital semata.

Baca Selengkapnya......

09 Maret 2010

OBAMA DATANG, TERORIS TEWAS


Di tengah asyik nonton tayangan TV yang menyiarkan langsung penyergapan Tim Densus 88terhadap teroris di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, seorang teman senior di kantor tiba-tiba nyeletuk, “ah.. inikan karena obama mau datang. Biar polisi kelihatan kerja. Ini kan politis. Pas obama mau datang aja, baru di tangkepin…”
Benarkah?

Bisa iya bisa tidak. Yang pasti, fakta membuktikan, menjelang kedatangan Obama 20 Maret nanti, penyergapan terhadap teroris gencar di lakukan. Sebelum Pamulang, media ramai memberitakan penyergapan terhadap kelompok bersenjata di di Desa Bayu Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimuem Aceh Besar. Korban jiwa jatuh tidak hanya dari teroris, tapi juga dari aparat kepolisian.

Dan kini, penyegapan teroris di Pamulang seolah menyentak masyarakat. Bahkan salah satu teroris tewas di duga adalah Dulmatin, teroris yang paling di cari selama ini setelah Nurdin M Top. Dulmatin alias Joko Pitono bahkan menjadi teroris yang kepalanya dihargai 10 juta Dollar AS oleh pemerintah Amerika Serikat. Sebelumnya, pria asal Pemalang Jawa Tengah ini dikabarkan tewas dalam penyergapan teroris di Filipina. Namun jasadnya tidak pernah di temukan. Karena itu, jika otak peledakan bom di Bali ini benar-benar tewas di Pamulang, tentu menjadi kredit point bagi kepolisian dan pemerintah Indonesia.

Bisa jadi, hal ini menjadi bonus bagi kedatangan Obama di Indonesia. Pemerintah kita bisa dengan bangga mengklain keberhasilan dalam memberantas terorisme. Bahkan kehadiran SBY di Australia hari ini, bisa jadi menjadi bahan pembicaraan dengan Perdana Menteri negeri Kangguru tersebut. Amerika dan Australia adalah dua negara yang menggelontorkan bantuan dana cukup besar bagi pemerintah Indonesia untuk memberantas terorisme.

Hari ini, di salah satu berita di Harian Kompas, Direktur Eksekutif Kontras Usman Hamid, kemarin mendatangi Istana Negara. Meski menolak berkomentar kepada wartawan, kedatangannya menghadap SBY di duga kuat berkaitan dengan pengusutan kasus kematian pejuang HAM, Munir. Sejumlah aktivis HAM sebelumnya mendesak SBY untuk mengagendakan pembicaraan tentang kematian Munir dalam pertemuannya dengan Obama nanti.

Semuanya memang masih berupa dugaan. Tapi anehnya, rangkaian peristiwa tersebut memang selalu berhubungan. Tidak ada yang salah memang memberantas terorisme. Tidak ada yang salah memang mengusut tuntas kematian pejuang HAM Munir. Malah hal itu membuktikan bahwa pemerintah berkomitmen dalam hal penegakan hukum.

Namun, yang tidak benar adalah ketika penegakan hukum tersebut dilakukan bukan murni dari kepentingan masyarakat, melainkan untuk memuaskan keinginan negara lain, dalam hal ini Amerika. Jika hal benar adanya, maka benar pula lah dugaan kita selama ini bahwa sebenarnya bangsa ini hanyalah bangsa kecil yang didikte oleh negara adikuasa Amerika. Benarlah dugaan selama ini bahwa kita takluk di gampang di dikte oleh bangsa lain, Amerika.

Alangkah kasihannya negara sebesar ini ternyata hanya menjadi negara wayang dan Amerika menjadi dalangnya.

Semoga saja, ini semua salah???

Baca Selengkapnya......

08 Maret 2010

PEMIMPIN SETENGAH-SETENGAH

“Kepemimpinan tidak dapat dijadikan kontes kepopuleran. Berusaha untuk tidak menyinggung orang lain atau berusaha agar setiap orang menyukai anda, akan membawa anda ke jalan mediokritas atau sikap yang setengah-setengah”.

Demikian penggalan narasi yang dikutip dari Oren Harari dalam bukunya The leadership secrets of Collin Powell. Buku tentang teknik kepemimpinan yang diilhami oleh sepak terjang mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di era kepemimpinan George W Bush, Collin Powell.

Sekarang, mari kita bercermin pada pemimpin kita, Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam konteks polemic Bank Century, adakah kepemimpinannya sudah mencerminkan apa yang sudah di sampaikan oleh Oren Harari tersebut???

Secara mudah, rasanya belum, untuk mengatakan tidak.

Ya, setiap pemimpin memang punya karakter masing-masing. Tapi dalam kondisi krisis dan ditengah banyak konflik, apakah SBY masih harus menggunakan teknik kepemimpinan “main aman”, politik pencitraan dan “politik jalan tengah” seperti yang selama ini telah ia jalani.

Apa yang disampaikannya dalam pidato menanggapi hasil Rapat Paripurna DPR terhadap hasil Pansus Kasus Bank Century, yang disiarkan secara live oleh hampir semua jaringan Televisi Nasional, sesungguhnya sudah terlihat adanya ketegasan dan konsistensi dalam bersikap. SBY tetap kukuh pada pendiriannya bahwa kebijakan Bail Out atas Bank Century merupakan langkah tepat untuk menyelematkan ekonomi nasional dari dampak krisis global pada masa itu. Ia bahkan berkeyakinan bahwa figure Budiono dan Sri Mulyani merupakan figure yang kredibel dan punya integritas dan karena itu tidak mungkin mengeluarkan kebijakan hanya karena kepentingan satu kelompok tertentu.
Dalam hal keyakinannya atas kebijakan itu, langkah maju SBY adalah ketegasan dan konsistensinya. Ini bahkan berlawanan dengan sikap mayoritas anggota DPR yang justru menganggap bahwa kebijakan tersebut melanggar hukum dan dan banyak kejanggalan. SBY sudah punya langkah berani untuk menentang arus besar suara di DPR.

Sayang, pernyataan tersebut terlambat. Bisa jadi kontelasi politik akan berubah jika pernyataan tersebut di sampaikan sebelum DPR mengambil sikap dalam Sidang Paripurna.
Namun, satu hal yang tidak terjawab oleh SBY dalam pidato tersebut adalah persoalan masa depan koalisi pemerintahannya. SBY sama sekali tidak menyinggung atas sikap 3 fraksi yang tergabung dalam koalisinya, F Golkar, FPKS dan FPPP yang jelas-jelas berseberangan dengan sikap pemerintah. Padahal, banyak pihak berharap bahwa pidatonya akan menyinggung persoalan ini. Bagaimana masa depan koalisi, apakah terus di pertahankan atau malah di rombak sama sekali.

SBY tampak belum berani bersikap atas persoalan ini. SBY masing memperhitungkan matang-matang konsekwensi dari sikapnya jika ia harus bersikap tegas terhadap partai-partai pembangkang di koalisi. SBY lebih rela partai mitra koalisinya secara telanjang mempermalukan dan menentang garis pemerintah, dari pada harus bersikap frontal. Ia masih lebih memikirkan kursi kekuasaannya dengan mengacuhkan teman-teman koalisinya yang di depan mata rakyat bersorak sorai bahagia karena berhasil ‘menang’ melawan kebijakan pemerintah.

Mereka, partai mitra koalisi selalu berdalih bahwa koalisi tidak harus menghilangkan sikap kritis partai. Koalisi tidak harus mem’bebek’ pada partai pemimpin koalisi. Ketua umum Golkar berdalih bahwa wajar jika dari 100 kebijakan pemerintah, Golkar berbeda pendangan pada 1 kebijakan. Semuanya punya dalih dan menyatakan bahwa koalisi tetap berjalan.

Logika yang dibangun sungguh elok di dengar sehingga seolah-olah perlawanan yang mereka lakukan di DPR adalah hal yang biasa. Pendapat tersebut rasanya memang sulit di bantah. Tapi persoalannya, sejauh mana sikap kritis bisa disampaikan partai koalisi dalam menghadapi sebuah kebijakan? Sejauh mana partai tidak harus mem’bebek’ dalam menghadapi kebijakan pemerintah. Jika tidak di telaah dan dibuat lebih terang logika tersebut, bukan tidak mungkin, ke depannya, koalisi tidak akan pernah solid hanya dengan dalih-dalih yang dibuat seperti itu.

Padahal, berbeda pendapat atas persoalan kebijakn Bail Bank Century itu bukankah persoalan yang sangat fundamental? Apakah menentang sebuah kebijakan dari pemerintah itu bukan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan pembangunan yang di lakukan pemerintah? Akan sangat berbeda misalnya yang di tentang adalah persoalan pelaksanaan kebijakan yang ternyata punya banyak cacatnya. Akan sangat lumrah halnya ketika yang ditentang adalah pada tataran teknis kebijakan yang ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Dalam konteks Century, akan sangat wajar yang ditentang partai koalisi misalnya adalah soal pelaksanaan kebijakan Bail Out yang ternyata dananya mengalir ke orang atau fihak yang tidak berhak. Akan sangat lumrah jika yang ditentang adalah persoalan apakah kebijakan tersebut belum memperhatikan nasih nasabah Bank Century yang menjadi korban dari kebijakan itu. Lah ini, yang ditentang adalah kebijakannya. Lantas, kalaulah seperti itu, apa bedanya koalisi dengan oposisi? Apa bedanya partai pendukung dan partai penentang pemerintah?

Logika seperti ini tampaknya sudah disadari oleh SBY. Namun, sekali lagi, tindakan tegas atas partai nakal yang duduk di koalisi tidak tampak pada sosok seorang SBY. SBY belum menunjukkan kepemimpinan yang kuat, berani mengambil reksiko atas pilihan kebijakan yang ia ambil. Dalam konteks ini, pernyataan Oren Harari di atas ternyata menemui relevansinya.

Baca Selengkapnya......

03 Maret 2010

UNTUK MU SBY



Pak SBY, kini sudah ketahuan kan mana kawan mana lawan. Mana yang bisa diajak berkoalisi mana yang tidak. Trus, untuk apa lagi ragu dan bimbang. Bertindaklah dengan cepat, tangkas dan tegas. Masak nggak bisa meniru sedikit gaya pak JK untuk menyelesaikan persoalan Century. Sampai kapan lagi hiruk pikuk pemberitaan Century terus mencekoki rakyat ini akan berakhir. Saatnya bertindak. Meski sesungguhnya sudah terlambat. Tapi tak apalah, dari pada tidak sama sekali.


Kadang rasa geregetan tak bisa dihindari dari rasa hati ini, bila melihat kelambanan bapak bertindak.Masak baru sekarang akan ngomong ke rakyat. Itupun baru akan. Belum tau jadinya. Apa susahnya sih bersikap tegas. Justru terlalu banyak kompromi membuat anda kehilangan wibawa. Tidak hanya di mata rakyat, telebih lagi di mata parpol koalisi anda. Sudah jelas kader parpol kita belum matang dan lebih banyak menjadi pion hasrat kekuasaan, eh.. kok dikasi kesempatan untuk berkoar-koar, berteriak lantang di sana-sana, seolah olah sebagai diri yang suci, merasa benar sendiri.

Sudahlah, apa lagi yang diperhitungkan. Masih takut dengan kehilangan jabatan. Kenapa harus takut? Anda didukung oleh 60 persen lebih rakyat untuk memimpin rakyat ini. Masak takut dengan para politisi yang lebih banyak menjual diri di senayan itu. Tokh jumlah mereka tidak seberapa kok. Apalagi, jalan menuju pemakzulan masih jauh dari kenyataan. Jikapun terjadi, paling banter hanya terjadi pada wapres, Budiono. Itupun peluangnya sangat tipis. Anda sangat jauh terlibat dari konspirasi Century.
Aliran dana yang disebut-sebut mengalir ke partai anda dan tim sukses anda ternyata juga hanya pepesan kosong belaka. Ini Semuanya tak lebih dari kepintaran lawan-lawan politik anda memahami dan mempengaruhi psikologis media yang ternyata di kuasai oleh lawan-lawan politik anda sendiri.

Ini bukan lagi soal kebenaran. Ini bukan lagi soal perdebatan sistemik atau tidak sistemik. Tapi ini adalah soal kepemimpinan anda. Ini soal ketegasan sikap anda. Ini soal bagaimana seorang pemimpin bisa hadir di depan pada saat kemelut sedang terjadi. Sayangnya, peran itu tidak anda lakukan. Maka yang terjadi adalah, tauran ala pelajar SMP yang hadir di gedung senayan. Padahal, mereka semua itu memakai tameng anda untuk membenarkan perkataan dan sikapnya. Partai koalisi anda, Golkar dan PKS, berlindung di balik kalimat “usut hingga terang benderang kasus Century”. Tapi sayangnya, anda tidak member ketegasan apa makna terang benderang. Maka yang terjadi adalah, mereka rela membelot, rela melawan hanya karena merasa anda tidak pernah menegur apalagi memarahi mereka.

Anda seorang militer pak. Kenapa kok seperti orang sipil saja dalam memimpin. Orang sipil saja bisa bersikap ala militer kok jika dibutuhkan. Kapan lagi anda menunjukkan bahwa Negara ini memang masih punya pemimpin.

Sudahlah. Terlalu banyak menimbang justru anda terjebak pada ketidaktegasan anda sendiri. Terlalu banyak berkompromi justru membuat anda kehilangan makna sebagai seorang pemimpin. Terlalu banyak memikirkan perasaan orang lain justru membuat anda semakin jauh dari merasakan suasana hati rakyat yang merindukan kehadiran seorang pemimpin berkarakter dan siap menerima reksiko. Terlalu banyak meloby partai koalisi justru membuat anda semakin tidak dianggap sebagai leadernya koalisi. Maka, bertindaklah..

Golkar dan PKS sudah terang benderang tak sepaham dengan kebijakan kabinet anda yang menganggap bail out terhadap bank Century sebagai tindakan penyelamatan ekonomi dalam suasana krisi global. Tidak hanya tak sependapat, tapi bahkan menyerang dan mempermalukkan kebijakan yang anda dukung sendiri di depan public. Tidak tersentuhkan perasaan anda dengan pemandangan seperti itu? Lantas apa gunanya koalisi? Apa bedanya koalisi dengan oposisi?

Mengharapkan kedua partai itu secara kesatria untuk mundur dari koalisi ibarat pungguk merindukan bulan. Mereka tidak rela kehilangan kekuasaan meski sesungguhnya sikap itu untuk menjaga martabat mereka. Sulit mengaharapkan mereka konsisten membela kebenaran, karena justru mereka masih terlibat di dalam lingkaran yang mereka anggap jauh dari kebenaran itu sendiri. Mereka malah lebih rela menjual harga diri partai, asalkan tidak jauh dari akses kekuasaan.

Karena itu, sikap tegas andalah yang dibutuhkan. Mencampakkan kedua partai itu dari koalisi sembari membenahi konsolidasi dari partai koalisi yang tersisa. Atau anda masih tetap menginginkan kedua partai itu kedalam pelukan koalisi anda, tapi persoalan kenegaraan dan kebangsaan tidak akan pernah selesai selama anda memimpin???. Anda berkesempatan memilih teman yang segendang seirama dalam pemerintahan atau terus melibatkan partai oportunistik yang ternyata akan menjadi gunting dalam lipatan???

Baca Selengkapnya......

25 Februari 2010

SEANDAINYA SAYA AMIEN RAIS


Saya akan menundukkan kepala, bermenung, introspeksi, mempertanyakan ke diri sendiri apakah layak disebut sebagai bapak bangsa, demokrat atau bapak reformasi Indonesia. Dalam persoalan Century, ia ngakunya sebagai sesepuh PAN yang merupakan partai reformis, konsisiten sebagai pembela kebenaran. Nyatanya, pandangan akhir fraksi PAN malah tidak menyebut nama siapa yang bersalah dalam kebijakan tersebut. Parahnya. Fraksi ini malah memaklumi kebijakan bail out untuk penyelamatan bank century dengan alasan menhindari dampak krisis global. So, Amien merasa dirinya di khianati???.


Sebelumnya, di hadapan tim 9 Pansus Century, ia mendukung kerja Pansus dan juga mendukung agar Pansus menunjuk hidung langsung siapa yang bertanggung jawab atas kebijakan tersebut. Jauh sebelumnya, ia malah menghimbau Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani mundur dari jabatan selama proses pemeriksaan oleh Pansus DPR tentant Bank Centruy. Nyatanya, ia malah di telikung sendiri oleh kader yang selama ini dibanggakannya, Hatta Rajasa.

Amin rais memang berjasa besar bagi lahirnya reformasi di Negara ini. Ia berjasa besar menumbangkan pemerintahan Orde Baru, di saat yang lainnya masih tiarap karena ketakutan akibat sikap dictator Soeharto. Tapi itu cerita dulu. Tapi kini jauh berbeda. Mari kita simak satu persatu kesalahan-kesalahan mantan Ketua umum PP Muhammadiyah ini.

Pertama, keputusannya mendukung Hatta Rajasa untuk duduk di kursi ketua umum PAN menggantikan Sutrisno Bachir. Bagaimana mungkin, sosok yang selama ini dikenal kritis dan selalu mengambil jarak dengan pemerintah malah menempatkan orang kepercayaan SBY, Hatta Rajasa untuk duduk di kursi Ketua Umum PAN. Bagaimana agenda idealism seorang Amin Rais bisa berjalan dan terwujud jika partai yang dibentuknya dipimpin oleh orang dekat penguasa Negara. Dan yang lebih ironis lagi, bagaimana mungkin ia menyandingkan Drajad Wibowo duduk sebagai Wakil Ketua Umum PAN mendampingi Hatta Rajasa.

Sadarkah Amin Rais, bahwa dradjad dan Hatta selama ini selalu berbeda pandangan dalam menyikapi kebijakan pemerintahan SBY. Hatta adalah orang kepercayaan dan ketua tim sukses SBY Budiono, sementara Hatta Rajasa dari dulu dikenal kritis selalu menentang banyak kebijakan ekonomi pemerintahan SBY yang lebih condong berbau neo liberal. Bagaiamana mungkin menyandingkan dua orang yang punya latar belakang dan pola berfikir berbeda ke dalam satu nakhoda bernama PAN. Sadarkah Amin Rais, bahwa keinginannya itu akan bisa menjadi pemicu lahirnya perpecahan dan perbedaan pandangan. Bagaimana mungkin partai bisa solid jika dua pucuk pimpinannya punya pola berfikir yang berbeda.

Dalam konteks ini, kita bisa memaklumi bagaimana selanjutnya pandangan akhir fraksi PAN yang dibacakan beberapa hari lalu justru mendukung kebijakan pemerintah, sementara pandangan yang berbeda justru lahir dari Amin Rais dan Dradjad Wibowo yang selama ini justru menentang habis kebijakan tersebut.

Kedua, kesalahan Amin rais adalah pada saat menempatkan Sutrisno Bachir sebagai ketua Umum PAN menggantikan dirinya. Nyatanya, selain gagal membawa PAN sebagai partai intelektual dan reformis, PAN malah lebih dikenal sebagai partai artis nasional, yang coraknya jauh berbeda dari para pendirinya. Sutrisno Bachir, muncul ke permukaan ujug-ujug karena memang didukung oleh Amin rais. Kekuatan modal yang dimiliki Sutrisno Bachir menjadi modal besar yang membuat amin rais merasa perlu mendukungnya. Namun, Sutrisno Bachir bukanlah sosok politisi intelektual yang mengedepankan konsep pembangunan partai yang pro rakyat, namun lebih mendekati sosok selebriti yang berharap bisa meraup massa sebanyak mungkin dengan cara apapun.
Salah satunya adalah menggaet banyak artis yang belum tentu punya kemampuan mumpuni. Banyak kader-kader potensial yang akhirnya malah tak terlihat. Amin rais baru menyadari kesalahannya ini belakangan dan hingga akhirnya ia masih harus mengintervensi partai untuk mendukung Hatta Rajasa, meskipun cara seperti ini banyak di tentang banya orang karena di anggap tidak menghargai demokratisasi partai.

Ketiga, kesalahannya adalah tindakannya yang mendukung Gus Dur duduk di kursi Presiden, lewat gerakan poros tengah yang di gagasnya pada masa itu. Menempatkan Gus Dur sebagai Presiden tentulah pilihan yang bereksiko. Tidak hanya dari dukungan politik, tapi juga dari kemampuan dan manajerial Gus Dur saat duduk di tampuk kekuasaan. Gus dur bukanlah orang yang tepat, namun terus dipaksakan untuk duduk hanya dengan alasan-alasan agar pihak lain tidak berkuasa. Sejarah membuktikan, Amin Rais sendiri yang akhirnya melengserkan Gus dur dalam melalui gerakan Parlementer. Benar-benar sebuah tindakan menjilat ludah sendiri, yang menyakitkan bagi bangsa ini, terutama para pencinta Gus Dur di seluruh negeri.

Sudahlah Amin rais. Duduk santai di rumah, lepaskanlah segala atribut yang ada. Setelah itu baru bisa bicara. Orang itu besar pada zamannya. Dulu, memang zaman membutuhkan fikiran dan tenaga anda. Tapi kini sudah selesai. Semakin tua, harusnya semakin bijak. Tapi kok sekarang tampaknya semakin kikuk. Seolah semakin latah dan semakain pikun. Gak tau, apa Karena faktor umur, atau faktor yang lain???

Baca Selengkapnya......

21 Februari 2010

Seandainya Saya SBY



Tegas dan bukan penakut. Dua sikap ini yang belum terlihat dari sosok mantan jendral ini. Melihat sekutunya di Pansus Century yang mbalelo, SBY harusnya berani mengambil sikap dan berani menanggung reksikonya. Terhadap PKS, SBY harusnya berani melapas partai ini dari koalisi. Buat apa berkoalisi kalau ternyata tak bisa sepaham. Buat apa dipertahankan koalisi kalau ternyata hanya menjadi batu ganjalan dalam setiap kebijakan ataupun keputusan pemerintah.


Tapi aneh, setidaknya hingga hari ini, SBY gak berani mendepak partai Islam ini dalam barisan koalisi. Sama halnya juga dalam menghadapi tingkah polah partai Golkar. Sudah jelas-jelas sikapnya berseberangan. Trus apa lagi yang harus dipertahankan. Buat apa koalisi kalau ternyata menikam dari belakang. Buat apa koalisi kalau ternyata kader partai itu justru berkoar-koar, mengkritik habis kebijakan pemerintah.

Tapi aneh, SBY memang aneh. Pemimpin yang dipilih oleh suara mayoritas bangsa ini kok seperti gak punya nyali untuk bersikap tegas, untuk memisahkan mana sebenarnya kawan dan mana lawan. SBY harusnya tidak takut dengan kehilangan dua partai ini, meski pada akhirnya nanti suara koalisi di parlemen tidak mencapai setengah dari total suara di lembaga legislatif itu. Modal dukungan yang besar dari rakyat harusnya bisa menjadi modal bagi SBY untuk bisa menuntaskan persoalan Century dengan segera, bukan seperti saat ini dimana pemerintahannya jadi bulan-bulanan pemberitaan di media.

Justru sikap tegas, dengan mendepak dua partai koalisi ini, SBY bakal mendapat simpati karena berani mengambil sikap dan menanggung reksiko. Rakyat pasti akan percaya bahwa ternyata SBY yang katanya peragu dan cengeng ternyata tidak terbukti. Kenapa harus takut dengan pemakzulan, karena dari sisi prosedur dalam konstitusi, jalannya sangat berliku dan sulit untuk bisa mewujudkan hal itu.

Apa lagi yang harus ditakutkan. SBY tinggal ngomong ke partai koalisi lain yang loyal dengannya, yakni PPP, PAN dan PKB untuk bisa tetap solid berkoalisi. Partai-partai ini diyakini lebih bisa diajak bekerjasama membangun pemerintahan. Selanjutnya SBY tinggal mengumumkan ke public bahwa ia melepas PKS dan Golkar dari koalisi pemerintahannya dan selanjutnya mencopot jatah 7 menteri dari kedua partai tersebut. Kalaupun ada menteri yang masih ingin bersama SBY, tinggal pastikan bahwa ia melepas baju partainya dan duduk di kabinet atas nama professional, bukan atas nama partai. Selesai persoalan.

Tapi aneh, SBY memang aneh. Terlalu kompromistis. Terlalu ragu dan tak berani mengambil reksiko. Akibatnya ya seperti ini. Partai-partai koalisinya bisa bebas “berulah”, karena menganggap SBY gak bakalan berani menegur dan memarahinya.

Ayo Pak SBY, beranilah atas nama bangsa. Rakyat tidak akan diam jika anda di makjulkan hanya karena persoalan politis seperti century ini. Yakinlah, bahwa suara elit parpol di gedung dewan belum tentu mewakili suara arus bawah. Suara para akademisi dan pengamat yang tiap hari rebutan ngomong di TV belum tentu menggambarkan suara rakyat.

Maka, Beranilah….


Baca Selengkapnya......